Apa Itu Branding dan
Bagaimana Membangun Brand
Catatan personal saya dari workshop Bisa Bikin Brand dan sederet podcast Subiakto Priosoedarsono (Pak Bi). Brand adalah persepsi, brand adalah kebenaran baru, dan membangun brand harus dimulai dari value creation, bukan dari produk.
15
Langkah Branding Canvas
51
Tahun Pengalaman Pak Bi
6
Era Marketing (1.0 ke 6.0)
Disusun oleh Anjrah Ari Susanto
Brand Builder & Learner
Asal Usul Tulisan Ini
Dari Materi Workshop ke Artikel
Artikel ini disusun dari dua sumber utama. Pertama, materi workshop Bisa Bikin Brand yang dipandu oleh Subiakto Priosoedarsono, atau yang biasa dipanggil Pak Bi, seorang praktisi branding Indonesia dengan pengalaman 51 tahun sejak 1969. Kedua, menyimak podcast dan talkshow beliau yang beredar di YouTube dan Instagram Live, mulai dari "Brand Adalah Persepsi", "Pemahaman Branding Marketing Selling", "Jangan Tentukan Target Market", "Bedah Otak Pakar Branding 50 Tahun", "50+ Tahun Ilmu Branding Dirangkum Lengkap", "Brand Adventure Indonesia", "Mindhacking Jingle bareng Sati Subiakto", hingga "15 Langkah Magnet Brand bersama Pak Budi Isman".
Catatan penting: ini adalah interpretasi dan penulisan ulang dari materi serta apa yang Pak Bi sampaikan. Tujuannya bukan menggantikan kelasnya, melainkan membantu kita mengingat kembali prinsip-prinsip dasar yang sering terlupakan saat bicara soal brand versi beliau. Banyak kutipan dalam artikel ini diambil langsung dari materi saat beliau ngonten atau podcast, jadi gaya bahasanya kadang kasual dan ngalir seperti obrolan, sesuai aslinya.
Navigasi Cepat
Daftar Isi
- 1. Siapa Subiakto Priosoedarsono
- 2. Brand Adalah Persepsi, Bukan Merek atau Logo
- 3. Brand dalam Bisnis: Marketing, Selling, Branding
- 4. Brand Itu Bukan Logo, Slogan, atau Iklan
- 5. Teori Tiga Otak: Cara Brand Bicara ke Konsumen
- 6. Target Market vs Target Behavior
- 7. Value Creation vs Added Value
- 8. Evolusi Branding: dari Marketing 1.0 ke 6.0
- 9. Arena 1 vs Arena 2: Lompat dari Perang Produk-Harga
- 10. Storytelling, Algoritma Manusia, dan Network Effect
- 11. Jingle sebagai Mindhacking
- 12. Macam-Macam Branding
- 13. Branding Canvas: 15 Langkah Membangun Brand
- 14. Contoh Nyata dari Materi Pak Bi
- 15. Kesimpulan dan Prinsip yang Perlu Diingat
Siapa Subiakto Priosoedarsono
Subiakto Priosoedarsono, atau yang kerap disapa Pak Bi, lahir di Probolinggo tahun 1949. Karier profesionalnya dimulai dari dunia seni visual sebagai pelukis komik. Dari situ, beliau masuk ke dunia packaging sebagai Art Director di Modern Packaging selama tujuh tahun. Tahun 1976, beliau beralih ke dunia advertising dan menemukan bahwa banyak iklan yang ia buat justru membesarkan brand-brand yang ditanganinya.
Saat membahas latar belakangnya, Pak Bi sendiri menjelaskan: "Background saya adalah praktisi brand yang sudah praktek selama 51 tahun, ya. Jadi dari tahun 1969 saya sudah mengenal namanya branding berupa packaging, logo, kemudian copywriting, fotografi, dan segala macam."
Pengalaman Pak Bi sangat beragam. Mulai dari brand produk seperti obat nyamuk, permen, hingga makanan instan, sampai ke corporate dan political branding. Brand korporat yang pernah ditanganinya antara lain Kopiko, Indomie, Bank Mandiri, Bank BCA, Pertamina, Extra Joss, dan Polytron. Beliau juga pernah menangani marketing politik yang kemudian membawa SBY-JK menjadi Presiden dan Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia.
Pak Bi mulai membantu UKM sejak 2014, ketika digital disruption masuk ke Indonesia. Beliau menutup usaha agencynya dan mulai menggarap teman-teman UKM. Awalnya workshop beliau gratis, keliling sampai ke Manado. Tapi beliau sadar, "ketika dikasih gratis, itu nggak ada komitmen. Jadi lagi ngomong enak-enak gitu, 'Maaf, Pak.' Kenapa? Saya mau ada rapat RT. Konten gue kalah sama rapat RT." Sejak itu workshop beliau dibuat berbayar, lalu dirangkum jadi buku dan podcast agar ilmunya menyebar lebih luas.
Filosofi yang sering beliau tekankan: setiap nama berhak menjadi brand.
"Setiap Nama Berhak Menjadi Brand."
- Subiakto Priosoedarsono
Brand Adalah Persepsi, Bukan Merek atau Logo
Ini adalah pesan yang paling sering diulang Pak Bi di setiap podcast. Banyak mastah zaman sekarang, kata beliau, mengatakan brand adalah merek. Padahal brand bukan merek. Ada yang mengatakan brand itu logo, padahal brand bukan logo. Ada yang mengatakan brand itu nama. Brand bukan nama. Brand itu adalah persepsi.
Untuk menjelaskan, Pak Bi memakai analogi yang sangat sederhana: lempar bola ke tembok. Lemparan itu disebut stimulan atau umpan. Pantulan itu disebut persepsi. Kalau kita lempar dengan informasi, pasti muncul persepsi. Kalau kita lempar dengan branding, maka pantulan itulah yang kita sebut brand.
"Brand itu adalah pantulan dari apapun yang kita lakukan. Karena branding tidak cuma iklan, branding tidak cuma logo, branding tidak cuma nama, branding tidak cuma merek, branding tidak cuma packaging, branding tidak cuma billboard. Branding itu bisa berupa apa saja yang kita lakukan yang menimbulkan persepsi."
- Subiakto Priosoedarsono, saat membahas "Brand Adalah Persepsi"
Karena brand adalah persepsi, branding bisa berupa apa saja. Kalau Pak Bi ingin dipersepsikan orang yang ramah, maka sepanjang bicara beliau harus senyum. "Wah, Pak Bi orangnya ramah, ya. Karena apa? Karena diumpannya dengan senyum." Tapi beliau juga ingatkan, senyuman bisa berupa pencitraan, seolah-olah ramah padahal tidak. Di sinilah letak bahaya branding: melalui pencitraan bisa tercipta branding, tapi juga bisa tercipta manipulasi.
Contoh favorit Pak Bi untuk menjelaskan persepsi adalah tagline Kopiko: "Kopiko gantinya ngopi." Dengan tagline ini, beliau membangun persepsi di otak konsumen bahwa meskipun barangnya permen, ini dipersepsikan dan diterima sebagai gantinya ngopi. Bukan gantinya kopi, tapi gantinya ngopi, aktivitasnya. Itulah persepsi.
Pelajaran Inti
Brand bukan apa yang Anda tempel di produk. Brand adalah apa yang pantul kembali ke benak konsumen dari semua yang Anda lakukan. Karena itu, setiap hal yang Anda lakukan, dari produk, pelayanan, konten, hingga senyuman, semuanya ikut membangun atau merusak brand.
