Brand Building Berbasis Sains: Teori ke Praktik Indonesia
Bukan opini. Bukan intuisi. Bukan mitos marketing yang diwariskan turun-temurun. Ini adalah hukum ilmiah tentang bagaimana brand benar-benar tumbuh, dari Professor Byron Sharp, direktur Ehrenberg-Bass Institute, institut akademik marketing terbesar di dunia.
18
Bab Pembahasan
4
Sumber Transkrip
100%
Berbasis Data
Disusun oleh Anjrah Ari Susanto, S.Psi.
Brand Builder & Learner
Tentang Penulis
Siapa Byron Sharp?
Byron Sharp adalah seorang profesor marketing dari Australia yang memimpin Ehrenberg-Bass Institute di University of Adelaide, institut akademik marketing terbesar di dunia. Ia adalah penulis buku "How Brands Grow" yang mungkin adalah buku marketing paling berpengaruh yang pernah ditulis, karena setiap klaim di dalamnya didukung oleh data nyata, bukan sekadar opini atau cerita.
Buku ini memperkenalkan hukum-hukum ilmiah tentang bagaimana konsumen berperilaku dan bagaimana brand tumbuh. Hukum-hukum ini berlaku di mana saja, dari pemilihan tim sepak bola, program TV yang ditonton, hingga merek deterjen yang dibeli. Pola ini berulang di semua kategori, di semua negara, di semua kondisi.
Yang membuat karya Byron Sharp begitu mengejutkan adalah ia membongkar banyak mitos marketing yang selama ini dianggap kebenaran mutlak: bahwa brand harus berbeda, bahwa loyalitas adalah kunci, bahwa niche market adalah strategi yang valid, bahwa funnel marketing adalah cara yang benar untuk berpikir. Semuanya, menurut data, salah.
Navigasi
Daftar Isi
18 bab yang akan mengubah cara Anda berpikir tentang brand
Bab 1
Apa Itu Brand?
Definisi yang sesungguhnya, bukan yang Anda kira
Sebelum kita membahas bagaimana brand tumbuh, kita harus memulai dari pertanyaan paling dasar: apa itu brand? Kebanyakan orang akan menjawab dengan hal-hal seperti "brand adalah logo", "brand adalah nama", atau "brand adalah perasaan emosional terhadap produk". Byron Sharp memiliki definisi yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih tepat.
Menurut Sharp, brand pada dasarnya adalah sesuatu yang bisa dikenali orang. Artinya, ketika seseorang melihat produk Anda, mereka tahu itu adalah produk Anda, bukan produk orang lain. Mereka tidak bingung. Mereka tidak mencampuradukkan Anda dengan kompetitor. Itu saja. Tidak perlu lebih rumit dari itu.
Sharp memberikan contoh yang sangat kuat: di Australia, setiap supermarket menjual beberapa merek tomat kaleng dari Italia. Tapi jika Anda bertanya kepada kebanyakan orang merek apa yang mereka beli, mereka akan menjawab "saya beli tomat kaleng Italia". Mereka tidak tahu mereknya. Supermarket bisa menukar satu merek dengan merek lain, dan mereka tidak akan menyadarinya. Menurut Sharp, itu bukan brand. Itu hanya kategori produk.
Sebaliknya, Coke dan Pepsi keduanya minuman berwarna, keduanya manis, tapi orang tidak pernah mencampuradukkannya. Mereka tahu ketika mereka memegang Coke atau memegang Pepsi. Itu adalah brand.
"Branding is just looking like you, as in not looking like someone else. So someone can go, oh yeah, I like that, I'll buy that one again."
- Byron Sharp
Ada sebuah cerita menarik tentang brand di Uni Soviet. Di sana, negara memproduksi semua produk tanpa brand. Tapi orang belajar bahwa beberapa pabrik memproduksi TV yang bagus dan beberapa memproduksi TV yang jelek. Jadi mereka belajar mengenali pabrik dari nomor seri di belakang TV. Nomor seri itu menjadi brand. Ini menunjukkan bahwa konsumen selalu mencari cara untuk membedakan kualitas, dan brand adalah alat untuk itu.
Aqua vs Air Mineral Generic
Bayangkan Anda masuk ke warung dan minta "air mineral". Kalau penjualnya memberikan botol tanpa label, Anda tidak akan tahu apakah itu Aqua, Le Minerale, atau merek lain. Tapi kalau Anda melihat botol biru dengan logo Aqua, Anda langsung tahu itu Aqua. Anda mungkin tidak bisa menjelaskan kenapa Anda lebih suka Aqua, tapi Anda tahu itu Aqua dan Anda merasa aman meminumnya. Itulah brand. Sebaliknya, banyak air mineral rumahan yang dijual di galas-galas tanpa label. Orang membelinya karena murah, bukan karena mereka mengenali brandnya. Itu bukan brand, itu hanya produk.
Jadi, brand bukanlah sesuatu yang rumit. Brand adalah identitas yang bisa dikenali. Ketika orang bisa membedakan produk Anda dari produk lain, Anda memiliki brand. Ketika mereka tidak bisa, Anda tidak memiliki brand, Anda hanya memiliki produk. Dan perbedaan ini sangat penting, karena seperti yang akan kita lihat di bab-bab berikutnya, memiliki brand yang dikenali adalah aset paling berharga yang bisa dimiliki perusahaan.
Sekarang kita tahu brand adalah identitas yang dikenali. Tapi mengapa ini penting? Mengapa tidak cukup hanya menjual produk yang bagus tanpa peduli dengan brand? Mari kita lihat mengapa brand memiliki nilai yang sesungguhnya.
Bab 2
Mengapa Brand Penting?
Tiga alasan mengapa brand bernilai bagi konsumen dan perusahaan
Banyak orang menganggap brand hanya penting bagi perusahaan, sebagai alat untuk menjual lebih mahal. Tapi Byron Sharp menunjukkan bahwa brand sebenarnya juga penting bagi konsumen. Ada tiga alasan utama mengapa brand penting:
Mempercepat Belanja
Brand membantu konsumen mempercepat keputusan belanja mereka. Daripada mengevaluasi 30.000 produk di supermarket, konsumen cukup mencari brand yang mereka kenal. "Ibu suruh beli gula. Yang biru itu, kita selalu punya yang biru di dapur." Kelihatannya sepele, tapi ini sangat berguna untuk konsumen yang punya kehidupan dan tidak ingin menghabiskan waktu untuk riset gula.
Reputasi yang Harus Dijaga
Brand memberikan konsekuensi. Ketika sebuah perusahaan punya brand, mereka punya reputasi yang harus dilindungi. Sharp menunjukkan bahwa McDonald's jauh lebih kecil kemungkinannya untuk merusak lingkungan atau tidak membayar karyawan dengan benar dibandingkan burger shop lokal. Kenapa? Karena McDonald's punya brand yang bisa rusak. Burger shop lokal yang tidak yakin akan masih buka tahun depan, mungkin akan menuang limbah ke selokan. Tapi McDonald's tidak akan pernah melakukan itu karena namanya akan ada di koran.
Sinyal Kualitas
Brand membantu konsumen membedakan kualitas. Seperti cerita TV di Uni Soviet, ketika konsumen tidak bisa membedakan kualitas, mereka kesulitan membuat keputusan yang baik. Brand memberikan jaminan: "saya sudah pernah mencoba ini dan ini bagus, saya akan beli lagi." Tanpa brand, konsumen harus memulai dari nol setiap kali mereka belanja.
Indomie: Brand sebagai Jaminan
Ketika Anda travel ke daerah terpencil di Indonesia dan masuk ke warung, Anda melihat Indomie digantung di rak. Anda langsung merasa aman. Anda tahu rasanya, Anda tahu kualitasnya, Anda tahu cara masaknya. Tidak perlu berpikir. Bayangkan jika warung itu hanya menjual "mie instan" tanpa merek. Anda akan ragu: apakah ini enak? Apakah ini aman? Indomie sebagai brand menghilangkan semua keraguan itu dalam sedetik.
Jadi brand penting bukan hanya untuk perusahaan, tapi juga untuk konsumen. Brand menghemat waktu, memberikan jaminan, dan menciptakan akuntabilitas. Inilah mengapa brand bernilai, dan mengapa membangun brand adalah investasi yang berarti, bukan biaya.
Kita sekarang paham bahwa brand adalah identitas yang dikenali dan punya nilai nyata. Tapi bagaimana brand dibangun? Apa hubungannya dengan marketing? Apakah marketing hanya soal iklan, atau ada sesuatu yang lebih fundamental?
Bab 3
Brand dan Marketing: Hubungan Tak Terpisahkan
Mengapa teori lama tentang marketing salah, dan apa yang menggantikannya
Untuk memahami bagaimana brand dibangun, kita perlu memahami apa itu marketing. Selama puluhan tahun, teori dominan dalam marketing adalah Segmentation, Targeting, Positioning (STP). Teori ini mengatakan bahwa cara untuk bersaing adalah dengan lari dari kompetitor: cari bagian pasar yang bisa Anda layani lebih baik, posisikan diri Anda di segmen itu. Ideanya, jika ada 10 brand di satu kategori, masing-masing harus berbeda dan menargetkan segmen yang berbeda.
