Lewati ke konten utama
Layanan

Deep Talk. Bukan Course.

Ini bukan kelas. Bukan sekadar ngobrol.

Ini adalah sesi mendalam untuk menentukan arah, menemukan bentuk bisnis yang tepat, dan menyusun strategi yang sudah teruji menghasilkan.

Jangan masuk ke hutan belantara tanpa bekal senter penerang yang cukup.

Mungkin Anda Berada di Salah Satu Posisi Ini

Sudah ikut banyak workshop, tapi tidak ada hasil.

Sudah mengikuti workshop bertemakan bisnis online, digital marketing, sudah mengirimkan tim belajar ke sana kemari. Tapi saat mau terapkan, semuanya tidak teratur. Tidak ada sistem yang bisa diulang.

Tim belum mampu digital marketing.

Tim ada, semangat ada. Tapi belum bisa membaca siapa audience yang benar-benar membeli. Belum tahu cara memasarkan produk secara segmented dan targeted.

Fokus cari customer baru, abaikan database lama.

Ada ribuan customer lama yang sudah pernah beli. Tapi tidak ada sistem untuk membuat mereka membeli ulang. Padahal riset Harvard Business Review jelas: mendapatkan customer baru 5 hingga 25 kali lebih mahal daripada mempertahankan yang sudah ada.

Bingung harus mulai dari mana.

Produk ada. Modal ada. Tapi takut salah langkah. Takut habis uang dan waktu untuk hal yang tidak jelas hasilnya. Mau bimbingan dari nol supaya lebih efisien daripada coba-salah sendiri.

Kalau Anda merasa: "Iya, ini saya."

Maka kisah-kisah berikut mungkin relevan untuk Anda.

Tiga Kisah Nyata, Tiga Hasil Berbeda

Bukan teori. Bukan studi kasus dari internet. Ini proses nyata yang sudah saya dampingi sendiri.

01

Pak Rafan — Bisnis Bahan Kimia Laundry

Bisnis Pak Rafan awalnya 90% offline. Menjajakan produk dari toko ke toko secara langsung. Dia sudah mengikuti banyak workshop bertemakan bisnis online dan digital marketing, bahkan mengirimkan timnya belajar ke sana kemari.

Tapi berjalan sekian tahun, hasilnya tidak kunjung datang. Ilmu sudah didapat, tapi penerapannya tidak teratur. Timnya juga belum memiliki kemampuan digital marketing yang cukup.

Dalam sesi konsultasi mendalam, saya sampekan: apa yang dilakukannya sudah benar, hanya tidak teratur. Dia belum tahu bagaimana membaca siapa audience-nya, siapa yang benar-benar membeli produknya, dan bagaimana secara segmented dan targeted memasarkan produknya.

Maka kami mulai pendampingan:

  • Menata tim minimal: tim desain, tim konten, tim CS, tim advertiser.
  • Merapihkan sosial media dan website.
  • Melatih tim sampai benar-benar memahami cara kerja internet marketing.

Hasilnya: Tidak sampai 1 tahun, market Pak Rafan berubah. Awalnya 90% offline, customer kini datang 90% dari online. Cost juga jadi efisien — tidak semua kanal marketing diiklankan, hanya yang sudah teruji menghasilkan customer.

Saya juga bantu susun konsep CRM supaya customer lama yang sudah ribuan bisa terus membeli ulang. Banyak bisnis hanya fokus membuat customer baru, tapi mengolah database yang sudah ada malah lemah.

Riset Harvard Business Review (HBR): Mendapatkan pelanggan baru (customer acquisition) biayanya 5 hingga 25 kali lipat lebih mahal daripada mempertahankan pelanggan yang sudah ada (customer retention).

Dengan kenaikan omset tersebut, Pak Rafan akhirnya melengkapi tools digital marketingnya, menghire tim yang pro di digital marketing, dan berekspansi menggunakan internet marketing lebih maksimal.

02

Pak Aldi — Bisnis Mebel, Generasi Kedua

Pak Aldi masih muda, tapi sudah memiliki keyakinan bahwa pasar tradisional yang selama ini dijalankan oleh orang tuanya ada batasnya. Dia generasi kedua bisnis. Qodarullah, belum lama Pak Aldi magang membantu ayahnya, ayahnya meninggal. Roda bisnis harus terus berputar dengan berbagai tanggung jawab pekerjaan dan beban finansialnya.

Awalnya Pak Aldi sekadar ingin belajar mengonlinekan bisnisnya. Tidak tahu harus start dari mana. Dia tahu saya memiliki keahlian di dunia online, maka meminta bantuan dan diskusi.