Brand dalam Bisnis: Beda Marketing, Selling, dan Branding
Pak Bi sering menyederhanakan perbedaan tiga fungsi ini. Pemahaman dasar ini penting karena banyak pelaku usaha menyamakan ketiganya. Ketika membahas "Pemahaman Branding Marketing Selling", beliau menjelaskan dengan cerita langsung dari pengalamannya di Sakura Film.
Selling
Demand fulfillment. Selling adalah instrumen untuk mendapatkan cash cepat. Mengandalkan hadiah, diskon, cashback, atau cicilan. Setiap stok habis, bisnis selesai, lalu diulang lagi. "Selling tiada henti."
Marketing
Demand creation. Marketing membuat bisnis berkelanjutan. Tapi konsep marketing tetap menawarkan: punya barang, barang mendatangi konsumen untuk ditawarkan. Biayanya besar. Marketing mengenal marketing cost, bukan marketing investment.
Branding
Demand retention. Branding membuat konsumen datang sendiri karena penasaran. Tidak menawarkan, tapi menarik. Branding mengenal brand aset, bukan brand expenses. Berapa pun yang ditaruh, bisa diambil kembali.
Inti perbedaan selling dan branding, menurut Pak Bi: "Konsep marketing itu adalah punya barang, barangnya mendatangi konsumen untuk ditawarkan. Jadi biayanya besar. Sementara branding itu konsepnya adalah punya barang, terus membuat konsumen datang untuk membeli."
Dan yang lebih tajam lagi: "Kalau ditawarkan, kan menawarkan itu satu dari sekian ribu barang. Tapi kalau menarik itu kan hanya satu yang kita tarik. Persepsi doang."
Studi Kasus: Sakura Film dan Kamera Vinon
Sakura Film dulu adalah maklun film kamera dari Jepang. Setiap 100.000 pcs datang, dijual pakai program selling: 1 kg emas setiap 3 bulan. Begitu terus, dari selling ke selling ke selling. Lalu Pak Bi disuruh jual 10.000 kamera Vinon asal Cina. Daripada pakai hadiah emas, beliau pakai copywriting repetition dengan Pak Bagio dan Mbak Ester, sengaja salah ngomong "vinon, bukan pinon" berkali-kali supaya orang mengoreksi dan ingat. Hasilnya, 10.000 kamera habis dalam 1 minggu, bukan 3 bulan.
Dari situ Sakura Film sadar: tanpa hadiah 1 kg emas pun bisa laku. Lalu Pak Bi bikin kampanye branding "Sakura Film dari Sabang sampai Merauke", isinya cuma mengulang merek dengan logat berbeda-beda per suku bangsa. Tanpa sadar, ini masuk ke influencing spirit subkultur. Market share yang tadinya 70% Fuji Film dan 30% Sakura Film, berbalik menjadi 70% Sakura Film dan 30% Fuji Film.
"Kampanye branding melahirkan pelanggan," kata Pak Bi. "Sementara film itu kan kameranya satu, orang punya kamera satu, tapi diisi film terus kan." Itulah kekuatan branding di kategori repeat purchase.
Perbedaan ini bukan teori kosong. Dalam dunia investasi dan akuisisi, nilai brand bisa jauh melampaui nilai pabrik, mesin, atau gedung. Pak Bi sering mengutip kasus Budi Satria Isman saat mengakuisisi Sari Husada pada 2004 senilai 4 triliun. Dari total itu, 1 triliun untuk tangible asset dan 3 triliun untuk intangible asset berupa brand seperti SGM Aktif, SGM Eksplor, Lactamil, SGM Bunda, dan Vitalac.
Dua tahun kemudian, Sari Husada dijual ke Danone senilai 22 triliun. Dari jumlah itu, 2 triliun untuk tangible asset dan 20 triliun untuk intangible asset yang sama. Artinya, dalam dua tahun, nilai brand jauh lebih dominan daripada aset fisik.
Studi Kasus: Rolex dan Konstruksi Harga Berbrand
Pak Bi sering memamerkan jam Rolex-nya untuk menjelaskan konstruksi harga. Harga produk normal terdiri dari HPP (harga beli) ditambah ongkos operasional, lalu profit. Misal HPP 5.000, operasional 5.000, profit 5.000, jadi harga jual 15.000. Tapi kalau ada unsur brand, muncul unsur value. Konsumen bersedia tidak hanya bayar produk, operasional, dan profit, tapi ditambah bayar value. Itulah kenapa Rolex bisa dijual puluhan juta. Bukan karena emasnya, tapi karena brand-nya.
Pelajaran Inti
Brand adalah aset tidak berwujud yang bisa bernilai puluhan kali lipat dibandingkan aset fisik. Selling hanya menghasilkan cash cepat yang harus diulang terus. Branding menghasilkan pelanggan yang datang sendiri dan bersedia membayar value, bukan hanya produk.
Brand Itu Bukan Logo, Slogan, atau Iklan
Salah satu pesan paling kuat dari Pak Bi adalah tentang apa yang bukan brand. Banyak orang, termasuk pemilik usaha, mengira brand adalah logo yang bagus, slogan yang catchy, iklan yang banyak, atau kemasan yang mahal. Menurut Pak Bi, itu semua adalah alat komunikasi, bukan brand itu sendiri.
Di podcast "Magnet Branding", Pak Bi menjelaskan dengan tegas: "Kalau merek sama logo itu identitas produk. Jadi kalau punya produk, identitasnya itu logo itu. Sementara brand adalah value-nya. Identitas dari sebuah value itu merek. Tapi kalau merek itu tidak punya value, maka dia hanya identitas produknya aja. Sekadar ditempelin di produknya."
Lebih lanjut beliau memberi rumus yang mudah diingat: Brand itu nama plus makna. "Jadi kalau seorang Helmi, kemudian saya memiliki makna tertentu buat saya, maka Anda adalah brand buat saya. Banyak kan merek-merek di luar sana yang kita lihat, karena nggak ada makna apa-apa buat saya, akhirnya ya menjadi tidak menjadi bukan brand. Karena ikatan emosi nggak ada, perhatian nggak ada, rasa senang juga nggak ada."
- Brand bukan Merek. Merek adalah nama. Brand adalah persepsi dan ikatan yang timbul dari nama itu.
- Brand bukan Logo. Logo adalah tanda visual. Brand adalah makna yang melekat saat orang melihat tanda itu.
- Brand bukan Iklan. Iklan adalah alat menyebarkan pesan. Brand adalah hubungan yang terbentuk setelah pesan itu dirasakan.
- Brand bukan Slogan. Slogan adalah kalimat pendek. Brand adalah keyakinan yang tercipta dari konsistensi kalimat dan tindakan.
- Brand bukan Packaging. Packaging adalah wadah fisik. Brand adalah pengalaman yang muncul saat membuka wadah itu.
Analogi Polisi dan Baju Dinas
Untuk memperjelas, di slide Pak Bi ada analogi yang sangat membantu: brand bukan logo, dan logo bukan brand. Seorang polisi butuh baju dinas untuk menjalankan tugas. Tetapi baju dinas itu bukan polisi. Yang polisi itu ya orangnya.
Sebaliknya, kalau ada orang pakai kaos singlet terus mengatur lalu lintas di persimpangan, ya bisa dianggap orang gila. Baju dinas tanpa orang yang tepat tidak ada artinya. Orang yang tepat tanpa baju dinas juga tidak akan dikenali. Logo itu baju dinas-nya. Brand itu orangnya, lengkap dengan kewibawaan, kepercayaan, dan nilai yang dibawa.
Analogi Gunung Es
Pak Bi sering mengibaratkan brand seperti gunung es. Yang nampak di permukaan air itu kecil: logo, slogan, merek, dan produknya itu sendiri. Itulah bagian yang sering disangka orang sebagai brand.