Byron Sharp mengatakan: itu bukan yang ditunjukkan oleh data. Brand-brand tidak berbeda secara signifikan. Mereka berjualan kepada orang-orang yang kurang lebih sama. Mereka bersaing head-to-head, bukan dengan berlari ke segmen yang berbeda.
Lalu bagaimana brand bersaing? Sharp memperkenalkan kerangka berpikir baru: brand bersaing melalui mental availability dan physical availability. Brand yang lebih besar memiliki lebih banyak mental dan physical availability. Mereka lebih mudah dibeli oleh lebih banyak orang. Orang-orang ini membeli multiple brand, tapi kadang-kadang mereka membeli Anda. Dan Anda akan mendapatkan tingkat loyalitas yang sesuai dengan ukuran Anda, sesuai dengan hukum double jeopardy.
Kerangka Baru: Dua Pilar Brand
Mental Availability
Seberapa besar kemungkinan orang teringat brand Anda saat mereka akan membeli sesuatu. Ini dibangun melalui advertising, publicity, dan konsistensi.
Physical Availability
Seberapa mudah orang membeli brand Anda. Apakah ada di toko? Apakah pembayaran mudah? Apakah pengiriman cepat? Ini tentang menghilangkan hambatan pembelian.
Implikasi terbesar dari kerangka ini adalah: reach is not optional. Jika Anda ingin tumbuh, Anda tidak bisa menulis rencana pertumbuhan yang tidak mengakuisisi lebih banyak pelanggan. Anda tidak tumbuh tanpa lebih banyak pelanggan. Dan cara mendapatkan lebih banyak pelanggan adalah dengan meningkatkan mental dan physical availability Anda.
Ini adalah pergeseran fundamental dalam cara berpikir tentang marketing. Marketing bukan tentang mencari segmen yang sempurna atau memposisikan brand Anda sebagai sesuatu yang unik. Marketing adalah tentang membangun dua aset: mental availability dan physical availability. Setiap aktivitas marketing yang baik harus berkontribusi pada salah satu atau kedua aset ini.
Gojek: Mental dan Physical Availability Sempurna
Gojek adalah contoh sempurna dari dua pilar ini. Mental availability: semua orang di Indonesia tahu Gojek. Ketika Anda butuh ojek, Gojek yang terlintas. Physical availability: aplikasinya ada di hampir setiap ponsel, pembayaran bisa pakai GoPay, drivernya ada di mana-mana. Gojek tidak menargetkan "segmen tertentu" - mereka menjangkau semua orang yang butuh transportasi, makanan, atau pembayaran. Itulah mengapa mereka tumbuh menjadi salah satu decacorn terbesar di Asia Tenggara.
Kita sudah mengenal dua pilar brand: mental dan physical availability. Tapi ada satu hukum ilmiah yang mengikat semuanya, sebuah pola yang berulang di setiap kategori, di setiap negara. Hukum ini disebut Double Jeopardy, dan ini akan mengubah cara Anda melihat brand selamanya.
Bab 4
Hukum Double Jeopardy: Mitos Niche Brand
Hukum ilmiah paling terkenal dalam marketing
Hukum Double Jeopardy adalah penemuan paling terkenal dari buku "How Brands Grow". Disebut "hukum" karena ia berlaku di mana-mana, seperti hukum gravitasi. Tidak peduli Anda di Milan atau di Australia, gravitasi sama. Begitu juga double jeopardy: dari pemilihan tim sepak bola, program TV yang ditonton, hingga merek deterjen yang dibeli, pola ini selalu muncul.
Hukumnya sederhana: brand yang lebih besar (lebih populer) dibeli oleh lebih banyak orang, dan orang-orang tersebut sedikit lebih loyal dibandingkan pembeli brand kecil. Sebaliknya, brand kecil memiliki lebih sedikit pembeli, dan pembeli-pembeli itu justru kurang loyal, bukan lebih loyal.
Inilah mengapa disebut "double jeopardy" atau "bahaya ganda": brand kecil sudah punya masalah karena punya sedikit pelanggan, dan masalahnya berlipat ganda karena pelanggan mereka juga kurang setia.
Mitos Niche Brand yang Super Loyal
Banyak marketer percaya bahwa brand kecil bisa bertahan dengan strategi niche: sedikit pelanggan tapi sangat loyal. Mereka pikir, "brand saya kecil tapi pelanggan saya mencintai produk saya." Sharp mengatakan: jika itu benar, kita tidak akan melihat hukum double jeopardy. Brand terkecil di kategori akan menjadi pemimpin loyalitas. Tapi itu tidak pernah terjadi. Tidak pernah. Data menunjukkan bahwa brand kecil selalu memiliki loyalitas yang lebih rendah, bukan lebih tinggi.
Bagi seorang CFO atau orang yang berpikir berbasis angka, ini langsung masuk akal. Penjualan Anda terdiri dari: berapa banyak pelanggan yang Anda miliki, dikalikan dengan seberapa sering mereka membeli (loyalitas). Brand besar memiliki jauh lebih banyak pelanggan, dan pelanggan mereka sedikit lebih loyal. Pendorong utama mengapa brand besar menjual jauh lebih banyak adalah jumlah pelanggan, bukan loyalitas.
Ini sangat kontraintuitif. Marketer selalu diajarkan untuk fokus pada loyalitas, untuk membuat pelanggan yang sudah ada membeli lebih banyak. Tapi data mengatakan: masalah Anda bukan bahwa Anda tidak mendapatkan loyalitas yang cukup dari pelanggan Anda. Masalah Anda adalah Anda tidak memiliki cukup pelanggan.
Indomie vs Mie Instan Kecil
Indomie adalah brand mie instan terbesar di Indonesia. Mereka dibeli oleh hampir semua orang, dan orang-orang itu membeli Indomie cukup sering. Sekarang bandingkan dengan brand mie instan kecil yang mungkin hanya dijual di satu daerah. Brand kecil itu dibeli oleh sedikit orang, dan orang-orang itu membelinya lebih jarang. Mereka mungkin membeli Indomie minggu ini, dan kadang membeli brand kecil itu bulan depan. Tidak ada brand mie instan kecil di Indonesia yang memiliki pelanggan yang lebih loyal dari Indomie. Itu adalah hukum double jeopardy dalam aksi nyata.
Implikasi praktis dari hukum ini sangat besar: jangan buang waktu mencoba menjadi niche brand dengan pelanggan super loyal. Itu adalah strategi yang bertentangan dengan hukum alam marketing. Fokuslah pada mendapatkan lebih banyak pelanggan, dan loyalitas akan mengikuti dengan sendirinya, sesuai dengan ukuran Anda.
Hukum double jeopardy mengajarkan bahwa pertumbuhan datang dari lebih banyak pelanggan, bukan dari loyalitas yang lebih besar. Tapi bagaimana cara mendapatkan lebih banyak pelanggan? Jawabannya dimulai dengan konsep pertama: mental availability, yaitu bagaimana brand Anda masuk ke dalam pikiran konsumen.
Bab 5
Mental Availability: Ada di Pikiran Konsumen
Aset paling berharga yang bisa dimiliki sebuah brand
Mental availability adalah peluang orang teringat brand Anda ketika mereka memasuki situasi pembelian, atau ketika mereka melihat Anda di rak, atau melihat Anda di layar. Ini adalah aset yang sangat berharga. Tugas marketer adalah memelihara aset ini dan membuatnya lebih bernilai, serta memastikan aset ini tidak tergerus.
Salah satu kontribusi terbesar Ehrenberg-Bass Institute adalah pengingat bahwa manusia menyaring informasi secara massive. Di supermarket yang khas ada 30.000 produk. Tapi rumah tangga yang khas hanya membeli 300 dari 30.000 itu dalam satu tahun penuh. Anda tidak melihat 29.700 produk lainnya. Anda tidak menyadari bahwa Anda tidak melihatnya, karena Anda tidak menyadari hal-hal yang Anda tidak perhatikan.
Ini adalah temuan psikologis yang luar biasa: orang harus memiliki brand di dalam kepala mereka sebelum mereka bisa melihat brand itu di rak. Bukan sebaliknya. Brand tidak akan "melompat" dari rak hanya karena desainnya bagus, font-nya keren, atau warnanya menarik. Orang zoom in ke hal-hal yang sudah mereka kenal. Hal-hal yang tidak mereka kenal, mereka lewati begitu saja.
"The really amazing thing is all the things you did not see. A typical household only buys 300 out of the 30,000 over a whole year."
- Byron Sharp
Mental availability bukan tentang menjadi yang pertama terlintas dalam pikiran. Ini tentang terlintas dalam pikiran kadang-kadang. Orang memiliki multiple brand di kepala mereka. Tanya berapa banyak brand minuman yang Anda tahu? Mungkin belasan. Berapa yang Anda beli? Juga belasan. Anda tidak hanya membeli satu brand, tapi Anda juga tidak membeli semua brand. Anda membeli beberapa brand secara bergantian.
