Program Loyalitas Pelanggan Itu Pemborosan Saja untuk Bisnis Kecil
Byron Sharp mengingatkan untuk kita sebagai pelaku usaha kecil supaya berfikir sederhana. Jangan terlalu fokus pada program loyalitas malah lupa easy customer kita.
Anjrah Ari Susanto, S.Psi.Founder & Pengajar Alanotech
|24 Juli 2026|12 menit baca
Ringkasan
Program loyalitas untuk UMKM lebih sering bakar bakar uang saja daripada benar benar hasilkan keuntungan untuk perusahaan. Byron Sharp membuktikan lewat Hukum Double Jeopardy bahwa sebagian besar penjualan brand justru dari pelanggan yang belinya jarang, bukan dari karakter pelanggan yang kita anggap setia atau loyal. Bisnis kecil sebaiknya fokus akuisisi pelanggan baru, bukan retensi pelanggan lama.
Byron Sharp membuktikan program loyalitasUMKM lebih sering membakar uang daripada menguntungkan. Kenapa light buyers lebih penting dari pelanggan setia, dan apa yang seharusnya bisnis kecil lakukan?
Hampir setiap pemilik UMKM punya mimpi yang sama yakni punya pelanggan setia. Yang datang tiap minggu, yang selalu balik, yang nggak perlu diyakinkan lagi. Yang bahkan merekomendasikan ke temannya tanpa diminta.
Wajar sih. Rasanya menyenangkan kalau ada wajah yang dikenal datang ke warung atau toko kita. Ada rasa bangga, "Ternyata produk saya disukai orang."
Tapi di sinilah masalahnya mulai. Karena mimpi tentang "pelanggan setia" ini sering bikin pemilik bisnis kecil mengambil keputusan yang salah arah. Salah satunya adalah bikin program loyalitas.
Kenapa ini penting untuk UMKM?
Sebelum kita bahas data sainsnya, perlu dipahami bahwa ini bukan tentang meremehkan pelanggan setia (Heavy buyers) Anda. Heavy buyers memang menghasilkan banyak penjualan per pelanggan, tetapi jumlah mereka relatif sedikit. Karena itu, menjadikan mereka sebagai fokus utama strategi pertumbuhan bukanlah pendekatan yang optimal.
Apakah Anda pernah merasakannya juga? Dulu waktu awal kenal pemasaran, rasanya logis banget, "Kalau bisa bikin pelanggan beli 10 kali, kenapa cuma 3 kali?" Ternyata, jawabannya ada di data. Dan datanya cukup mengejutkan.
Byron Sharp, direktur Ehrenberg-Bass Institute di University of South Australia, sudah mengumpulkan data dari ribuan merek di seluruh dunia selama puluhan tahun. Dan temuan utamanya? Sebagian besar penjualan merek mana pun - termasuk yang terbesar - berasal dari pelanggan yang jarang beli.
Bukan heavy buyers. Bukan pelanggan yang sering membeli. Tapi light buyers, yaitu pembeli yang hanya membeli merek secara relatif jarang, misalnya satu atau beberapa kali dalam setahun.
Dan ini berlaku untuk semua merek. Coca-Cola. Nike. Starbucks. Juga warung kopi di pojokan, toko pakaian di Mall, dan penjual sambal di Shopee.
02
Hukum Double Jeopardy - Penjelasan Sederhana
Oke, ini mungkin bagian yang paling counter-intuitive di seluruh artikel ini. Tapi data dari Ehrenberg-Bass Institute konsisten menunjukkan pola yang sama di hampir semua kategori produk:
Merek Besar
Lebih banyak pelanggan + sedikit lebih loyal
Merek Kecil
Lebih sedikit pelanggan + sedikit kurang loyal
Ini yang disebut Hukum Double Jeopardy. Namanya memang dramatis, tapi polanya sederhana:
Merek yang lebih besar punya lebih banyak pembeli.
Merek yang lebih besar juga punya tingkat pembelian ulang yang sedikit lebih tinggi.