Padahal, bagian yang tidak terlihat, yang terendam di bawah air, jauh lebih besar. Itulah brand. Ikatan emosi, persepsi, value, pengalaman, kepercayaan, kredibilitas, loyalitas, semua itu ada di bawah permukaan. Yang terlihat hanya puncaknya saja.
Definisi yang sering beliau ulang: brand adalah ikatan emosi antara produk dengan konsumen. Titik kritisnya adalah seberapa besar brand bisa menciptakan nilai yang kontekstual. Artinya, brand harus memberikan makna yang relevan bagi kehidupan konsumen, bukan sekadar eksis di pasar.
Pak Bi juga membedakan fungsi produk dan fungsi brand secara sederhana:
Produk
Memberi manfaat fisik.
Contoh: sepeda motor.
Merek
Nama pada manfaat fisik.
Contoh: Harley-Davidson.
Logo
Tanda atas manfaat fisik.
Contoh: logo Harley.
Brand
Sudah terjalin ikatan emosi.
Orang sampai tatto logo di badan, pakai baju Harley, dan menjalankan nilai freedom.
Studi Kasus: Harley-Davidson
Menurut Pak Bi, Harley-Davidson bukan lagi bicara sepeda motor. Harley bicara freedom. Buktinya, Harley-Davidson tidak pasang iklan. Lalu bagaimana mereka membangun brand?
Salah satu cara paling ikonik: suara knalpot Harley dipatenkan secara internasional. Jadi, begitu ada motor lewat dengan suara khas itu, orang langsung tahu itu Harley, tanpa perlu melihat logo. Itulah brand yang masuk lewat memori dan habit, bukan lewat iklan.
Inilah yang membedakan brand dari produk, merek, dan logo. Produk memberi manfaat fisik. Merek dan logo memberi identitas. Brand memberi manfaat emosional dan nilai tambah, sampai konsumen rela menato logonya di tubuh dan menghidupkan nilai yang dibawa brand dalam keseharian mereka.
"Produk memberi manfaat fisik."
- Subiakto Priosoedarsono
"Brand memberi manfaat emosional."
- Subiakto Priosoedarsono
"Brand memberi nilai tambah. Komoditas dikasih brand, jadi selisih harga yang banyak."
- Subiakto Priosoedarsono
"Your Brand is the single most important investment you can make in your business."
Terjemahan: Brand Anda adalah investasi paling penting yang bisa Anda lakukan dalam bisnis Anda.
- Steve Forbes
Pak Bi sejalan dengan pernyataan Steve Forbes ini. Brand bukan biaya, brand adalah investasi. Seperti yang beliau katakan di materi "50+ Tahun Ilmu Branding": "Marketing hanya mengenal marketing cost, tapi nggak kenal namanya marketing investment. Jadi berapa pun yang Anda buang, itu hilang. Kalau branding, Anda nggak kenal namanya brand expenses. Anda cuma kenal brand aset. Berapa pun yang Anda taruh, akan bisa diambil kembali."
"Brands are born of experience and reflect trust."
Terjemahan: Brand lahir dari pengalaman dan mencerminkan kepercayaan.
Inilah kenapa pengalaman pertama konsumen sangat menentukan. Brand tidak lahir dari iklan, brand lahir dari pengalaman menggunakan. Dan brand bukan harga mati. Brand bisa naik, bisa turun, tergantung interaksi konsumen dengan brand tersebut. Pak Bi memetakan ini ke dalam Brand Heaven dan Brand Hell.
Brand Heaven
- Interaksi positif
- Kredibilitas, ahlinya
- Konsisten
- Perpercaya
- Pengalaman pertama baik
- Loyalitas: pelanggan loyal
Brand Hell
- Interaksi negatif
- Tidak percaya
- Tidak konsisten
- Tidak ahli
- Tidak kredibel
- Tidak loyal
Satu interaksi positif saja belum cukup. Yang membawa ke Brand Heaven adalah konsistensi. Sebaliknya, satu interaksi negatif yang berulang bisa menyeret brand ke Brand Hell. Itulah kenapa brand disebut tidak harga mati: setiap interaksi konsumen bisa menaikkan atau menurunkan nilainya.
Nilai yang Dibawa Brand
Brand yang kuat tidak hanya membawa manfaat fisik dan emosional, tapi juga nilai-nilai yang lebih dalam. Pak Bi menyebut empat nilai utama yang bisa dibawa brand:
Morality
Moralitas, etika
Creativity
Kreativitas
Problem Solving
Pemecahan masalah
Acceptance
Penerimaan, rasa diterima
Inilah yang membuat konsumen tidak hanya membeli, tapi merasa menjadi bagian dari brand. Mereka membeli nilai, bukan sekadar produk.
Marketing Hierarchy of Need
Pak Bi juga mengadaptasi piramida Maslow ke dalam Marketing Hierarchy of Need. Piramida ini menjelaskan di level mana brand Anda bermain, dan apa yang harus disampaikan ke konsumen di setiap level:
Physiological - Hal-hal kecil
Makanan, air, napas. "If you don't have these you will die." Brand di sini cukup menyediakan kebutuhan dasar.
Safety - Kita bisa bantu
Asuransi, karier, kesehatan, keamanan finansial. "World collapsing." Brand di sini menawarkan rasa aman.
Love / Belonging - Fear Of Missing Out (FOMO)
Persahabatan, keluarga, peer group. Handphone, restoran, pakaian desainer. Brand di sini membuat orang takut ketinggalan.
Esteem - Make them keep up with you, be the Jones
Mobil, furniture, real estate. Self esteem, confidence, achievements, respect from others. Brand di sini membuat orang ingin mengejar.
Self Actualization - Well, look at you
Puncak piramida. "You are probably beyond marketing. Congratulations." Di sini konsumen sudah tidak terpengaruh marketing biasa. Mereka membeli karena nilai brand yang sejalan dengan jati diri mereka.
Pertanyaan kunci untuk brand Anda: di level mana Anda bermain? Semakin ke atas piramida, semakin besar nilai emosional yang harus dibawa brand, dan semakin sulit ditiru pesaing.
"Brand adalah ikatan emosi antara produk Anda dengan konsumen, di mana titik kritisnya terletak seberapa Anda bisa menciptakan NILAI yang kontekstual."
- Subiakto Priosoedarsono
Beliau juga membedakan brand dengan huruf kecil dan brand dengan capital B. Brand huruf kecil adalah merek, logo, dan identitas produk. Brand dengan capital B adalah love mark, tanda cinta, ikatan emosi. "Product made in the factory, but brand is created in the mind," kata Pak Bi mengutip Walter Landor. Brand tidak dibuat di pabrik, brand diciptakan di benak konsumen.
Teori Tiga Otak: Cara Brand Bicara ke Konsumen
Karena brand adalah persepsi yang ada di benak konsumen, Pak Bi menekankan pentingnya memahami cara kerja otak. Beliau merujuk pada Triune Brain Theory (teori tiga otak) yang membagi otak manusia menjadi tiga:
Otak Lizard
Otak kadal. Kalau dapat serangan, reaksinya freeze, melawan, atau kabur. Bagian primal, kekeh pada kebiasaan.
Otak Human
Fokus pada alasan dan masuk akal. Inilah otak yang dipakai bos saat dilapori bawahan: "Alasan kamu apa? Masuk akal nggak?"
Otak Mamal
Otak mamalia yang ngambil keputusan, bekerja di bawah sadar. Inilah otak yang harus kita bidik.