Mental availability juga tentang link ke cues (pemicu). Tugas marketer adalah membangun link antara brand dan pemicu yang paling sering muncul di kepala orang. Misalnya, ketika orang di pantai, mereka lebih mungkin terpikir Coca-Cola. Tapi ketika orang di coffee shop, mereka jarang terpikir Coca-Cola. Padahal coffee shop juga menjual minuman. Coca-Cola perlu membangun link ke cue "coffee shop" untuk meningkatkan mental availability di situasi itu.
Fakta Mengejutkan tentang Mental Availability
Bahkan brand paling terkenar di dunia seperti Coca-Cola memiliki mental availability yang sangat rendah. Lebih dari setengah pelanggan Coca-Cola hanya membelinya sekali atau dua kali setahun. Mereka tahu Coca-Cola, tapi ketika mereka haus, Coca-Cola tidak selalu terlintas. Ada begitu banyak minuman lain yang juga bisa menghilangkan haus. Itulah mengapa Coca-Cola harus terus beriklan: untuk menjaga mental availability mereka tetap tinggi di tengah banyak pilihan.
Tolak Angin: Mental Availability melalui Cues
Tolak Angin adalah master mental availability di Indonesia. Mereka membangun link ke cue "masuk angin" yang sangat familiar bagi orang Indonesia. Setiap kali seseorang merasa "masuk angin" (mual, pusing, tidak enak badan), Tolak Angin yang terlintas. Bukan karena orang mencintai Tolak Angin secara emosional, tapi karena brand ini berhasil membangun link yang kuat antara nama mereka dan situasi spesifik. Cue "masuk angin" muncul sangat sering di kepala orang Indonesia, dan Tolak Angin selalu ada di sana. Itulah mental availability yang efektif.
Hal penting lainnya: mental availability, sekali didapat, tidak pernah benar-benar hilang. Ia menjadi lebih sulit untuk diakses, dan itulah mengapa Anda perlu terus menyegarkannya. Tapi ia bisa bertahan sangat lama. Itulah mengapa brand tidak jatuh dari pasar begitu saja. Seseorang menciptakan brand yang lebih baik, lebih fungsional, rasanya lebih enak, dan masuk ke pasar, tapi tidak akan langsung menguasai pasar. Karena brand-brand yang sudah mapan memiliki keunggulan mental dan physical availability yang massive.
Mental availability membuat orang teringat brand Anda. Tapi teringat saja tidak cukup. Ketika mereka sudah teringat dan ingin membeli, apakah mereka bisa menemukan Anda? Apakah mudah untuk membeli? Di sinilah pilar kedua masuk: physical availability.
Bab 6
Physical Availability: Mudah Dibeli
Brand terbaik adalah brand yang paling mudah dibeli
Physical availability adalah tentang seberapa mudah orang membeli brand Anda. Apakah Anda ada di toko tempat saya belanja? Apakah ukuran kemasan cocok untuk masuk ke mobil saya? Apakah aplikasi Anda sudah terinstal di ponsel saya? Jika seseorang tidak punya aplikasi Uber di ponselnya, peluang mereka memanggil Uber ketika bisa memanggil taksi biasa adalah hampir nol. Itulah physical availability. Bagaimana bisa dibeli, ya harus ada.
Physical availability bukan hanya soal ada di toko fisik. Untuk brand e-commerce, ini mencakup hal-hal seperti: apakah website Anda menerima PayPal? Atau Anda memaksa orang mengetikkan nomor kartu kredit? Mana yang lebih mudah: satu klik dengan keamanan total, atau rasa sakit harus memasukkan kartu kredit dan berharap Anda tidak bocorkan datanya? Apakah pengiriman cepat? Apakah ada kebijakan retur? Semua ini adalah physical availability.
"You should be thinking every day, how do I make it easier for people to buy me, not something else?"
- Byron Sharp
Sharp bercerita tentang Uber yang memperkenalkan nomor telepon untuk orang yang tidak punya smartphone. Seseorang di Uber menyadari: tidak semua orang punya smartphone. Atau mungkin baterai sudah habis dan ada telepon umum. Tanpa nomor telepon, mereka tidak bisa memesan Uber. Dengan menambahkan nomor telepon, mereka meningkatkan physical availability mereka.
Sharp juga menunjukkan betapa banyak marketer yang complacent. Mereka berkata, "oh, kami brand e-commerce, kami sudah ada di Amazon." Dan berhenti berpikir di situ. Padahal, itu baru permulaan. Setiap hari, marketer harus bertanya: bagaimana saya membuatnya lebih mudah untuk dibeli?
Ada analogi yang sangat penting: physical availability harus selalu menyala. Jika Anda mematikan physical availability, penjualan langsung berhenti. Iklan bisa dimatikan sementara karena iklan bekerja melalui memori, dan memori terus berjalan. Tapi jika Anda menutup pintu toko, penjualan hari itu juga berhenti. Jika Anda berhenti beriklan, efeknya baru terasa bertahap. Tapi jika produk Anda tidak bisa dibeli, Anda langsung kehilangan penjualan.
Alfamart dan Indomaret: Physical Availability Ekstrem
Alfamart dan Indomaret adalah raja physical availability di Indonesia. Mereka ada di hampir setiap sudut, setiap gang, setiap kompleks perumahan. Anda tidak perlu jauh-jauh untuk menemukan minimarket. Ini bukan kebetulan, ini adalah strategi physical availability yang disengaja. Semakin dekat mereka ke Anda, semakin mudah Anda membeli dari mereka. Bandingkan dengan toko kelontong tradisional yang mungkin hanya buka jam tertentu dan stoknya terbatas. Alfamart dan Indomaret menang bukan karena harganya paling murah atau produknya paling baik, tapi karena mereka paling mudah ditemukan dan dibeli.
Sharp juga memberikan contoh tentang free pickup and delivery untuk servis mobil. Sebuah dealership di AS membuat kampanye "gratis jemput dan antar mobil untuk servis". Hasilnya? Mereka menghasilkan uang sangat banyak tahun itu. Kenapa? Karena mereka membuatnya mudah. Orang tidak perlu repot ke bengkel. Itu adalah peningkatan physical availability yang langsung berdampak pada penjualan.
Dalam jangka panjang, tidak ada brand besar yang memiliki defisit mental dan physical availability. Ini adalah hukum. Setiap brand besar di dunia memiliki mental dan physical availability yang kuat. Jika Anda ingin tumbuh, perbaiki keduanya. Jika Anda ingin tetap besar, jaga keduanya.
Kita sekarang mengenal dua pilar brand: mental dan physical availability. Tapi ada satu hal yang sering disalahpahami tentang hubungan konsumen dengan brand: loyalitas. Apakah konsumen benar-benar setia? Atau selama ini kita salah memahami apa itu loyalitas?
Bab 7
Loyalitas Polygamous: Konsumen Tidak Setia pada Satu Brand
Mitos loyalitas eksklusif yang selama ini dipercaya marketer
Salah satu pertanyaan paling umum yang diajukan kepada Byron Sharp adalah: "Apakah orang tidak loyal terhadap brand?" Jawabannya mungkin mengejutkan: ya, orang loyal. Loyalitas ada di mana-mana. Setiap kategori yang diteliti menunjukkan adanya loyalitas. Orang tidak membeli semua brand secara acak. Mereka memiliki preferensi.
Tapi jenis loyalitasnya bukan seperti yang dibayangkan marketer. Bukan jenis "jatuh cinta" atau "ini brand terbaik di dunia, saya tidak akan pernah ganti." Ini lebih bersifat: "ya, brand ini bagus, saya tahu brand ini, dan ini nyaman untuk saya." Loyalitas yang polygamous - orang membeli beberapa brand secara bergantian, bukan hanya satu brand.
Sharp memberikan analogi yang brilian: jika ada alien dari luar angkasa yang diberitahu bahwa ada banyak brand yang bersaing, dan tidak banyak perbedaan antara mereka, alien akan memprediksi semua brand punya pangsa pasar yang sama. Tapi itu tidak terjadi. Ada brand yang jauh lebih besar. Itu menunjukkan adanya loyalitas dan preferensi. Tapi preferensi itu tidak eksklusif.
"Your problem is not that you don't get enough loyalty from your customers. Your problem is that you don't have enough customers."
- Byron Sharp
Kolega Sharp, John Dawes, melakukan analisis menarik tentang Nike. Marketer Amerika sering berpikir Nike adalah brand yang konsumen jatuh cinta dan super loyal. Tapi ketika Anda melihat di lemari seseorang, Anda akan menemukan: sepatu Nike yang bagus, jaket Fila, kaos Adidas, dan sepatu New Balance. Orang membeli multiple brand. Mereka tidak hanya membeli Nike. Loyalitas mereka polygamous.
Hal yang sama berlaku untuk brand mewah. Sharp bertanya: apakah ada orang di planet ini yang pembeli mewah dan hanya membeli Gucci? Tidak. Orang yang membeli barang mewah membeli multiple brand mewah. Loyalitas polygamous adalah fundamental, tampaknya berlaku untuk semua manusia. Orang tidak membeli semua brand, tapi mereka juga tidak hanya membeli satu brand.