Merek yang lebih kecil punya lebih sedikit pembeli.
Merek yang lebih kecil juga punya tingkat pembelian ulang yang sedikit lebih rendah.
MITOS
"Merek kecil punya pelanggan yang lebih loyal daripada merek besar"
Banyak pemilik bisnis kecil percaya, "Pelanggan kami lebih setia karena kami lebih personal." Sayangnya, data menunjukkan pola sebaliknya. Tidak ada merek niche yang punya pelanggan super loyal dalam jumlah kecil. Ini belum pernah ditemukan di data pemasaran global. Jadi kalau Anda merasa pelanggan Anda "lebih setia" dari pelanggan merek besar, kemungkinan itu persepsi, bukan data.
Yang menarik dari penemuan ini adalah Double Jeopardy itu ubiquitous - artinya terjadi di mana-mana. Di kategori FMCG, di jasa, di retail, di online. Di Australia, di Eropa, di Asia Tenggara. Polanya sama.
Jadi kalau bisnis kecil Anda punya 100 pelanggan yang masing-masing beli 3 kali setahun, dan bisnis besar punya 10.000 pelanggan yang masing-masing beli 3,2 kali setahun - jangan terkejut. Itu bukan kegagalan strategi Anda. Itu pola alami pasar.
Dan ini membawa kita ke pertanyaan besar, kalau light buyers itu yang paling banyak, apakah masuk akal menghabiskan uang untuk program yang tujuannya bikin pelanggan lama beli lebih sering?
03
Coca-Cola dan Pelanggan yang Beli Sebulan Sekali
Kalau ada satu merek yang pasti punya "pelanggan super loyal", kan Coca-Cola. Orang-orang minum Coke tiap hari, tiap minggu. Betul?
E... tidak juga.
Menurut data yang dibahas Byron Sharp, sekitar 30-40% penjualan Coca-Cola berasal dari orang yang membeli hanya 1-3 kali per tahun. Bukan per bulan. Per tahun.
30-40%
Penjualan dari pembeli 1-3x/tahun
Terbesar
Kelompok pembeli terbesar = beli 1x/tahun
100jt+
Jumlah pelanggan Coca-Cola global
Universal
Pola ini ada di semua merek & kategori
"Tapi tunggu," mungkin Anda berpikir, "itu Coca-Cola. Produk murah. Beda dong sama produk saya yang lebih mahal."
Penulis juga sempat mikir gitu dulu. Tapi ternyata, pola ini juga berlaku untuk produk dengan harga lebih tinggi. Kopi, pakaian, elektronik. Bedanya hanya di proporsi, bukan di polanya. Kelompok pembeli terbesar untuk hampir semua merek adalah mereka yang beli paling jarang.
Apa artinya ini untuk UMKM?
Kalau Coca-Cola - dengan semua sumber daya, distribusi, dan brand awareness-nya - bergantung pada pelanggan yang beli jarang, apalagi bisnis kecil. Artinya, sumber pertumbuhan terbesar Anda bukan dari membuat pelanggan lama beli lebih sering, tapi dari membuat lebih banyak orang baru mencoba produk Anda. Minimal sekali.
Definisi Light, Moderate, dan Heavy Buyers
Sebelum lanjut, perlu dipahami dulu apa itu light buyers, moderate buyers, dan heavy buyers menurut kerangka Byron Sharp. Ketiga kategori ini diukur dari frekuensi pembelian dalam periode tertentu, biasanya setahun, dan batasannya bergantung pada kategori produk.
Light buyers adalah pembeli yang membeli merek hanya sekali atau dua kali dalam setahun. Untuk kategori FMCG seperti Coca-Cola, kelompok ini bisa mencakup pembeli yang beli hanya 1 kali setahun. Mereka adalah kelompok terbesar dari semua pembeli sebuah brand.