Meskipun otak lizard menolak dan otak human minta alasan, otak mamal-lah yang memutuskan. Otak mamal mengambil keputusan berdasarkan tiga hal: emosi, memori, dan habit. Jadi, kata Pak Bi, kalau mau bicara ke otak mamal, gunakan tiga pendekatan: komunikasi yang emosional, komunikasi yang membangkitkan memori, dan komunikasi yang memenuhi habit.
Inilah kenapa jingle, tagline, dan storytelling bekerja. Mereka tidak masuk lewat alasan (otak human), tapi lewat emosi dan memori (otak mamal). Sejak masuk brand communication tahun 1978, Pak Bi selalu memanfaatkan tiga pendekatan ini.
"Kalau Anda mau bicara sama otak mamal, maka gunakanlah tiga pendekatan ini: komunikasi yang emosional, komunikasi yang membangkitkan memori, dan komunikasi yang memenuhi habit."
- Subiakto Priosoedarsono, saat membahas "Brand Adalah Persepsi"
Target Market vs Target Behavior
Salah satu pemikiran Pak Bi yang paling sering memantik perdebatan adalah: "Kalau mau bisnisnya sukses, jangan tentukan target market." Banyak yang salah paham. Yang beliau maksud bukan "jangan punya target sama sekali", tapi berhenti fokus pada produk dan demografi, mulailah fokus pada perilaku konsumen.
Sejak awal 1990-an, pasar sudah bergeser. Kalau dulu jualan produk masih jadi daya tarik untuk call to action, sejak 1990-an daya tariknya bergeser ke perilaku. Pertanyaannya bukan "produk ini dijual ke siapa", tapi "apakah produk ini sesuai dengan perilaku saya?".
"Kopiko itu, instead of saya jualan permen rasa kopi, saya jualan habit dari konsumennya. Karena habit konsumen itu ngopi. Ngopi itu dikaitkan dengan ngantuk. Nah, ngantuk itu habit juga. Karena tiada hari manusia itu tanpa ngantuk. Kalau mau dikonsumsi tiap hari, kaitkanlah produk Anda dengan perilaku konsumen setiap hari. Atau sering saya bilang, ritual hariannya konsumen."
- Subiakto Priosoedarsono, saat membahas "Jangan Tentukan Target Market"
Pak Bi lalu menjelaskan apa itu ritual harian konsumen: bangun tidur, pagi-pagi ke toilet, kencing, mandi, sabunan, sarapan, sampai tidur lagi. Semua ini punya time frame masing-masing, dibentuk oleh habit. Di sinilah peluang pemasaran.
Contoh paling kuat: Unilever Indonesia sudah mengkooptasi kamar mandi. Karena perilaku mandi adalah ritual harian, Unilever masuk lewat sabun, sampo, pasta gigi, dan deodoran. Begitu juga Kopiko Ligna dengan tagline "Kalau sudah duduk lupa berdiri", mengaitkan produk dengan perilaku duduk.
Pak Bi juga mengingatkan: "Nggak cuma UMKM yang gagap. Korporat juga banyak yang gagap." Banyak yang protes, "Kalau nggak bahas produk, kita jualan produk, masa nggak bilang produknya enak? Aneh banget. Lah terus apa yang mau dijual? Masa jual janji?" Tapi justru di situlah pergeseran cara berpikir yang harus dipelajari.
Pelajaran Inti
Jangan jualan produk. Jualan perilaku. Kaitkan produk dengan ritual harian konsumen yang terjadi setiap hari tanpa kecuali. Kalau produk Anda cocok dengan habit harian, konsumen akan membelinya setiap hari tanpa perlu ditawari.
Value Creation vs Added Value
Ini adalah perbedaan mendasar yang membedakan cara berpikir brand builder dengan marketing biasa. Added value berangkat dari produk yang sudah ada, lalu disisipkan nilai tambah. Value creation berangkat dari value atau outcome yang diinginkan, baru produk dibuat untuk mewujudkan value itu. Urutannya dibalik.
Pak Bi menegaskan: "Saya sarankan kalau mulai bisnis, mulailah dengan value creation, baru bikin produknya. Jangan bikin produk lalu inject value-nya ke dalamnya. Produk itu mengikuti value yang ditetapkan. Tentukan value-nya dulu. Jangan produknya dulu. Kalau Anda menentukan produknya dulu, menjadi marketing cost, uang hilang. Tapi kalau tentukan value-nya dulu, menjadi brand, menjadi aset."
Studi Kasus: Kopiko Lahir dari Value Creation
Kopiko lahir bukan dari produk yang sudah ada, tapi dari value "gantinya ngopi". Pak Bi membayangkan dulu outcome-nya: orang Madura ngopi tiga kali sehari, jadi kalau ada permen yang menggantikan ngopi, dia akan dikonsumsi tiga kali sehari. "Kognitifnya udah ada, tapi barangnya belum ada. Baru mau dibikin. Nah itu dasar pemikirannya Kopiko dulu waktu saya bikinnya itu."
Baru setelah value ditetapkan, beliau reverse engineer ke produk. Ada 8 toples formula yang dicoba dalam food testing, akhirnya dipilih nomor 6. Nama "Kopiko" sendiri diambil dari bahasa Madura: orang Madura kalau bilang kopi ya kopi, tapi kalau permen rasa kopi bilangnya pikopi. Pak Bi balik jadi Kopiko supaya nggak diprotes orang Madura.
Saat diuji lewat FGD (Focus Group Discussion), konsep ini ditolak. Tapi Pak Bi bertaruh dalam 3 bulan, dan ternyata berhasil. "FGD itu memotret peristiwa hari ini berdasarkan pengalaman masa lalu. Sedangkan Kopiko dibikin untuk masa depan. Bagaimana Anda bisa mengukur masa depan dengan masa lalu?"
Pak Bi juga membedakan cara pandang being dan becoming. Marketing melihat produk sebagai being, yaitu apa adanya saat ini. Branding melihat produk sebagai becoming, yaitu bagaimana produk membuat konsumen menjadi lebih baik. Pertanyaan kunci yang harus dijawab brand: "Am I a better person dengan produk ini?"
Itulah kenapa anak sekarang bilang self-reward. Pulang kantor nggak langsung pulang, mampir di kafe. Bukan untuk minum kopi, tapi untuk self-reward. Konsumen mencari makanan bukan mau makan, tapi mau meringankan beban lapar. Itu yang dilupakan orang.
"Marketing hanya mengenal marketing cost, tapi nggak kenal namanya marketing investment. Jadi berapa pun yang Anda buang, itu hilang. Kalau branding, Anda nggak kenal namanya brand expenses. Anda cuma kenal brand aset. Berapa pun yang Anda taruh, akan bisa diambil kembali."
- Subiakto Priosoedarsono, saat membahas "50+ Tahun Ilmu Branding"
Evolusi Branding: dari Marketing 1.0 ke 6.0
Pak Bi menjelaskan bahwa pengertian brand itu tergantung era. Yang benar di era 1.0 belum tentu benar di era 6.0. Karena itu, sebelum berdebat soal brand, kita harus tahu dulu sedang bicara brand versi berapa.
Marketing 1.0 - Identitas Produk
Brand sebagai logo, merek, label. Sebuah produk dikasih label, itulah brand. "Barang siapa masih mengatakan, 'Logo saya artinya logo di produk saya, itu adalah brand', itu marketing 1.0."
Marketing 2.0 - Value
Tahun 80-an, konsumen menuntut value. "Logonya A, misalnya. Produknya A. Terus manfaatnya buat gue apa?"
Marketing 3.0 - Humanized / Identitas
Value saja nggak cukup. Brand harus human. "Kalau bisnis itu menjelekkan orang lain, itu tidak etis." Brand menunjukkan identitas orang yang memakainya.