Wardah, Maybelline, dan Loyalitas Polygamous
Wanita Indonesia yang membeli Wardah (kosmetik halal) tidak hanya membeli Wardah. Mereka juga membeli Maybelline, Garnier, atau Etude House. Mereka mungkin membeli Wardah untuk lipstik karena ingin produk halal, tapi membeli Maybelline untuk mascara karena hasilnya bagus. Ini bukan ketidaksetiaan, ini adalah loyalitas polygamous. Mereka memiliki preferensi, tapi preferensi itu tidak eksklusif. Wardah tidak perlu membuat pelanggan mereka berhenti membeli brand lain. Wardah perlu memastikan mereka terlintas dalam pikiran ketika pelanggan ingin membeli kosmetik.
Implikasi dari loyalitas polygamous adalah: jangan habiskan waktu dan uang mencoba membuat pelanggan eksklusif terhadap brand Anda. Itu tidak realistis dan bertentangan dengan cara manusia berperilaku. Fokuslah pada menjadi salah satu brand yang terlintas dalam pikiran mereka ketika mereka membeli kategori tersebut. Jika Anda cukup sering terlintas, Anda akan mendapatkan pangsa pembelian Anda.
Jika konsumen loyal secara polygamous, maka strategi yang masuk akal adalah memastikan brand Anda menjangkau sebanyak mungkin orang. Bukan fokus pada pelanggan yang sudah ada, tapi terus mencari pelanggan baru. Inilah mengapa Sharp mengatakan: reach is not optional.
Bab 8
Reach Is Not Optional
Mengapa jangkauan adalah segalanya, dan kenapa Anda tidak bisa tumbuh tanpanya
"Reach is not optional." Ini adalah salah satu kalimat paling penting yang pernah dikatakan Byron Sharp. Jika Anda ingin tumbuh, Anda tidak bisa menulis rencana pertumbuhan yang tidak mengakuisisi lebih banyak pelanggan. Anda tidak bisa tumbuh tanpa lebih banyak pelanggan.
Banyak brand berpikir mereka bisa tumbuh dengan membuat pelanggan yang sudah ada membeli lebih banyak. Sharp mengatakan: pelanggan Anda yang sudah ada akan membeli sedikit lebih banyak jika Anda memenangkan lebih banyak pelanggan baru. Tapi Anda tidak bisa membuat rencana pertumbuhan yang hanya berfokus pada pelanggan yang sudah ada. Itu bukan rencana pertumbuhan, itu rencana stagnasi.
Sharp memberikan analogi yang sangat jelas: bayangkan Anda punya toko di selatan. Siapa yang membeli dari Anda? Orang-orang di selatan. Tapi kadang-kadang orang dari utara datang ke selatan dan membeli dari Anda. Sekarang, apa yang terjadi jika Anda membuka toko di utara? Anda langsung mendapatkan lebih banyak pelanggan: orang-orang utara yang sekarang bisa membeli dari Anda. Dan Anda juga mendapat sedikit lebih banyak penjualan dari orang selatan, karena kadang-kadang mereka ke utara. Anda mendapat sedikit lebih banyak loyalitas dari pelanggan yang sudah ada, tapi yang utama adalah Anda mendapat banyak pelanggan baru.
Coca-Cola: 30-40% Penjualan dari Pembeli Ringan
Sharp memilih brand terbesar yang bisa ia pikirkan: Coca-Cola. Kelompok pembeli Coca-Cola terbesar dalam satu tahun adalah orang yang membeli sekali. Kelompok terbesar berikutnya adalah yang membeli dua kali. Lalu tiga kali. Pada saat Anda menghitung orang yang membeli 1-3 kali setahun, Anda sudah mencakup 30-40% dari total volume penjualan Coca-Cola. Ini brand terbesar di dunia, dan sepertiga penjualannya datang dari orang yang hampir tidak pernah membelinya.
Ini adalah fakta yang harus direnungkan: 30-40% dari volume penjualan brand terbesar di dunia datang dari orang yang membeli maksimal tiga kali setahun. Marketer sering fokus pada segmen teratas, pelanggan paling loyal, program loyalitas. Tapi ada bagian besar penjualan yang datang dari orang yang membeli sekali atau dua kali setahun, dan itu bisa menjadi porsi yang sangat besar dari total pendapatan.
Sharp juga mengingatkan: Anda tidak pernah tahu kapan konsumen akan masuk ke pasar. Setiap hari ada konsumen yang membuat keputusan beli, dan Anda tidak tahu kapan mereka akan datang. Jika Anda berhenti beriklan selama enam bulan, itu berarti jarak terdekat sejak mereka terakhir melihat sesuatu dari Anda adalah enam bulan, dan untuk beberapa orang bisa jauh lebih lama. Itulah mengapa konsistensi dan kontinuitas sangat penting.
Kapal Api: Reach yang Tak Pernah Berhenti
Kapal Api adalah brand kopi terbesar di Indonesia. Mereka tidak hanya beriklan kepada pecinta kopi berat. Mereka beriklan kepada semua orang: dari mahasiswa yang butuh teman begadang, pekerja kantoran yang butuh kopi pagi, hingga ibu rumah tangga yang membuat kopi untuk tamu. Kapal Api ada di warung kecil, minimarket, supermarket, toko kelontong. Mereka menjangkau semua orang di mana pun. Itulah reach. Dan itu mengapa Kapal Api tetap menjadi raja kopi di Indonesia selama puluhan tahun.
Sharp juga menekankan pentingnya menyebar anggaran untuk mendapatkan coverage. Berapa pun ukuran budget Anda, sebarkan agar Anda punya coverage. Anda butuh coverage dalam waktu juga: setiap hari ada konsumen yang membuat keputusan, dan Anda harus ada di sana. Jangan lakukan kampanye besar lalu berhenti dan istirahat. Pasar terus berjalan. Ini adalah "penyakit kultural" dalam marketing: orientasi kampanye. Marketer melakukan burst besar, merasa sangat bersemangat, lalu berhenti dan beristirahat dan merencanakan ulang. Sementara pasar terus berjalan tanpa Anda.
Jika reach adalah segalanya, maka beriklan kepada semua orang adalah kunci. Tapi selama ini marketer diajarkan bahwa brand harus berbeda, harus terdiferensiasi. Apakah benar brand harus berbeda? Atau ini juga mitos?
Bab 9
Differentiation vs Distinctiveness
Mengapa mencoba berbeda adalah strategi yang salah
Salah satu dogma paling kuat dalam marketing adalah differentiation: brand harus berbeda dari kompetitor. Anda harus menemukan apa yang membuat Anda unik dan mengomunikasikannya. Ini diajarkan di sekolah bisnis, ditulis di buku marketing, dan dianggap sebagai kebenaran mutlak.
Byron Sharp sangat realistis tentang differentiation. Ia mengatakan: jika Anda ingin tahu apakah brand Anda benar-benar berbeda, tanyakan kepada anak berusia delapan tahun. Jika anak itu menjawab "tidak tahu", maka Anda mungkin tidak berbeda. Differentiation harus blindingly obvious (sangat jelas). Tunjukkan Toyota Corolla dan Ferrari kepada anak delapan tahun, dan mereka akan langsung tahu itu berbeda. Ferrari jelas berbeda: harganya setengah miliar, bentuknya luar biasa. Tapi itu adalah perbedaan yang nyata, bukan perbedaan yang dibuat-buat oleh advertising.
Yang tidak disukai Sharp adalah ide di industri advertising bahwa Anda bisa mendiferensiasikan brand yang pada dasarnya sama. McDonald's dan Burger King? Mereka bersaing head-to-head. Ada sedikit perbedaan, tapi tidak signifikan. Mereka bersaing terutama melalui mental dan physical availability, bukan melalui differentiation.
"Brand Harus Berbeda untuk Bersaing"
Data menunjukkan bahwa di kategori yang matang, brand-brand saling meniru. Jika kompetitor menambahkan fitur baru seperti ABS braking, Anda harus ikut. Jika tidak, Anda berbeda, tapi dengan cara yang buruk. Kompetisi memaksa brand untuk menjadi sama, bukan berbeda. Bahkan di industri baru seperti AI chatbots (Gemini, Claude, ChatGPT, Grok), mereka sudah sangat mirip dari awal. Yang mereka perjuangkan bukan menjadi berbeda, tapi menjadi setara dan tidak tertinggal.
Lalu apa yang harus dilakukan brand? Sharp membedakan antara differentiation (mencoba berbeda secara substantif) dan distinctiveness (tampil seperti dirimu sendiri). Distinctiveness bukan tentang berbeda dalam hal apa yang Anda tawarkan, tapi tentang mudah dikenali. Ketika ada touch point, konsumen tahu itu brand Anda.