Moderate buyers adalah pembeli yang membeli merek dengan frekuensi menengah, sekitar 3-9 kali dalam setahun. Untuk kategori dengan frekuensi beli tinggi seperti Coca-Cola, moderate buyers mungkin beli sebulan sekali atau lebih.
Heavy buyers adalah pembeli yang membeli merek sangat sering, misalnya 10 kali atau lebih dalam setahun. Untuk kategori seperti Coca-Cola, heavy buyers bisa beli 50-100 kali setahun, hampir setiap minggu atau bahkan setiap hari.
Penting dicatat bahwa angka pasti bergantung pada kategori. Seseorang yang beli sekali setahun bisa jadi light buyer untuk Coca-Cola, tapi heavy buyer untuk merek sepatu. Tapi pola distribusinya sama, light buyers selalu jadi kelompok terbesar.
Yang Paling Menarik dari Byron Sharp
Nah, ini justru inti yang perlu kamu pahami kalau sedang membangun kerangka berpikir dari Sharp. Sharp menunjukkan bahwa light buyers jumlahnya sangat besar. Ia menulis:
"All brands have many lighter buyers."
Byron Sharp, Ehrenberg-Bass Institute
"Most of a brand's buyers are light buyers."
Byron Sharp, Ehrenberg-Bass Institute
Parafrasenya, hampir semua brand memiliki banyak pembeli dengan frekuensi pembelian rendah, dan kelompok inilah yang secara jumlah justru sangat besar.
Ini menghasilkan konsekuensi strategis yang menarik. Misalnya sebuah brand punya 100 pembeli:
10 orang membeli sangat sering (heavy buyers).
30 orang membeli dengan frekuensi menengah (moderate buyers).
60 orang membeli sesekali (light buyers).
Secara intuitif, marketer sering berpikir, "Yang 10 orang ini paling berharga. Mari kita fokus mempertahankan mereka." Tetapi Sharp mengingatkan bahwa 60 light buyers tidak boleh dianggap remeh, karena jumlah mereka jauh lebih besar.
"When marketing is successful in delivering more sales and market share, it does so by giving the brand more heavy buyers, more medium buyers and a lot more light buyers."
Byron Sharp, Ehrenberg-Bass Institute
Parafrasenya, ketika brand berhasil meningkatkan penjualan dan market share, pertumbuhannya bukan hanya berasal dari bertambahnya heavy buyers. Brand juga mendapatkan lebih banyak moderate buyers dan terutama banyak light buyers.
Jadi jangan memahami Byron Sharp sebagai, "Cari heavy buyers karena mereka paling sering beli." Justru salah satu kritik Sharp adalah bahwa terlalu fokus mengejar heavy buyers dapat membuat marketer mengabaikan massa pembeli yang membeli sesekali.
Buying Frequency Bukan Sama dengan Loyalty
Dan ada satu konsep Sharp yang sangat relevan untuk diskusi kita sebelumnya tentang "pelanggan setia". Buying frequency bukan sama dengan loyalty.
Seseorang bisa tahun ini membeli sebuah brand 5 kali dan dikategorikan heavy buyer. Tahun depan dia membeli 2 kali dan menjadi moderate buyer. Itu tidak otomatis berarti loyalitasnya berubah.
Sharp menyebut fenomena ini the law of buyer moderation, yaitu kecenderungan heavy buyers pada satu periode membeli lebih sedikit pada periode berikutnya, sementara light buyers dapat membeli lebih banyak. Ini sebagian merupakan variasi alami dalam timing pembelian, bukan selalu perubahan loyalitas atau sikap terhadap brand.
04
Loyalty Program - Siapa yang Ikut?
Byron Sharp cukup blak-blakan soal ini. Dalam diskusinya, dia bilang sesuatu yang mungkin terdengar menyakitkan bagi pemilik bisnis kecil:
"Loyalty programs don't do a lot."
Ungkapan Byron Sharp, Ehrenberg-Bass Institute
Kenapa? Karena ada masalah mendasar yang sering dilupakan, siapa yang sebenarnya bergabung dengan program loyalitas Anda?