Marketing 4.0 - Engagement
Era sosial media. "Kalau engage, kalau teman, gue beli. Kalau gue kenal lo, lo kenal gue, gue beli. Tapi kalau kita nggak saling kenal, ngapain gue beli?"
Marketing 5.0 - Algoritma
Sosial media mengumpulkan data, gaya hidup orang tercatat. Produk disesuaikan dengan kebiasaan algoritma itu.
Marketing 6.0 - Immersive & Personalized
Dikuasai Gen Z yang menuntut immersive. Kumpulnya offline, tapi bayarnya masing-masing lewat handphone. Menu gue, gue yang order, langsung bayar di situ.
Di era 6.0 ini, Pak Bi merumuskan: "Brand membuat kebiasaan baru. Kebiasaan membuat ritual baru. Ritual baru akhirnya membuat algoritma baru." Kalau produk kita sudah menjadi algoritma Agus, suatu hari nggak ada barang itu, ada yang salah dengan hidup kita. Itulah brand yang sesungguhnya.
Lebih radikal lagi, beliau menyebut brand itu kebenaran baru. "Menunjukkan produk sebagai fakta, itu udah kuno. Sekarang jangan produknya yang ditunjukin. Tapi kebenaran barunya yang ditunjukin." Cukup kognitif saja: lihat, rasakan, maknanya, perannya. Meskipun tidak meraba barangnya, bahkan bisa membuat fakta baru.
Arena 1 vs Arena 2: Lompat dari Perang Produk-Harga
Pak Bi memetakan persaingan bisnis ke dalam dua arena. Arena 1 adalah persaingan produk dan harga. Semua bisnis, UKM maupun korporat, awalnya masuk ke sini. Kalau produknya nggak diinovasi, harganya diturunin. Cuma itu yang dimainkan. Karena saking sering ketemunya begitu, jadi hafal. Inilah red ocean.
Arena 2 adalah persaingan yang dibangun lewat time and know-how. Di sinilah brand bermain. Pak Bi menyebut langkahnya "live rock, lompat katak", meninggalkan arena 1 dan masuk ke arena 2.
Time
Lebaran, tahun baru, Jumatan, kebiasaan harian. Dari bangun tidur, kamar mandi, sarapan, sampai tidur lagi. Semua punya time frame yang dibentuk habit. Di sinilah peluang pemasaran.
Know-How
Keahlian dan cara yang sulit ditiru. Bukan sekadar produk, tapi cara produk itu mengubah perilaku konsumen.
Contoh sederhana dari Pak Bi: "Bangun tidur itu sudah kesempatan pemasaran. Karena semua orang bangun tidur itu mulutnya bau. Kenapa repot-repot nyari segala macam yang aneh-aneh kalau Tuhan sudah menyediakan peluang pemasaran seperti itu? Bikinlah semprotan mulut buat bangun pagi. Kasih mereknya Good Morning."
Itulah value creation. Berangkat dari ide dan nama dulu, baru bikin produknya. Bukan sebaliknya.
Pelajaran Inti
Jangan terjebak di arena 1, perang produk dan harga. Lompat ke arena 2 dengan time and know-how. Cari peluang dari kebiasaan manusia yang sudah ada, jangan cari yang aneh-aneh. Tuhan sudah menyediakan peluang pemasaran lewat ritual harian.
Storytelling, Algoritma Manusia, dan Network Effect
Di era konten dan sosial media, Pak Bi menekankan perbedaan storytelling dan telling story. "Kalau telling story itu tidak berkesan apa-apa buat konsumennya. Tapi kalau storytelling, meninggalkan kesan. Dan kesannya itu adalah paradoks. Beli atau nggak beli. Beli sekarang atau beli nanti."
Untuk membuat konten yang meninggalkan kesan, Pak Bi menyarankan kita memanfaatkan algoritma manusia yang sudah ada. Algoritma manusia itu: takut kehilangan, was-was, kalau kejadian marah, surprise, dan kasmaran. Itu yang dimainkan.
Cara Memainkan Algoritma Manusia
Mulai dengan algoritma was-was, jawabannya surprise. Ujungnya jadi kasmaran. Contoh: orang takut kehilangan kesempatan. Kalau kesempatan ditunda sehari, jadi surprise. Kalau dikasih peluang sehari lagi, jadi kasmaran. Itu yang dimainkan di konten.
Selain itu, gunakan paradoks. Kalau Pak Bi bilang black, audiens membayangkan putih. Kalau bilang besar, membayangkan kecil. Kalau bilang duduk, membayangkan berdiri. Tinggal kita bikin di mana pain point-nya. Apa yang menyakitkan di putih, apa yang menyakitkan di hitam. Itu akan menimbulkan interest orang.
Soal viral, Pak Bi sangat tegas. Viral bukan tujuan. Yang dituju lewat viral adalah network effect. "Viral kalau tidak mengandung network effect, ya nggak ada hasilnya. Tujuannya jangan ke viralnya, ke network effect-nya. Efek apa yang diharapkan dari konten ini."
Jadi nggak ada gunanya 1 juta views tapi nggak ada yang peduli sama brand-nya. Mendingan 1.000 views tapi 1.000-nya itu peduli banget sama brand-nya. Konsistensi mengulik satu niche itulah yang bikin orang tertarik.
"Cerita yang punya syarat, ceritanya harus storytelling. Bukan telling story. Kalau telling story itu tidak berkesan apa-apa buat konsumennya. Tapi kalau storytelling, meninggalkan kesan."
- Subiakto Priosoedarsono, saat membahas "Bedah Otak Pakar Branding 50 Tahun"
Jingle sebagai Mindhacking
Pak Bi dan anak-anaknya (Dion, Tia, Sati) adalah tim jingle yang menangani banyak brand besar Indonesia. Bagi beliau, jingle bukan sekadar lagu pendek. Jingle adalah mindhacking, alat untuk merampas ingatan otak konsumen.
"Jingle itu seperti bel. Azan itu sebenarnya bel yang mengingatkan kita untuk salat. Begitu juga bel sekolah, bel pemadam kebakaran, bel polisi, bel ambulans. Semua itu men-trigger otak manusia untuk mengingat akan sesuatu. Kalau tidak meng-hack, maka uang Anda sia-sia."
Lagu vs Jingle
Lagu adalah ekspresi dari pengarang atau penyanyinya. Jingle membangkitkan emosi dari yang mendengarkan. Penyanyi jingle bukan mengekspresikan diri, tapi mengekspresikan suara hati si brand.
BPM (Beat Per Menit)
BPM dihitung karena berkaitan dengan neuroscience dan denyut jantung. Untuk makanan, BPM biasanya 130. Indomie fenomena: BPM-nya di 80, tapi bisa membangkitkan orang untuk makan.
Asal usul jingle sendiri, kata Pak Bi, berasal dari riset Pavlov tahun 1903 tentang refleks terkondisi. Anjing ngiler kalau lihat daging. Setelah berkali-kali bel dibunyikan sebelum dikasih makan, anjing ngiler hanya dengan dengar bel, sebelum lihat makanan. Itulah cara kerja jingle di otak konsumen.
Untuk rebranding, jingle yang sudah kuat di otak konsumen biasanya cukup di-rearrange, bukan diubah total. Kopiko, misalnya, sudah berganti pemain, agency, dan tagline, tapi lagunya tetap tidak bisa diubah karena sudah meng-hack otak konsumen.
Pelajaran Inti
Jingle bukan lagu pendek untuk mengisi slot iklan. Jingle adalah bel yang memicu ingatan dan emosi konsumen. Kalau jingle tidak meng-hack otak, uang iklan Anda sia-sia. Dan jingle yang sudah meng-hack tidak boleh diganti sembarangan saat rebranding.