Brand-brand besar di dunia tidak bersaing dengan menjadi berbeda. Mereka bersaing dengan menjadi mudah dikenali (distinctive) dan mudah dibeli (available). Pertempuran sebenarnya adalah tentang mental dan physical availability, bukan tentang differentiation.
Bango vs Kecap Lainnya: Distinctive, Bukan Different
Bango dan kecap merek lain pada dasarnya adalah kecap manis. Mereka tidak terlalu berbeda secara substantif. Tapi Bango sangat distinctive: kemasannya yang hitam dengan aksen emas, logonya yang khas, dan positioning sebagai kecap premium dengan bahan baku pilihan. Ketika Anda melihat botol Bango di rak, Anda langsung tahu itu Bango. Mereka tidak mencoba menjadi produk yang berbeda, mereka mencoba menjadi brand yang mudah dikenali. Itulah distinctiveness.
Jika distinctiveness lebih penting daripada differentiation, maka pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana cara menjadi distinctive? Bagaimana membuat brand Anda mudah dikenali dalam sekejap? Jawabannya ada pada konsep Distinctive Brand Assets.
Bab 10
Distinctive Brand Assets: Tampil Seperti Dirimu
Bukan tentang berbeda, tapi tentang mudah dikenali
Distinctive Brand Assets adalah elemen-elemen yang membuat brand Anda langsung dikenali tanpa perlu melihat nama brandnya. Ini bisa berupa warna, bentuk, karakter, musik, atau elemen visual lainnya. Tujuannya bukan untuk berbeda dari kompetitor, tapi untuk memastikan bahwa setiap kali ada touch point dengan konsumen, mereka tahu itu adalah brand Anda.
Sharp memberikan contoh klasik: GEICO, perusahaan asuransi Amerika yang didukung Warren Buffett. Jika Anda menyebut GEICO kepada siapa pun, mereka langsung teringat kadal GEICO. Kadal itu adalah distinctive brand asset yang bernilai sangat besar. Jika Sharp bisa mencuri kadal itu untuk memulai perusahaan asuransi baru, itu akan menjadi aset yang luar biasa berharga.
Contoh lain yang luar biasa adalah Yellow Tail, wine Australia. Sebuah winery kecil mendapatkan distributor yang sebelumnya milik winery besar. Mereka membuat wine murah dengan logo kanguru dengan ekor kuning. Orang yang membeli wine itu di toko bisa kembali dan berkata, "saya mau wine Australia itu, yang ada kangurunya." Toko langsung tahu maksudnya. Yellow Tail membangun mental availability dengan sangat cepat karena distinctive brand asset mereka sangat mudah masuk ke kepala orang. Mereka tumbuh dari nol menjadi satu juta kasing per tahun.
Jenis Distinctive Brand Assets
Warna
Contoh: merah Coca-Cola, biru Aqua, kuning Indomie
Karakter/Maskot
Contoh: kadal GEICO, kanguru Yellow Tail, harimau Tolak Angin
Bentuk Kemasan
Contoh: botol Coca-Cola, kemasan sachet Indomie
Musik/Slogan
Contoh: "Red Bull gives you wings", jingle Tolak Angin
Tapi memiliki distinctive asset saja tidak cukup. Anda harus memasukkannya ke kepala orang. Itulah pekerjaan advertising, publicity, dan penggunaan yang disiplin. Anda harus menggunakannya secara konsisten, berulang-ulang, selama bertahun-tahun. Tidak bisa diganti-ganti setiap kampanye.
Sharp mengingatkan: di dunia software, distinctive assets juga penting. Di ponsel, orang navigasi secara visual. Aplikasi yang sudah terinstal di ponsel punya keunggulan besar: mereka ada di sana, di layar utama, dengan icon yang dikenali. Itu adalah physical availability sekaligus distinctive asset.
Sasa: Distinctive Asset yang Tahan Lama
Sasa, brand bumbu masak, memiliki distinctive asset yang sangat kuat: warna oranye-kuning yang konsisten, logo yang sederhana, dan positioning "bumbu masak praktis". Selama puluhan tahun, Sasa tidak mengubah aset ini secara signifikan. Ketika ibu rumah tangga melihat kemasan oranye di rak bumbu, mereka langsung tahu itu Sasa. Tidak perlu baca nama. Itulah distinctive brand asset yang bekerja.
Distinctive brand assets hanya bekerja jika digunakan secara konsisten. Mengganti-ganti logo, warna, atau maskot adalah cara terbaik untuk menghancurkan aset Anda. Inilah mengapa konsistensi adalah kunci brand yang tahan lama.
Bab 11
Konsistensi: Kunci Brand yang Tahan Lama
Mengapa Coca-Cola tidak mengubah logo selama lebih dari 100 tahun
Byron Sharp memberikan ilustrasi yang sangat visual: Anda bisa mencari di Google gambar yang menunjukkan logo Pepsi dari tahun 1800-an dan logo Coke dari tahun 1800-an. Untuk Pepsi, logo berubah berkali-kali, satu perubahan setelah perubahan. Untuk Coke? Hampir tidak berubah sama sekali. Mana yang lebih sukses? Jawabannya jelas.
Inilah pelajaran tentang konsistensi. Ketika Anda menyadari bahwa sebagian besar pelanggan Anda dan sebagian besar pertumbuhan masa depan Anda datang dari orang yang sangat jarang membeli kategori dan hampir tidak pernah membeli Anda, ini adalah pikiran yang menenangkan. Ini membuat Anda menyadari bahwa jika Anda membuat perubahan, Anda akan segera mengacaukan mereka. Mereka tidak akan frustrasi atau marah. Mereka hanya akan memilih brand lain.
"If you change your colors of your store and make it a little bit harder for them to be found, they buy lunch somewhere else."
- Byron Sharp
Coca-Cola telah mengatakan hal yang sama selama dekade: bahwa Coke itu menyenangkan, rasanya enak, dan semua tahu ini. Tapi mereka terus mengatakannya dengan cara yang segar dan menarik. Mereka tidak mengubah pesannya. Mereka mengubah cara penyampaiannya. Pesan yang sama, cara yang fresh. Itulah konsistensi yang cerdas.
Red Bull juga melakukan hal yang sama. Mereka telah mengulang pesan yang sama selama bertahun-tahun: "Red Bull gives you wings." Di berbagai budaya, berbagai negara, semua tahu bahwa Red Bull memberi Anda sayap. Mereka mempersonalisasi pesan berdasarkan lingkungan: untuk mahasiswa, untuk atlet, untuk pekerja. Tapi inti pesannya tidak pernah berubah.
Masalahnya, banyak marketer bosan dengan brand mereka sendiri. Mereka melihat brand mereka setiap hari, jadi mereka merasa perlu mengubah sesuatu. Tapi konsumen Anda yang sebagian besar adalah pembeli ringan, mereka tidak melihat brand Anda setiap hari. Mereka mungkin melihat Anda sekali dalam beberapa bulan. Ketika mereka melihat Anda, mereka harus langsung mengenali Anda. Jika Anda mengubah warna, logo, atau pesan Anda, Anda memaksa mereka untuk belajar mengenali Anda lagi dari nol.
Aqua: Konsistensi 50 Tahun
Aqua telah menggunakan botol biru dengan logo yang kurang lebih sama selama hampir 50 tahun. Mereka tidak mengubah warna botolnya menjadi hijau atau merah. Mereka tidak mengubah logonya menjadi sesuatu yang radikal. Hasilnya? Semua orang Indonesia langsung mengenali Aqua di mana pun. Ketika Anda masuk ke warung dan melihat botol biru, Anda tahu itu Aqua tanpa perlu membaca. Konsistensi ini adalah salah satu alasan mengapa Aqua tetap menjadi pemimpin air mineral di Indonesia meskipun banyak kompetitor yang masuk.
Konsistensi juga berarti menyebarkan iklan Anda sepanjang waktu, bukan mengumpulkannya dalam burst besar. Sharp mengatakan: berapa pun ukuran budget Anda, sebarkan agar Anda punya coverage dalam waktu. Jangan lakukan kampanye besar lalu berhenti. Anda harus tetap "on air" sebisa mungkin. Karena setiap hari ada konsumen yang membuat keputusan, dan Anda tidak tahu kapan mereka akan masuk pasar.
Konsistensi adalah kunci. Tapi ada satu tren marketing yang justru melenceng dari konsistensi: brand purpose. Banyak brand mencoba mengaitkan diri dengan tujuan sosial. Apakah ini benar-benar membantu brand tumbuh?
Bab 12
Mitos Brand Purpose
Mengapa tujuan sosial tidak membantu brand tumbuh
Brand purpose adalah ide bahwa brand harus memiliki tujuan sosial yang lebih besar dari sekadar menjual produk. Misalnya: "jika Anda membeli sepatu brand ini, Anda juga membantu menyumbang sepatu ke Bangladesh." Atau "brand ini peduli pada lingkungan, jadi dukunglah brand ini." Ini adalah upaya untuk mendiferensiasikan brand dengan menambahkan dimensi sosial.