Coba pikirkan. Ketika Anda bikin kartu member atau program stamp, siapa yang daftar? Bukan orang asing yang belum pernah beli dari Anda. Bukan heavy buyers dari kompetitor. Yang daftar adalah orang yang sudah membeli dari Anda.
Orang yang sudah beli dari kompetitor? Mereka nggak akan gabung. Kenapa mereka mau gabung program loyalitas merek yang bahkan belum pernah mereka coba?
Contoh yang Menohok
Byron Sharp memberi analogi sederhana, "Saya belum pernah terbang dengan China Southern Airlines. Tentu saja saya nggak jadi anggota program loyalitas mereka." Logikanya sama. Orang yang belum pernah beli dari toko Anda nggak akan daftar member Anda. Jadi program loyalitas cuma mengumpulkan data dari orang yang sudah membeli - tanpa menambah pelanggan baru.
Ini masalah besar untuk UMKM. Karena sumber daya yang Anda punya terbatas. Waktu, uang, tenaga. Kalau program loyalitas cuma "menghargai" pelanggan yang sudah ada tanpa membawa yang baru, maka ROI-nya sangat meragukan.
Yang lebih parah, program loyalitas bisa memperlambat pengalaman pelanggan. Penulis akan bahas ini lebih detail di kasus kopi nanti.
Sebelum itu, mari kita bongkar mitos lain yang sering dipakai pembenaran bikin program loyalitas.
05
Mitos "Retensi Pelanggan Lebih Murah dari Akuisisi"
Kalau ada satu kalimat paling berbahaya dalam dunia pemasaran untuk bisnis kecil, mungkin ini:
"Retensi pelanggan 5x lebih murah dari akuisisi."
Kalimat ini sudah jadi semacam dogma. Dipakai di seminar, di buku bisnis, di webinar. Tapi Byron Sharp dan timnya di Ehrenberg-Bass Institute punya pandangan yang sangat berbeda.
"It's really hard to get more out of existing customers."
Ungkapan Byron Sharp, Ehrenberg-Bass Institute
Kenapa? Karena frekuensi beli pelanggan itu sudah ditentukan oleh kebiasaan dan konteks mereka, bukan oleh usaha Anda. Seseorang yang beli kopi dua minggu sekali, ya dua minggu sekali. Program loyalitas tidak akan mengubah dia jadi beli tiap hari.
Yang bisa Anda lakukan? Membuat lebih banyak orang beli dari Anda. Dan ketika lebih banyak orang beli dari Anda, secara otomatis beberapa dari mereka akan beli lebih sering dari rata-rata - itu Double Jeopardy bekerja.
Analogi Sederhana, Toko Pakaian
Misalnya Anda punya toko pakaian di Yogyakarta. Sekarang Anda buka cabang baru di Semarang. Yang terjadi? Anda mendapat pelanggan baru dari Semarang DAN pelanggan di Yogyakarta jadi sedikit lebih sering beli (karena brand awareness meningkat, kepercayaan naik). Anda tidak perlu program loyalitas untuk ini. Yang Anda perlu adalah buka di tempat baru. Physical availability.
MITOS
"Fokus pada pelanggan yang sudah ada lebih menguntungkan"
Yang menarik, mitos ini bertahan karena ada bias kognitif, pelanggan lama itu wajahnya dikenal, namanya diingat. Kita merasa sudah "punya" mereka. Tapi data menunjukkan bahwa cara terbaik untuk meningkatkan loyalitas pelanggan lama adalah dengan mendapat lebih banyak pelanggan baru. Kedengarannya paradoks, tapi itulah yang terjadi di data.
Jadi bukan "retensi lebih murah dari akuisisi" yang salah secara literal. Tapi cara yang paling efektif untuk "mempertahankan" pelanggan adalah dengan terus mendapat yang baru. Dan program loyalitas justru mengalihkan fokus dari hal itu.