Macam-Macam Branding
Menurut materi Pak Bi, branding tidak hanya untuk produk komersial. Ada banyak jenis branding, dan masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda.
1. Product Branding
Dibutuhkan saat memasarkan produk atau servis. Tujuannya membuat konsumen loyal lewat interaksi positif pada pengalaman pertama, sehingga timbul kepercayaan, kredibilitas, dan repeat purchase.
2. Personal Brand
Praktik memasarkan diri dan karier seseorang sebagai brand. Personal brand adalah ikatan emosi antara individu dengan masyarakat. Komponennya: value, skill, attitude, dan prestasi. Manfaatnya meliputi public awareness, kredibilitas, peluang menjadi pemimpin, hingga komunitas yang berkualitas.
Rumus: Personal Brand = Nama + Makna. Yang diingat orang adalah makna, reputasi, kepribadian, dan aura seseorang.
Pak Bi menjelaskan asal usul konsep ini: "Personal branding berkaitan dengan produk itu sebetulnya kuno, bukan barang baru. Jadi produk branding itu adalah kamu dalam bentuk produk. Jadi gudeg Yu Djum itu adalah Yu Djum dalam bentuk gudeg. Ayam Suharti itu adalah Suharti dalam bentuk ayam."
Tapi beliau juga ingatkan, value adalah beban. Kalau Anda pakai nama besar, harapan orang juga besar. "Values itu beban, loh. Kalau misalnya namanya Dion Subiakto, orang wah, anaknya Pak Bi ya? Iya. Berharap paling tidak 11, 12, lah. Masa anaknya Pak Bi nggak ngerti brand?"
3. Komunal Brand / Village Brand
Brand yang dimiliki oleh komunitas, mencerminkan identitas lokal, otentik, dan eksklusivitas asal. Konsepnya: The Village is the Brand. Contohnya: Gudeg Jogja, Rendang Padang, Sate Maranggi Purwakarta, Asinan Bogor, Nasi Jamblang Cirebon, Batik Cirebon, hingga Rawon Nguling.
4. Event Branding
Lebih dari menempel logo di backdrop. Event branding adalah menciptakan pengalaman unik bagi hadirin agar brand aktif di benak mereka. Sering berhubungan dengan city branding dan country branding, serta bisa digunakan untuk co-branding.
5. City Branding dan Country Branding
Upaya mengubah sebuah kota dari sekadar lokasi menjadi destinasi yang diinginkan untuk tinggal, bekerja, atau berkunjung. City branding bukan tugas pemerintah semata, melainkan kolaborasi semua stakeholder: pemerintah, swasta, pengusaha, komunitas, dan masyarakat.
Branding Canvas: 15 Langkah Membangun Brand
Inti dari materi Pak Bi adalah Branding Canvas, yaitu 15 langkah sistematis untuk membangun brand. Setiap langkah saling berkaitan. Jika salah satu dilewatkan, brand yang dibangun cenderung rapuh. Framework ini juga diperdalam lewat diskusi Pak Bi dengan Pak Budi Isman di podcast "15 Langkah Magnet Brand", di mana beliau menambahkan konsep adoption category dan influencing space.
Sebelum masuk ke 15 langkah, ada tiga konsep yang perlu dipegang. Pertama, Marketing itu demand creation, Selling itu demand fulfillment, Branding itu demand retention. Kedua, Branding start when selling stop. Ketiga, Perception is reality: walaupun tangible-nya merah, kalau persepsi kita biru, kita bilang itu biru.
Product
Produk adalah barang atau servis yang ditawarkan untuk dijual. Bisa berupa fisik, virtual, atau digital. Sebuah produk harus memiliki manfaat fisik yang jelas. Konsumen harus tahu mengapa mereka harus menggunakannya, manfaat apa yang didapat, dan perbedaan yang dirasakan dalam hidup mereka. Contoh dari materi: Kopi Permen Kopiko.
Market Category
Pasar dengan cepat memasukkan produk kita ke dalam kategori yang mereka ciptakan. Semakin generik kategorinya, semakin banyak pesaing. Kategori tingkat pertama sangat generik. Kategori tingkat kedua lebih spesifik. Kategori tingkat ketiga lebih tajam, tetapi ancaman red ocean dan perang harga masih ada. Oleh karena itu, lebih baik menciptakan kategori baru yang monopolistik.
Competitors
Daftar pesaing dalam setiap tingkat kategori akan berbeda. Di kategori generik, pesaing sangat banyak. Di kategori spesifik, pesaing lebih sedikit tetapi keunikan masing-masing semakin nyata. Tujuannya bukan sekadar mengalahkan pesaing, tetapi memahami celah yang memungkinkan kita membuat kategori baru.
Segmenting
Segmentasi adalah pemilahan pasar berdasarkan kebutuhan, keinginan, dan karakteristik yang berbeda. Segmentasi yang baik memudahkan merancang marketing mix yang tepat. Pak Bi membagi empat faktor utama:
- Geographic: benua, negara, kota, kepadatan penduduk, musim.
- Demographic: umur, gender, ukuran keluarga, pekerjaan, pendapatan, pendidikan, agama, status perkawinan, daur hidup keluarga.
- Psychographic: gaya hidup, kepribadian, nilai, minat, opini, sikap, kelas sosial.
- Behaviorist: tingkat penggunaan, status pengguna, kesiapan membeli, benefit sought, loyalitas merek, sikap terhadap produk.
Di podcast "15 Langkah Magnet Brand", Pak Bi menambahkan dimensi yang sering dilupakan coach marketing lain: adoption category, yaitu 5 kelompok psikografis yang menentukan headline yang tepat:
- Innovator (2,5%) - di-trigger kata "baru". Tetangga yang datang ke kafe baru.
- Early Adopter (13,5%) - di-trigger kata "terobosan".
- Early Majority (34%) - di-trigger kata "terbukti / provenance".
- Late Majority (34%) - menunggu mayoritas dulu.
- Laggards (16%) - paling akhir.
Kalau headline "terobosan baru yang terbukti", sudah mengambil 50% pasar. Untuk UKM, ambil innovator dulu. Untuk korporasi dengan duit besar, langsung masuk ke 34% mainstream.
Targeting
Targeting adalah mempertajam segmentasi menjadi kelompok yang paling potensial. Pak Bi menyarankan memetakan elemen seperti umur, gender, status perkawinan, lokasi, pekerjaan, pendapatan, pendidikan, tujuan dan nilai, sumber informasi, tantangan dan pain point, problem dan solusi, serta keberatan dan peran pembeli.
Yang membedakan orang branding dari orang marketing: "Kalau orang marketing sasarannya target market. Tapi kalau orang branding bukan hanya target market. Bukan cuman prospek yang kita hit tapi juga orang-orang sekitar prospek yang bisa memberikan pengaruh." Pak Bi menyebut ini 7 Lapis Influencing Space.
Contoh kasus SGM: yang paling berpengaruh ke ibu memilih susu adalah bidan (47%), kemudian dokter, ibu, nenek. Untuk Denkau, urutannya berbeda: dokter paling berpengaruh, baru ibu, baru bidan. Jadi target audience untuk branding bukan hanya pembeli, tapi orang-orang di sekitar pembeli yang bisa memengaruhi keputusan.
DNA
Branding lebih dari sekadar lapisan kulit. Branding butuh produk yang mendarah daging, punya genetika, kinerja penuh passion, dan daya dobrak inovasi yang revolusioner. Itulah yang disebut Brand DNA. DNA ini berangkat dari kultur perusahaan dan keahlian teras.