Byron Sharp dan timnya melakukan riset tentang ini. Mereka mengambil beberapa brand purpose paling terkenal di dunia, brand yang sudah melakukannya selama 10-20 tahun dengan budget sangat besar dan secara konsisten. Lalu mereka survei di Amerika, Eropa, dan Australia: berapa banyak orang yang tahu apa purpose brand-brand ini? Hasilnya: mengagetkan rendah.
Yang lebih mengejutkan, peneliti yang memimpin riset ini, Tory, cukup pintar untuk memasukkan purpose palsu dalam survei, seperti "mensponsori whale watching" dan hal-hal yang tidak benar. Beberapa brand mendapat skor hampir sama tinggi pada purpose palsu seperti pada purpose asli mereka. Ini berarti responden hanya menebak. Mereka tidak benar-benar tahu.
"Brand Purpose Membangun Mental Availability"
Tidak ada yang masuk ke toko sepatu dan berkata, "saya ingin membeli sepatu yang membantu Afrika." Tidak ada yang berpikir, "saya butuh asuransi mobil, saya harus membeli dari brand asuransi yang paling bertanggung jawab secara sosial." Yang mereka pikirkan adalah: "siapa yang jual asuransi mobil? Yang ada kadalnya itu." Purpose tidak membangun mental availability. Purpose mungkin memberikan perasaan hangat setelah seseorang melihat brand Anda, tapi itu tidak membuat mereka teringat brand Anda ketika mereka butuh sesuatu.
Sharp juga membahas klaim tentang produk berkelanjutan (sustainable). Apakah orang benar-benar peduli bahwa produk Anda sustainable? Semua bukti cukup tegas: ya, orang peduli pada dunia, tapi mereka bahkan tidak tahu brand mana yang lebih sustainable. Dan bahkan jika mereka tahu, itu bukan faktor pendorong utama. Ketika diwawancarai oleh peneliti pasar, mereka cenderung mengatakan bahwa mereka peduli karena kita semua ingin berpikir kita orang baik. Tapi di dunia nyata, mereka melihat harga dan fitur dan berkata, "kenapa Anda beli yang itu? Ya, karena ada di sana."
Implikasinya: jika Anda startup dan berpikir brand purpose adalah cara magis untuk memenangkan bisnis, jawabannya: tidak. Itu mungkin akan membuat Anda kalah, karena mengalihkan perhatian Anda dari mengomunikasikan hal-hal yang benar-benar perlu dikomunikasikan untuk membangun mental availability.
Aqua dan "Satu Kemasan, Satu Harapan"
Aqua memiliki program "Satu Kemasan, Satu Harapan" untuk daur ulang kemasan. Program ini bagus untuk tanggung jawab sosial perusahaan. Tapi jujur, ketika orang Indonesia haus dan masuk ke warung, apakah mereka memilih Aqua karena program daur ulangnya? Tidak. Mereka memilih Aqua karena botol birunya langsung dikenali, harganya reasonable, dan ada di mana-mana. Program purpose Aqua mungkin memberikan perasaan baik bagi orang yang sudah tahu, tapi itu bukan alasan utama mereka membeli. Mental dan physical availability-lah yang membuat Aqua terjual.
Brand purpose tidak membantu brand tumbuh. Tapi ada satu alat yang hampir semua brand gunakan untuk "membangun loyalitas": loyalty program. Apakah program loyalitas benar-benar berhasil? Sharp memiliki jawaban yang mungkin tidak Anda sukai.
Bab 13
Loyalty Programs: Apakah Benar-Benar Berhasil?
Riset menunjukkan hasil yang mengecewakan
Pertanyaan yang sering diajukan: jika loyalitas adalah fungsi dari penetrasi (semakin banyak pelanggan, semakin loyal), lalu apa gunanya loyalty program? Sharp menjawab dengan jujur: riset cukup jelas bahwa loyalty program tidak banyak melakukan apa-apa.
Apakah loyalty program meningkatkan loyalitas? Ya, sedikit. Tapi tidak banyak. Mengapa? Karena selection effect. Siapa yang akan bergabung dengan loyalty program Anda? Orang yang sudah membeli dari Anda. Orang yang sudah menjadi pelanggan berat Anda. Bukan orang yang belum membeli dari Anda. Bahkan pembeli berat yang membeli brand lain juga tidak akan bergabung dengan loyalty program Anda, karena mereka berpikir, "saya tidak beli brand itu."
"The valuable customer to you is not the customer who shops at you every month anyway. It's the occasional buyer who just happened to come in today."
- Byron Sharp
Sharp memberikan contoh supermarket lokal di dekat rumahnya. Supermarket ini berada di area tanpa kompetitor lain. Mereka memperkenalkan loyalty program. Sharp berpikir: "Anda sudah punya semua orang di area ini. Untuk apa loyalty program?" Tentu saja ia bergabung, karena gratis. Tapi kurang dari setahun, supermarket mulai mengurangi nilai poin. Mereka menyadari bahwa tidak terjadi apa-apa pada penjualan, dan mereka hanya memberikan diskon kepada semua orang. Poin mulai kadaluarsa di akhir tahun. Penjualan tetap tidak berubah.
Sharp juga bercerita tentang department store yang meluncurkan loyalty program dengan syarat: Anda harus menghabiskan $1.500 dalam sebulan untuk bisa bergabung. Ini sangat bodoh. Satu-satunya orang yang bergabung adalah pembeli berat atau seseorang yang kebetulan membeli TV atau sofa bulan itu. Yang Anda inginkan adalah membuat barrier to entry sangat rendah, sehingga pembeli occasional yang belum pernah benar-benar belanja di toko Anda bisa bergabung dengan mudah.
Jika Anda Harus Membuat Loyalty Program
- 1.Buat barrier to entry serendah mungkin. Pembeli occasional harus bisa bergabung dengan mudah.
- 2.Rekrut orang yang BUKAN sudah menjadi pelanggan loyal Anda. Itulah pelanggan yang berharga.
- 3.Kurangi biaya program. Jangan memberikan terlalu banyak kepada orang yang sudah membeli dari Anda setiap bulan.
- 4.Jangan membuat program yang memperlambat transaksi (seperti stempel kartu kopi yang membuat antrean lebih lama).
Kopi Kenangan: Loyalty Program yang Tidak Menghambat
Kopi Kenangan, brand kopi Indonesia, menggunakan aplikasi untuk poin loyalitas. Tapi mereka membuatnya sangat mudah: scan QR code, bayar, poin otomatis masuk. Tidak ada kartu fisik, tidak ada stempel yang harus dicari, tidak memperlambat antrean. Ini adalah loyalty program yang dirancang dengan baik: barrier rendah, tidak mengganggu, dan menangkap pembeli occasional. Tapi tetap, pertumbuhan Kopi Kenangan datang dari menjangkau lebih banyak orang (buka gerai baru), bukan dari loyalty program.
Loyalty program tidak banyak membantu. Tapi ada satu konsep yang membantu kita memahami mengapa: aturan 95-5. Sebagian besar orang tidak sedang berbelanja kategori Anda saat ini. Dan inilah mengapa mental availability begitu penting.
Bab 14
Aturan 95-5: Sebagian Besar Orang Tidak Sedang Membeli
Konsep sederhana yang mengubah cara Anda berpikir tentang advertising
Kolega Sharp, John Dawes, menciptakan konsep yang disebut aturan 95-5. Konsep ini pada dasarnya mengatakan: 95% atau lebih dari orang di pasar Anda tidak sedang dalam mode membeli kategori Anda saat ini. Hanya 5% atau kurang yang sedang aktif mencari produk kategori Anda.
Ini memiliki implikasi yang sangat besar untuk marketing. Untuk 95% yang tidak sedang membeli, satu-satunya yang bisa Anda lakukan adalah membangun mental availability. Anda perlu masuk ke kepala mereka, sehingga ketika mereka suatu hari masuk ke pasar (yang mungkin tidak bisa Anda prediksi kapan), Anda punya peluang untuk dibeli.
Untuk 5% yang sedang dalam mode membeli, Anda perlu physical availability yang baik. Anda perlu menangkap mereka yang sudah siap beli. Tapi jangan habiskan semua budget Anda pada 5% ini, karena 95% lainnya adalah masa depan pertumbuhan Anda.
DocuSign: 10 Tahun untuk Membeli
Sharp menceritakan presentasi dari DocuSign (perusahaan tanda tangan elektronik). Mereka menunjukkan bahwa hampir semua bisnis, ketika ditanya "apakah Anda akan beralih ke tanda tangan elektronik?", menjawab ya. Tapi banyak dari mereka butuh 10 tahun untuk benar-benar melakukannya, karena mereka sibuk menjalankan bisnis. Kontrak kertas masih berfungsi. Jadi Anda harus memahami: Anda tidak bisa secara magis mengkonversi semua orang hari ini. Tapi Anda harus ada di kepala mereka ketika suatu hari sesuatu terjadi (mungkin pelanggan besar mereka berkata, "kami hanya mau tanda tangan elektronik"), dan mereka harus segera beralih.