06
Kasus Kopi - Stamp Card yang Memperlambat
Byron Sharp punya cerita menarik tentang kedai kopi. Dan cerita ini sangat relevan untuk UMKM Indonesia yang banyak bergerak di F&B.
Bayangkan, Anda punya kedai kopi kecil. Ramai di pagi hari, jam 7-9. Antrian panjang, semua buru-buru ke kantor. Lalu ada pelanggan yang harus ngoprek dompet cari kartu stamp. Atau minta kasir cari datanya di sistem. Atau nunggu verifikasi point.
"You don't want people fumbling for their loyalty card."
Ungkapan Byron Sharp, Ehrenberg-Bass Institute
Di jam sibuk, yang terpenting adalah kecepatan layanan. Pelanggan mau kopi cepat, tanpa drama. Dan program loyalitas justru menambah langkah yang tidak perlu.
Simulasi Dampak Stamp Card di Jam Sibuk
Aspek
Tanpa Program
Dengan Program
Waktu per transaksi
~45 detik
~90 detik (cari kartu, verifikasi)
Kapasitas/jam
~80 pelanggan
~60 pelanggan
Pengalaman pelanggan
Cepat, memuaskan
Lambat, kadang frustrasi
Biaya operasional
Rendah
Tinggi (sistem, kartu, admin)
Penulis sendiri pernah ngerasain ini di sebuah toko parfum. Mereka pakai kartu stamp, beli 10, gratis 1. Awalnya senang. Tapi lama-lama malah ribet. Harus inget bawa kartu. Kalau ketinggalan, nggak dapat stamp. Bikin jengkel.
Dan ironisnya, yang bikin penulis balik ke toko parfum itu bukan stamp card-nya. Tapi wangi parfumnya enak, tempatnya nyaman, dan dekat dari rumah. Faktor-faktor yang seharusnya jadi fokus utama, bukan program loyalitas.
Jadi kalau Anda pemilik toko parfum, kedai kopi, warung makan, atau model usaha lain, pertimbangkan dua kali sebelum bikin stamp card. Apalagi kalau jam sibuk Anda sudah padat. Mungkin lebih baik investasikan waktu untuk bikin kopi lebih cepat dan konsisten, daripada bikin sistem loyalitas yang bikin antrian makin panjang.
07
Kasus Supermarket - Member Card yang Sia-sia
Byron Sharp juga membahas kasus nyata yang sangat relevan untuk UMKM Indonesia. Coba bayangkan ini.
Sebuah supermarket di daerah yang tidak punya kompetitor dalam radius tertentu. Mereka memutuskan bikin member card. Alasannya klasik, biar pelanggan setia, biar data, biar bisa promo khusus.
Hasilnya? Nihil.
Penjualan tidak naik secara signifikan. Yang terjadi? Mereka cuma memberikan diskon kepada orang yang sudah beli di sana. Orang yang sudah beli di situ ya tetap beli di situ. Bukan karena member card, tapi karena memang tidak ada pilihan lain di sekitar.
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
1
Supermarket bikin member card dengan poin dan diskon khusus.
2
Yang daftar? Pelanggan yang sudah ada. Karena memang yang datang ke situ ya pelanggan yang sudah beli.
3
Pelanggan baru dari kompetitor? Nggak bergabung. Karena mereka sudah punya kebiasaan beli di tempat lain.
4
Yang terjadi, diskon jadi hadiah untuk pelanggan lama yang sudah pasti beli di situ.
5
Akhirnya? Nilai poin dikurangi secara diam-diam. Karena ternyata cuma bikin biaya naik tanpa pendapatan naik.
Ini cerita yang sering terjadi di Indonesia juga. Banyak minimarket, supermarket, bahkan toko kelontong yang bikin member card tapi ujung-ujungnya cuma "ngasih diskon ke orang yang udah beli." ROI-nya dipertanyakan.