Contoh pilihan DNA: Permen Kopi atau Kopi Permen. Jika memilih Permen sebagai DNA, maka kita bermain di pasar permen. Jika memilih Kopi sebagai DNA, maka kita bermain di pasar kopi. Target marketnya berbeda.
Pak Bi mengingatkan: "Brand DNA itu sentral dari siapa kita, siapa bisnis itu. Jangan tanggung-tanggung. Kalau bangun brand itu juga jangan tanggung-tanggung." Market besar ada di ekstrem: jelas wanita atau jelas pria. Yang tanggung-tanggung di tengah, market-nya kecil.
Contoh Mayora: share value-nya adalah inovasi. "Perusahaan yang terus-menerus menciptakan produk baru sehingga tiada hari tanpa produk baru dari Mayora." Positioning-nya juga inovasi, sehingga produknya pun harus inovasi terus. Brand DNA harus connect dengan business DNA.
Added Value
Nilai tambah adalah fitur ekstra yang melampaui harapan standar konsumen. Nilai tambah bisa tangible, berupa fisik produk atau servis, maupun intangible, berupa brand. Nilai tambah yang unik dan berbasis DNA membuat produk berbeda dari pesaing dan membuka peluang memasuki blue ocean.
New Category
Satu-satunya cara mencapai penjualan riil dan pertumbuhan laba yang kuat adalah menciptakan kategori baru di mana pesaing tidak relevan. Ini menghindarkan kita dari perang merek yang membandingkan "merek saya lebih baik dari merek Anda". Lima pedoman menurut Pak Bi:
- Hindari red ocean dan perang harga.
- Ciptakan blue ocean di mana produk duduk sendiri.
- Bangun kategori baru berbasis DNA atau kultur perusahaan.
- Sadari bahwa posisi pertama itu dipinjamkan oleh pesaing; mereka akan menyusul.
- Hitung berapa lama pesaing butuh untuk menyusul, lalu tumbuh besar sebelum mereka datang.
- Nilai tambah tidak harus tangible; bisa berupa intangible berupa brand.
Barrier to Entry
Hambatan masuk adalah pelindung yang memperpanjang waktu "dipinjamkan" dari pesaing. Hambatan bisa berupa biaya tinggi untuk start-up, paten, regulasi, bahan baku eksklusif, nilai tambah kuat, identitas merek yang kuat, atau loyalitas pelanggan yang tinggi. Dengan barrier to entry, kategori baru yang diciptakan tidak langsung direbut pesaing.
Brand Positioning
Positioning adalah alat pertempuran dalam benak konsumen. Tugasnya membuat laci-laci baru di otak konsumen dengan folder berisi produk, merek, dan logo sebagai identitasnya. Positioning yang kuat bukan hanya mengklaim sesuatu, tetapi mampu menembus alam pikir kritis konsumen dan menancap di alam bawah sadar.
Pak Bi memakai analogi filing cabinet: otak konsumen seperti kabinet arsip. Laci adalah representasi kategori produk. File dalam laci adalah representasi merek. Kemampuan manusia untuk mengingat merek untuk satu kategori hanya 7. Begitu kita masuk ke laci itu, kita harus bersaing dengan 7 merek yang sudah ada. Kalau Anda menyebut 3 merek tanpa clue, itu berarti top of mind.
Positioning dibangun dari tiga hal: DNA, core value, dan added value. Contoh McDonald's: DNA-nya resto fast food. Core value-nya bukan makanan, tapi QSCV (Quality, Service, Cleanliness, Value). Starbucks jualan kopi, tapi yang ditawarkan adalah the third place, tempat ngobrol ketika rumah kosong dan kantor sudah pulang.
Brand Personality
Kepribadian adalah perbedaan individu dalam pola perilaku, kognisi, dan emosi. Dalam branding, kita membayangkan: jika produk ini menjadi manusia, manusia seperti apa yang kita inginkan? Kepribadian brand dibentuk dari elemen fisik, karakter, dan style. Pak Bi merujuk pada Big Five Personality: pengalaman, kesadaran, ekstroversi, keramahan, dan emosi.
Name
Merek adalah nama yang digunakan dalam perdagangan barang dan jasa. Nama yang baik mampu membangun ikatan emosi dan menjelaskan positioning atau keunggulan produk. Contoh: Kopiko yang secara fonetis dan konsep mengarah pada kopi.
Contoh kuat dari Pak Bi: Kartu Debit BCA "Paspor". Tahun 1993, BCA mau bikin produk kebalikan credit card, yaitu debit card. Kartunya dibikin sebelum mesinnya ada. Pak Bi memberi nama "Paspor" dengan rasional: "Seperti kalau kita masuk ke sebuah negara, kita perlu paspor. Ibaratnya BCA itu negara, bukan produk. Jadi kalau Anda mau masuk ke BCA, pasti ditanya, paspornya mana?"
Logo
Logo adalah simbol atau lambang yang menjadi tanda atas sebuah manfaat fisik. Logo yang baik membuat orang langsung menghubungkan simbol tersebut dengan produk. Contoh favorit Pak Bi: logo Coca-Cola yang begitu dikenal sampai membuat orang merasakan rasa segar di mulut.
Slogan
Slogan adalah rangkaian kata pendek, menarik, mencolok, dan mudah diingat yang mengekspresikan positioning yang kuat. Slogan yang baik bukan sekadar bunyi, tetapi membuat pesaing keluar dari arena persaingan. Contoh dari materi: Kopiko, Gantinya Ngopi.
Experience
Pengalaman konsumen adalah aspek paling penting dalam membangun brand. Pengalaman pertama yang tak terlupakan menjadi fondasi. Kemudian, pengalaman itu harus diulang secara konsisten pada pengalaman kedua, ketiga, dan seterusnya agar konsumen menjadi pelanggan. Rantainya:
Experience → Trust → Reputation → Credibility → Loyalty
Pak Bi menjelaskan urutan pembentukan brand yang sesungguhnya: cari masalah, ciptakan solusi (produk), terjadi transaksi, ada experience/pengalaman menggunakan, terjadi ikatan emosi, ada persepsi, brand terbentuk. "Pengalaman menggunakan itulah awal dari pembentukan brand." Jadi brand tidak terbentuk dari iklan, tapi dari pengalaman.
Era sekarang juga menuntut lebih dari sekadar loyal. Zaman dulu klien minta brand awareness, lalu brand loyalty. Sekarang loyal saja nggak cukup, aware saja nggak cukup. Yang dibutuhkan adalah brand intimacy, yaitu intimasi dengan brand. Fasilitasnya sekarang ada: "everybody can talk to the brand" lewat sosial media.
Contoh Nyata dari Materi Pak Bi
Kopiko
Produknya adalah permen. Namun DNA yang dipilih adalah kopi. Hasilnya, Kopiko tidak sekadar bersaing di pasar permen, tetapi membuat kategori baru: kopi dalam bentuk permen. Slogan "Gantinya Ngopi" memperkuat positioning ini dan menciptakan entry barrier yang kuat di benak konsumen. Kopiko lahir dari value creation: value "gantinya ngopi" ditetapkan dulu, baru 8 toples formula dicoba di food testing, dipilih nomor 6. Nama dari bahasa Madura "pikopi" dibalik jadi Kopiko supaya nggak diprotes orang Madura.
Sakura Film
Dari selling pakai hadiah 1 kg emas setiap 3 bulan, berubah jadi kampanye branding "Sakura Film dari Sabang sampai Merauke" yang mengulang merek dengan logat berbeda per suku bangsa. Market share berbalik dari 30% jadi 70%, mengalahkan Fuji Film. "Kampanye branding melahirkan pelanggan," kata Pak Bi. Karena film kamera dibeli berulang setiap kali motret, branding sangat berfungsi di kategori repeat purchase.