Ini juga menjelaskan mengapa performance marketing saja tidak cukup. Performance marketing (Google Ads, retargeting, dll) terutama menangkap 5% yang sedang dalam mode membeli. Tapi 95% lainnya tidak akan terjangkau. Jika Anda hanya fokus pada performance, Anda mengorbankan masa depan. Anda mendapat penjualan hari ini, tapi tidak membangun aset mental availability untuk masa depan.
Sharp juga menunjukkan bahwa jika Anda maximize untuk clicks, Anda akan mendapat reach yang menyedihkan. Algoritma akan mengejar orang yang sama berulang-ulang, atau bahkan skew ke bot. Reach adalah hal yang sulit dan berharga. Frequency datang dengan sendirinya. Jangan pernah merencanakan untuk frequency. Anda akan mendapatnya. Pertanyaannya: apakah Anda mendapat reach?
Rumah123: 95% Tidak Sedang Cari Rumah
Rumah123 atau OLX Properti tahu bahwa 95% orang Indonesia tidak sedang mencari rumah pada hari tertentu. Tapi mereka terus beriklan di TV dan media sosial. Kenapa? Karena suatu hari, ketika seseorang dipindahkan kerja ke kota baru, atau menikah, atau punya anak, mereka tiba-tiba masuk ke 5%. Dan pada saat itu, brand yang ada di kepala mereka yang akan dipertimbangkan. Jika Rumah123 hanya beriklan kepada orang yang sedang mencari rumah (performance marketing), mereka akan kehilangan 95% lainnya yang suatu hari akan menjadi calon pembeli.
Kita tahu bahwa 95% orang tidak sedang membeli, jadi kita perlu membangun mental availability. Tapi bagaimana caranya? Apakah semua advertising sama? Atau ada peran untuk kreativitas?
Bab 15
Kreativitas dalam Advertising
Bukan sekadar menarik perhatian, tapi menyorot brand
Byron Sharp mengakui bahwa kreativitas dalam advertising penting, tapi mungkin bukan untuk alasan yang selama ini diyakini. Banyak orang berpikir kreativitas penting karena kita berada dalam "pertempuran untuk perhatian" dan harus menonjol. Sharp tidak yakin ini tentang pertempuran perhatian. Contoh klasik: billboard yang bertuliskan "Unsee this." Anda melihatnya karena Anda tidak bisa menahan diri. Terutama jika ada gerakan, terutama jika ada video, Anda tidak bisa tidak memberikan perhatian.
Menurut Sharp, kreativitas yang hebat dalam advertising adalah ketika brand menjadi sorotan. Ketika orang tidak hanya berkata, "ya, itu iklan." Ketika mereka tahu brand apa itu untuk, dan iklan itu meletakkan atau menyegarkan struktur memori yang tepat. Itulah keindahan kreativitas dalam advertising: ia menyorotkan spotlight pada brand.
"Great creativity lets us get it right, that we know which brand it's for. And therefore it lays down the right memory structures or refreshes the right memory structures."
- Byron Sharp
Sharp juga membahas konten emosional dalam advertising. Semua yang kita lakukan adalah emosional dan rasional. Dan kita harus rendah hati: orang tidak akan mendengarkan komunikasi kita dengan seksama. Mereka akan melihat iklan sekilas lalu melihat ke lain arah. Karena itu, konten emosional lebih cepat diproses, lebih sederhana daripada pesan rasional. Tapi ide bahwa kita bisa membangun koneksi emosional dengan konsumen melalui advertising dan membuat mereka jatuh cinta dengan brand kita? Bukti sejauh ini tidak mendukung ini.
Iklan department store Inggris yang heart-tugging saat Natal mungkin bekerja bukan karena membuat orang merasa sesuatu tentang toko tersebut, tapi karena iklan itu lebih menghibur. Orang menontonnya lebih lama, memprosesnya lebih cepat. Apakah itu membuat mereka merasa lebih baik tentang toko tersebut dan mendorong mereka berbelanja Natal di sana? Itu yang masih perlu diteliti lebih lanjut.
Iklan Bukalapak: Kreatif yang Menyorot Brand
Bukalapak dikenal dengan iklan-iklan kreatifnya, terutama yang menampilkan "Pak Bukalapak" yang berusaha membantu pedagang kecil. Iklan ini kreatif, menghibur, dan orang menontonnya. Tapi yang lebih penting, setiap iklan selalu menyorot brand Bukalapak. Orang tahu ini iklan Bukalapak, bukan iklan generik tentang marketplace. Pesannya konsisten: Bukalapak membantu UMKM. Itulah kreativitas yang bekerja: menarik perhatian DAN menyorot brand.
Kita sudah memahami kreativitas dan mental availability. Tapi ada satu kerangka berpikir yang digunakan hampir semua marketer yang menurut Sharp tidak berguna: marketing funnel. Mengapa funnel adalah konsep yang menyesatkan?
Bab 16
Mitos Marketing Funnel
Mengapa top-of-funnel dan bottom-of-funnel adalah konsep yang menyesatkan
Marketing funnel adalah konsep yang sangat populer: ada top of funnel (awareness), middle of funnel (consideration), dan bottom of funnel (conversion). Orang berpikir konsumen bergerak secara linear dari tidak tahu, menjadi tahu, menjadi tertarik, lalu membeli. Sharp sangat meremehkan konsep ini.
Mengapa? Karena ketika Anda melihat funnel dengan jujur, top of funnel adalah mental availability, dan bottom of funnel adalah physical availability. Jadi mengapa membicarakan funnel? Yang Anda bicarakan adalah mental dan physical availability. Anda tidak sedang mengalirkan orang melalui sebuah jalur. Anda perlu keduanya, dan Anda perlu bekerja pada keduanya setiap saat.
Sharp juga menunjukkan masalah praktis: untuk banyak brand, orang membeli berulang. Jadi jika seseorang sudah "turun funnel" dan membeli, lalu mereka akan kembali membeli lagi. Di mana posisi mereka di funnel? Apakah mereka kembali ke atas? Funnel tidak bisa menjelaskan repeat purchase.
"Brand vs Performance = Long-term vs Short-term"
Banyak marketer memisahkan "brand marketing" (untuk jangka panjang) dan "performance marketing" (untuk jangka pendek). Sharp mengatakan ini adalah pemikiran yang sangat bingung. Ini bukan tentang jangka pendek vs jangka panjang. Ini tentang mental availability vs physical availability. Dan Anda harus melakukan keduanya setiap hari. Physical availability harus selalu menyala. Mental availability adalah investasi yang akan terus menghasilkan selama dekade. Jangan pisahkan keduanya sebagai "jangka pendek" dan "jangka panjang" - itu adalah cara berpikir yang salah.
Sharp juga mengkritik istilah "brand activation." Orang berkata, "kami mengaktivasi konsumen." Sharp mengatakan: Anda tidak mengaktivasi siapa-siapa. Ada sekelompok orang yang sudah akan membeli kategori hari ini. Anda melakukan pekerjaan yang baik untuk menangkap lebih dari pangsa wajar Anda. Tapi Anda tidak membuat mereka membeli. Anda hanya menggeser mereka ke brand Anda.
Debat "brand atau performance" bisa disusun ulang sebagai: Anda sebenarnya berkata, "haruskah saya melakukan mental availability atau physical availability?" Dan ketika Anda berhenti dan memikirkannya, itu sangat bodoh. Anda harus melakukan keduanya. Anda harus memiliki keduanya.
Tokopedia: Tidak Pisahkan Brand dan Performance
Tokopedia tidak memisahkan "iklan brand" dan "iklan performance." Mereka beriklan di TV (mental availability) sambil juga mengoptimalkan search ads dan marketplace listings (physical availability). Mereka tahu bahwa ketika seseorang mencari "beli headphone" di Google, Tokopedia harus muncul. Tapi mereka juga tahu bahwa ketika seseorang tidak sedang mencari headphone, mereka perlu ada di kepala orang itu. Tokopedia yang sukses adalah Tokopedia yang melakukan keduanya secara bersamaan, bukan memilih salah satu.
Funnel adalah konsep yang menyesatkan. Yang sebenarnya Anda kelola adalah mental dan physical availability. Tapi bagaimana cara mengukur keduanya? Apakah Anda butuh metrik yang rumit, atau ada cara sederhana yang bisa dilakukan siapa pun?
Bab 17
Mengukur Brand: Metrik yang Berarti
Tidak perlu rumit. Sederhana dan konsisten adalah kunci.
Byron Sharp adalah pendukung besar dari pendekatan berbasis bukti, tapi ia juga memperingatkan: Anda bisa terlalu terbawa oleh keinginan untuk menomori segalanya. Terutama untuk brand kecil, ia menyarankan: temukan sesuatu yang sederhana untuk diukur yang memberi tahu Anda bahwa Anda berjalan ke arah yang benar.
Untuk mental availability, Ehrenberg-Bass Institute menggunakan beberapa metrik sederhana. Yang utama adalah: berapa banyak orang yang menyebutkan kita di media? Ini bisa dilacak dengan Google, gratis. Anda bisa mencari berapa banyak artikel yang menyebut nama brand Anda, dan mendapatkan angka setiap bulan yang memberi tahu Anda: apakah ketenaran kami masih tumbuh? Apakah tumbuh di negara atau wilayah baru?