MITOS
"Member Card bikin pelanggan lebih setia"
Yang menarik, supermarket tadi akhirnya diam-diam mengurangi nilai poin member mereka. Artinya mereka sendiri menyadari bahwa program itu tidak bekerja seperti yang diharapkan. Tapi mereka tidak bisa menghapusnya begitu saja, karena sudah banyak pelanggan yang bergabung. Jadi mereka memilih cara halus, mengurangi manfaatnya perlahan. Ini bukan strategi. Ini menutup kesalahan investasi.
Pelajaran untuk UMKM, sebelum bikin member card atau program poin, tanyakan pada diri sendiri, "Siapa yang sebenarnya akan bergabung?" Kalau jawabannya "orang yang sudah beli dari saya," maka Anda sedang menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak akan menambah pelanggan baru. Dan itu, menurut sains pemasaran, adalah pemborosan.
08
Apa yang Seharusnya Dilakukan Bisnis Kecil?
Oke, kita sudah bahas kenapa program loyalitas sering tidak efektif untuk UMKM. Tapi pertanyaan besarnya, lalu harus bagaimana?
Byron Sharp dan Ehrenberg-Bass Institute punya jawaban yang berulang-ulang ditekankan, fokus pada dua hal utama.
Mental Availability
Biar orang ingat produk Anda saat butuh. Brand yang mudah diingat = lebih sering dipilih. Bukan karena promosi, tapi karena sudah terpatri di pikiran.
Physical Availability
Biar orang gampang beli produk Anda. Di mana saja, kapan saja, dengan langkah sesedikit mungkin. Kalau produk susah ditemukan, orang akan beli yang lain.
Berdasarkan dua konsep ini, berikut adalah lima strategi yang bisa dicoba UMKM, yang menurut riset lebih efektif dari program loyalitas:
1
Investasikan di Mental Availability
Pastikan orang mengingat nama dan produk Anda saat dibutuhkan. Ini bisa lewat visual yang konsisten, nama yang mudah diingat, dan kehadiran di tempat-tempat yang relevan. Bukan cuma iklan besar, tapi juga kehadiran di media sosial yang konsisten.
2
Perluas Physical Availability
Buat produk Anda gampang ditemukan dan dibeli. Lebih banyak titik penjualan, lebih banyak marketplace, lebih banyak variasi kemasan. Kalau Anda jual sambal, jangan cuma di satu warung. Pasarkan di Shopee, Tokopedia, pasar, dan warung tetangga.
3
Jangkau Lebih Banyak Orang Baru
Ini kunci dari Double Jeopardy. Semakin banyak orang yang beli dari Anda, semakin banyak yang akan beli lebih sering secara natural. Fokus di awareness dan trial, bukan di "memeras" pelanggan lama.
4
Buat Barrier Join Semurah Mungkin
Kalau memang harus ada program apapun, buat yang gampang diikuti. Tanpa kartu, tanpa registrasi ribet, tanpa syarat belanja minimum. Yang penting, bikin pengalaman beli jadi lebih mudah, bukan lebih rumit.
5
Kalau Harus Ada Program, yang Simpel
Misalnya, "Beli 5 kali, gratis 1." Itu lebih mudah daripada sistem poin yang rumit. Tapi tetap pertimbangkan, apakah ini benar-benar perlu? Kalau bisa dihindari, lebih baik investasikan uangnya ke promosi yang menjangkau orang baru.
Contoh Penerapan Toko Pakaian di Bandung
Daripada bikin member card, toko pakaian Bandung ini lebih baik: (1) bikin kemasan belanja yang eye-catching supaya orang ingat, (2) jual di Shopee dan TikShop untuk jangkau lebih banyak orang, (3) bikin "hari gajian sale" bulanan yang menarik orang baru coba, (4) kalau ada diskon, kasih ke semua pembeli baru tanpa syarat. Hasilnya? Lebih banyak pelanggan baru = otomatis beberapa jadi heavy buyers = penjualan naik.
09
Ringkasan dan Renungan
Mari kita tutup dengan kalimat kunci dari Byron Sharp yang menurut penulis sangat powerful untuk pemilik bisnis kecil:
"Your problem is not that you don't get enough loyalty. Your problem is that you don't have enough customers."