BCA Debit Card "Paspor"
Tahun 1993, BCA mau bikin debit card, kebalikan credit card. Kartunya dibikin sebelum mesinnya ada. Pak Bi memberi nama Paspor dengan rasional: BCA itu negara, bukan produk. Kalau mau masuk ke BCA, pasti ditanya paspornya mana. Nama yang membawa positioning, bukan sekadar label.
McDonald's Hourglass
McDonald's melakukan disruption lewat pelayanan 1 menit, bukan lewat produk. Saat konsumen menunggu, mereka fokus ke jam pasir (hourglass). Selama itu otak konsumen blank, fokus ke pasir saja. Konsumen bermain game sama krunya. Yang paling penting adalah pada waktu main game, konsumen menunggu pasir terakhir jatuh. Itulah brand experience yang dirancang, bukan kebetulan.
Coca-Cola dan Konsistensi Ekstrem
Pak Budi Isman pernah ditegur CEO Coca-Cola hanya karena menulis "CocaCola" tanpa strip. CEO bilang: "You belum mau jadi orang Coca-Cola ini, darah you belum Coca-Cola." Hanya salah tulis tanpa strip sudah ditegur. Konsistensi harus ditegakkan dari internal, bukan hanya produk, advertising, atau estetik, tapi juga perilaku internal. Inilah konsistensi yang membangun brand semakin kuat.
Nokia vs Apple: Being vs Becoming
Nokia gagal bukan karena teknologi, tapi karena menolak perubahan. Mereka tidak mau melepaskan apa yang dimiliki, akhirnya tidak relevan. Sebaliknya Apple tahun 1997 berubah dari jualan komputer menjadi menjadikan konsumen "think different" untuk mengubah dunia. Ini contoh being vs becoming. Marketing melihat produk sebagai being. Branding melihat produk sebagai becoming, bagaimana produk membuat konsumen menjadi lebih baik.
Personal Brand Fauzi Bowo
Dalam Pilkada DKI 2007, tim Pak Bi memilih DNA Ahli Tata Kota yang Pemimpin, bukan Pemimpin yang Ahli Tata Kota. Lawannya adalah Wakapolri yang punya ranking pemimpin nasional. Dengan memilih DNA Ahli Tata Kota, Fauzi Bowo membuat lawan tidak relevan. Pesan inti: "Serahkan pada Ahlinya."
Jogja dan Komunal Brand
Ingat Jogja, ingat Gudeg. Ingat Padang, ingat Rendang. Ini bukan kebetulan, melainkan komunal brand yang kuat. Pak Bi mengajarkan bahwa The Village is the Brand. Desa atau daerah bisa menjadi fondasi brand yang otentik dan sulit ditiru. Konsep personal branding juga berakar di sini: gudeg Yu Djum itu adalah Yu Djum dalam bentuk gudeg. Ayam Suharti itu adalah Suharti dalam bentuk ayam.
Harley-Davidson: Bangkrut dan Bangkit Lewat Brand
Saat perusahaan induknya hampir bangkrut tahun 1982, para eksekutif senior membeli kembali perusahaan dengan semangat "The Eagle Soars Alone." Merek ini hidup dari komunitas, budaya, dan pengalaman emosional, bukan dari iklan. Suara knalpotnya dipatenkan, logo ditato di tubuh konsumen, dan nilai freedom dijalankan dalam keseharian. Inilah bukti bahwa brand yang kuat bisa menyelamatkan bisnis dari kebangkrutan.
Kesimpulan dan Prinsip yang Perlu Diingat
Dari materi workshop dan sederet podcast Pak Bi, ada beberapa prinsip dasar yang harus selalu diingat oleh siapa pun yang ingin membangun brand:
- Brand adalah persepsi, bukan elemen visual. Brand adalah pantulan dari apapun yang kita lakukan. Logo, slogan, dan iklan hanyalah alat bantu. Yang membuat brand kuat adalah persepsi dan hubungan emosional dengan konsumen.
- Brand adalah nama plus makna. Merek tanpa value hanya identitas produk. Brand baru lahir ketika nama punya makna bagi konsumen.
- Branding menciptakan intangible asset. Aset tidak berwujud ini bisa jauh lebih bernilai daripada aset fisik. Marketing mengenal marketing cost, branding mengenal brand aset.
- Mulai dari value creation, bukan dari produk. Tentukan value-nya dulu, baru reverse engineer ke produk. Kalau produk dulu, uang jadi marketing cost. Kalau value dulu, uang jadi brand aset.
- Jual perilaku, bukan jual produk. Kaitkan produk dengan ritual harian konsumen. Kopiko menjual "gantinya ngopi", bukan "permen rasa kopi".
- Lompat dari arena 1 ke arena 2. Jangan terjebak perang produk dan harga. Main di time and know-how, cari peluang dari kebiasaan manusia.
- Bicara ke otak mamal. Gunakan komunikasi yang emosional, membangkitkan memori, dan memenuhi habit. Otak mamal yang ambil keputusan, bukan otak human yang minta alasan.
- Setiap nama berhak menjadi brand. Baik produk, individu, desa, kota, atau komunitas, semua punya peluang membangun brand.
- Brand butuh DNA yang mendarah daging dan jangan tanggung-tanggung. Tanpa passion, keahlian, dan inovasi, brand akan cepat pudar. Market besar ada di ekstrem.
- Ciptakan kategori baru untuk menghindari red ocean. Bertarung di kategori yang diciptakan orang lain cenderung memaksa kita ikut perang harga.
- Pengalaman pertama adalah fondasi loyalitas. Brand tidak terbentuk dari iklan, tapi dari pengalaman menggunakan. Urutannya: produk, transaksi, experience, ikatan emosi, persepsi, brand terbentuk.
- Storytelling, bukan telling story. Konten harus meninggalkan kesan paradoks. Manfaatkan algoritma manusia: takut kehilangan, was-was, marah, surprise, kasmaran.
- Viral bukan tujuan, network effect yang penting. 1.000 views yang peduli lebih baik daripada 1 juta views yang tidak peduli.
- Consistency builds trust, trust builds loyalty. Brand yang konsisten pada kualitas dan pesan akan membangun kredibilitas dalam jangka panjang. Coca-Cola menegur karyawan hanya karena salah tulis tanpa strip.
- Era sekarang menuntut brand intimacy, bukan sekadar loyalty. everybody can talk to the brand lewat sosial media. Fasilitasnya sudah ada.
"Brand membuat kebiasaan baru. Kebiasaan membuat ritual baru. Ritual baru akhirnya membuat algoritma baru. Kalau produk kita sudah menjadi algoritma Agus, dan suatu hari nggak ada barang itu, ada yang salah dengan hidup kita."
- Subiakto Priosoedarsono, saat membahas "Bedah Otak Pakar Branding 50 Tahun"
"Branding itu jatuh cinta pada gigitan pertama. Kalau cinta sudah melekat, tai kucing rasa coklat."
- Gombloh, seperti dikutip dalam materi Pak Bi
Pesan Penutup
Membangun brand bukan pekerjaan instan dan bukan sekadar urusan desain. Brand dibangun dari pemahaman pasar, pilihan DNA yang tepat, nilai tambah yang berbeda, kategori yang jelas, positioning yang tajam, dan pengalaman konsumen yang konsisten. Seperti yang selalu diingatkan Pak Bi: INGAT ... INGAT ... Dan seperti yang beliau katakan di podcast: "Saya melalui perjalanan ini 50 tahun. Jadi kalau kamu mau seperti saya, kamu harus lewat 50 tahun dulu." Tapi setidaknya, dengan memahami prinsip-prinsip di atas, kita bisa mulai dari arah yang benar.