Metrik Sederhana untuk Dua Aset Anda
Mental Availability
- - Jumlah mention di media (Google search)
- - Search volume untuk nama brand
- - Share of voice di kategori Anda
- - Survei sederhana: "sebutkan brand yang Anda tahu di kategori X"
Physical Availability
- - Penjualan harian (reaksi langsung terhadap perubahan)
- - Foto rak: di mana produk Anda, apakah ada stok?
- - Out-of-stock rate
- - Konversi checkout (berapa yang gagal?)
Sharp menekankan: physical availability bisa langsung terlihat dalam penjualan. Jika Anda mengubah sesuatu hari ini (misalnya menambah metode pembayaran), hasilnya akan muncul dalam penjualan hari ini atau tidak. Tapi mental availability tidak bisa diukur seperti itu. Sebagian besar mental availability dibangun 5, 10, atau bahkan 100 tahun yang lalu, seperti Coca-Cola. Anda butuh metrik lain untuk mengevaluasi apakah Anda melakukan pekerjaan yang baik.
Yang penting adalah: jangan habiskan uang besar untuk mengukur dua aset terbesar Anda. Anda bisa melakukannya dengan cara sederhana. Untuk produk yang dijual di toko fisik, pergilah ambil foto. Di mana produk Anda di rak? Seberapa sering Anda tidak ada di rak karena kehabisan stok? Jaga hal-hal ini. Anda tidak perlu menghabiskan uang besar untuk mengukur aset terbesar Anda.
Mengukur Brand Lokal: Kosmetik Halal
Jika Anda memiliki brand kosmetik halal lokal, Anda bisa mengukur mental availability dengan mencari di Google: berapa banyak artikel yang menyebut brand Anda? Berapa orang yang mencari nama brand Anda di Google Trends? Untuk physical availability: pergilah ke 10 minimart dan 10 supermarket, foto rak kosmetik. Apakah produk Anda ada? Di posisi mana? Apakah stoknya lengkap? Ini metrik sederhana yang bisa dilakukan tanpa biaya besar, tapi memberi gambaran jelas tentang kesehatan dua aset brand Anda.
Kita sudah membahas semua prinsip. Sekarang, bagaimana menerapkan semua ini di Indonesia? Apa yang bisa dipelajari dari brand-brand Indonesia yang sudah berhasil?
Bab 18
Prinsip Praktis untuk Membangun Brand di Indonesia
Rangkuman dan penerapan untuk pasar Indonesia
Sekarang mari rangkum semua prinsip dari Byron Sharp dan terapkan ke konteks Indonesia. Berikut adalah 10 prinsip praktis untuk membangun brand di Indonesia berdasarkan sains marketing:
Bangun Mental Availability, Bukan Emotional Connection
Jangan habiskan waktu mencoba membuat konsumen "jatuh cinta" dengan brand Anda. Buat agar brand Anda terlintas dalam pikiran mereka ketika mereka butuh kategori tersebut. Gunakan cues yang relevan untuk Indonesia: "masuk angin" untuk Tolak Angin, "mie enak" untuk Indomie, "ojek online" untuk Gojek.
Pastikan Physical Availability di Mana-Mana
Indonesia adalah negara kepulauan dengan tantangan distribusi unik. Brand yang sukses seperti Indomie, Aqua, dan Sasa ada di mana-mana: dari warung di desa terpencil hingga supermarket di mall. Jangan hanya fokus pada e-commerce di Jakarta. Jangkau warung-warung di daerah.
Reach Is Not Optional: Jangkau Semua Orang
Jangan hanya menargetkan segmen sempit. Indonesia punya 270 juta penduduk dengan keragaman luar biasa. Brand besar di Indonesia menjangkau semua orang: dari Aceh hingga Papua, dari kelas atas hingga bawah, dari milenial hingga baby boomer. Gunakan media massal seperti TV dan outdoor untuk reach yang luas.
Konsisten dengan Distinctive Assets
Pilih warna, logo, maskot, atau slogan yang khas dan pertahankan selama bertahun-tahun. Aqua dengan botol birunya, Indomie dengan kemasan kuningnya, Tolak Angin dengan harimaunya. Jangan ganti-ganti. Konsistensi adalah investasi yang akan terus menghasilkan.
Fokus pada Penetrasi, Bukan Loyalitas
Jangan terobsesi membuat pelanggan yang sudah ada membeli lebih banyak. Fokuslah pada mendapatkan lebih banyak pelanggan baru. Pertumbuhan datang dari penetrasi, bukan dari loyalitas. Loyalitas akan mengikuti dengan sendirinya sesuai dengan ukuran brand Anda.
Lakukan Mental dan Physical Availability Bersamaan
Jangan pisahkan "brand" dan "performance." Lakukan keduanya setiap hari. Beriklan di TV dan billboard (mental availability) sambil mengoptimalkan listing di Tokopedia, Shopee, dan minimarket (physical availability). Keduanya saling memperkuat.
Ingat Aturan 95-5
95% orang tidak sedang membeli kategori Anda saat ini. Jangan habiskan semua budget pada 5% yang sedang beli. Bangun mental availability untuk 95% yang suatu hari akan masuk pasar. Mereka adalah masa depan pertumbuhan Anda.
Jangan Terjebak Brand Purpose
Tujuan sosial bagus untuk tanggung jawab perusahaan, tapi jangan jadikan itu strategi marketing utama. Konsumen Indonesia, seperti konsumen di mana pun, membeli karena brand dikenali dan mudah dibeli, bukan karena purpose. Fokus pada membangun mental dan physical availability.
Gunakan Media Massal untuk Reach
TV masih adalah media paling powerful untuk reach di Indonesia. Jangan abaikan TV, radio, dan outdoor. Media digital bagus untuk physical availability (search ads, marketplace), tapi untuk mental availability, media massal masih juara. Gabungkan keduanya dengan cerdas.
Ukur dengan Sederhana dan Konsisten
Gunakan metrik sederhana: Google search volume untuk mental availability, foto rak dan penjualan harian untuk physical availability. Jangan terjebak pada metrik rumit yang mahal. Yang penting adalah konsisten melacak dan memastikan kedua aset ini tumbuh.
"Science is not about theories. It's about: does this predict the real world? Does it fit with the real world? And if it doesn't, well, I don't care how beautiful your theory is, it's wrong."
- Byron Sharp
Itulah prinsip-prinsip membangun brand berdasarkan sains dari Professor Byron Sharp. Bukan opini, bukan intuisi, bukan mitos yang diwariskan turun-temurun. Ini adalah hukum ilmiah yang berlaku di mana saja, termasuk di Indonesia.
Intinya sederhana: brand adalah identitas yang dikenali. Brand tumbuh melalui mental availability dan physical availability. Reach is not optional. Loyalitas adalah fungsi dari penetrasi. Konsistensi adalah kunci. Dan data adalah raja.
Jika Anda menerapkan prinsip-prinsip ini dengan disiplin, brand Anda akan tumbuh. Mungkin tidak dalam semalam, tapi dalam jangka panjang, ini adalah cara yang terbukti oleh sains untuk membangun brand yang tahan lama.
Disusun Oleh
Anjrah Ari Susanto, S.Psi.
Brand Builder & Learner yang fokus pada penerapan sains marketing berbasis bukti. Menyusun tutorial ini dari transkrip kuliah Professor Byron Sharp untuk membantu praktisi marketing di Indonesia memahami hukum ilmiah branding dan menerapkannya di pasar Indonesia.
Lanjut Belajar
Materi Lanjutan & Pendalaman
Sudah memahami 18 prinsip Byron Sharp? Materi di bawah ini adalah kelanjutan langsung, yaitu cara operasional membangun mental availability lewat psikografis konsumen Indonesia.
Panduan Brand Byron Sharp: 18 Prinsip Sains Marketing
Ringkasan padat How Brands Grow untuk pasar Indonesia
Seri Psikografis: 5 Pintu Masuk Pikiran Konsumen
Kelanjutan langsung dari Tutorial Brand Byron Sharp, dari teori ke praktik psikografis
Psikografis 01: Pintu Masuk Pikiran (CEP)
Category Entry Points & 7W framework: cara operasional membangun mental availability
02Psikografis 02: Emosi sebagai Pemicu Ingatan
Spreading activation & memory cues: emosi sebagai pemicu, bukan brand love
03Psikografis 03: Tiga Keinginan Dasar
Self-Determination Theory (Deci & Ryan): autonomy, competence, relatedness
04Psikografis 04: Nilai sebagai Momen Beli
Schwartz Value Survey & nilai Indonesia: religiusitas, gotong royong
05Psikografis 05: Karakter Brand yang Diingat
Jennifer Aaker & distinctive brand assets: personality sebagai identitas
Semua materi disusun oleh Anjrah Ari Susanto, S.Psi. dari hasil secara personal belajar ilmu brand Byron Sharp tim riset Ehrenberg-Bass Institute