Ungkapan Byron Sharp, Ehrenberg-Bass Institute
Kalimat itu sederhana, tapi mungkin mengubah cara Anda melihat bisnis. Selama ini mungkin Anda berpikir, "Gimana caranya bikin pelanggan beli lebih sering?" Tapi pertanyaan yang lebih produktif adalah, "Gimana caranya lebih banyak orang baru mencoba produk saya?"
Lima hal untuk direnungkan:
1
Program loyalitas untuk bisnis kecil umumnya tidak efektif. Yang bergabung sudah jadi pelanggan Anda. Orang dari kompetitor tidak akan daftar. Uang yang dihabiskan untuk program ini bisa lebih baik digunakan untuk hal lain.
2
Double Jeopardy itu nyata. Semakin besar merek, semakin banyak pelanggan DAN sedikit lebih loyal. Tidak ada "merek kecil dengan pelanggan super loyal." Ini pola alami pasar, bukan kegagalan strategi Anda.
3
Light buyers itu justru sumber pertumbuhan terbesar. Mereka yang beli dua atau tiga kali setahun, bukan yang beli setiap hari. Dan cara mendapat lebih banyak dari mereka adalah dengan menjangkau lebih banyak orang baru.
4
"Retensi lebih murah dari akuisisi" itu mitos yang menyesatkan. Cara terbaik meningkatkan loyalitas pelanggan lama adalah dengan mendapat pelanggan baru. Pelanggan baru yang banyak = beberapa jadi heavy buyer secara natural.
5
Fokus di mental dan physical availability. Bikin orang ingat Anda. Bikin orang gampang beli dari Anda. Itu investasi yang jauh lebih berharga daripada kartu member atau program poin yang ribet.
Penulis sendiri sempat kaget waktu pertama kali baca data ini. Karena rasanya berlawanan dengan intuisi. Kita semua terbiasa dengan narasi "pelanggan setia adalah segalanya." Tapi ternyata, sains pemasaran punya cerita yang berbeda.
Dan yang menarik, ini bukan berarti pelanggan setia itu tidak penting. Mereka penting. Tapi cara terbaik mendapat lebih banyak pelanggan setia bukan dengan bikin program loyalitas. Melainkan dengan mendapat lebih banyak pelanggan secara umum - dan biarkan Double Jeopardy bekerja.
Mungkin worth dicoba untuk UMKM, alih-alih alokasi budget untuk program loyalitas, coba dialihkan untuk promosi yang menjangkau pelanggan baru. Bikin konten yang bikin orang penasaran. Kasih sampling gratis. Buka di lokasi baru. Bikin produk dalam kemasan yang gampang dicoba tanpa komitmen besar.
Karena pada akhirnya, seperti kata Byron Sharp, masalah Anda bukan kurang loyalitas. Masalah Anda adalah kurang pelanggan. Dan solusinya jauh lebih sederhana (dan murah) dari yang Anda bayangkan.
Anjrah Ari Susanto, S.Psi.
Founder & Pengajar Alanotech
Penulis dan pengamat pemasaran berlatar belakang psikologi. Fokus membantu UMKM Indonesia memahami sains pemasaran berbasis data, bukan opini.
Disclaimer. Semua materi disusun oleh Anjrah Ari Susanto, S.Psi. dari hasil otodidak belajar ilmu brand Byron Sharp tim riset Ehrenberg-Bass Institute dari sumber sumber publik di internet. Bisa ada kesalahan, do your own research untuk project seriusmu
Ditulis Oleh
Anjrah Ari Susanto, S.Psi.
Anjrah Ari Susanto, S.Psi. adalah brand builder yang mempraktikkan marketing science dari Byron Sharp dan Ehrenberg-Bass Institute. Dia menulis artikel ini untuk membantu UMKM Indonesia tumbuh lewat pemahaman konsumen berbasis data, bukan mitos.