Bimbingan dijalankan dari nol sekali:

  • Setup akun sosial media untuk bisnis.
  • Membuat konten yang menjual.
  • Menulis caption dengan sense copywriting penjualan.
  • Membuat website.
  • Belajar pemasaran dengan iklan berbayar di Instagram dan Facebook.

Awalnya Pak Aldi menjual banyak produk sebagai tahap awal, dan saya mendukungnya. Namun berjalannya waktu, ternyata pasar mengerucut pada satu atau dua produk saja.

Berbekal split testing ini, dalam sesi diskusi, Pak Aldi memutuskan berjualan satu jenis produk saja. Dan masya Allah, produk ini berkembang pesat. Hari ini memiliki banyak mitra di kota-kota besar di Indonesia.

Hasilnya: Dari bingung harus mulai dari mana, kini punya produk unggul yang berkembang pesat dengan jaringan mitra di berbagai kota besar.

03

Pak Daud — Bisnis Fashion Konsinyasi

Pak Daud sehari-hari konsinyasi produk yang diambil dari supplier, dititipkan ke toko-toko maupun pedagang fashion di pasar. Setiap hari dia titip barang ke pedagang sambil menarik hasil penjualan yang sudah laku.

Efeknya, kadang barang yang dititipkan tidak laku dan menumpuk di gudang. Repotnya, fashion itu kalau sudah menumpuk, trend sudah habis, barang jadi susah laku.

Maka beliau menemui kami dan meminta belajar online. Pak Daud pun belajar sosial media, Meta Ads, dan membuat website. Sambil tetap konsinyasi produk ke pasar.

Alhamdulillah penjualan mulai masuk, ternyata banyak dari marketplace. Dari situ diskusi kita tajamkan: kaidah posting di marketplace, cara menyusun penawaran, live di marketplace. Berkembang sampai saat ini.

Hasilnya: Konsinyasi offline sudah tidak dijalankan lagi. Sekarang sudah menjadi toko online fashion besar. Bisa jualan dari rumah, lebih santai, dan omsetnya jauh lebih besar — berlipat ganda dibandingkan konsinyasi ke toko-toko.

Jadi, Apa Itu Deep Talk?

Deep Talk bukan sekadar ngobrol.

Ini adalah proses menyusun model bisnis, menyusun kanal pemasaran, dan A/B split testing kanal marketing sehingga bisnis benar-benar efisien dan insya Allah menghasilkan.

Ini tentang menentukan arah. Menemukan bentuk bisnis yang tepat. Bahkan bimbingan dari nol sehingga lebih efisien daripada coba-salah tanpa tahu mana yang berpotensi berhasil.

Jangan masuk ke hutan belantara tanpa bekal senter penerang yang cukup.

Yang Anda Dapatkan dari Deep Talk

Audit Model Bisnis

Memahami produk dijual ke siapa, kenapa orang harus membeli, dan apa yang membuat bisnis ini berbeda.

Susun Strategi Kanal Marketing

Menentukan kanal yang paling cocok: Meta Ads, marketplace, sosial media, atau website. Tidak semua kanal harus dipakai, hanya yang teruji menghasilkan.

A/B Split Testing

Menguji kanal marketing secara sistematis untuk menemukan apa yang benar-benar bekerja, bukan menebak.

Struktur Tim Minimal

Tim desain, konten, CS, advertiser, seperti apa yang dibutuhkan, sesuai skala bisnis Anda.

CRM & Customer Retention

Susun konsep CRM supaya customer lama terus membeli ulang. Karena merawat customer lama jauh lebih murah daripada mencari yang baru.

Pendampingan Implementasi

Tidak hanya menyusun strategi, tapi dampingi sampai sistem benar-benar berjalan. Dari nol sampai bisnis online menghasilkan.

Investasi Deep Talk Session

Selama 3 jam kita akan membahas model bisnis, strategi pemasaran, prioritas pekerjaan, sampai roadmap yang bisa langsung dijalankan.

Per Orang

Rp 3.500.000

Deep Talk selama 3 jam

Dua Orang

Rp 5.000.000

Dalam satu bisnis durasi 3 jam

Lebih Efisien Daripada Coba-Salah Sendiri.

Bukan sekadar ngobrol, tetapi menentukan arah bisnis Anda.

Bisa mulai dari nol. Bisa dari bisnis yang sudah jalan.

Yang penting: tahu arah, tahu strategi, tahu mana yang berpotensi berhasil.

Daripada habis waktu dan uang untuk trial-and-error tanpa peta, lebih baik duduk bersama, susun strategi, dan jalankan dengan senter penerang yang cukup.

Jadwalkan Deep Talk Session