Lewati ke konten utama
SAINS PEMASARAN MITOS vs FAKTA UMKM Strategy

Program Loyalitas Itu Pemborosan untuk Bisnis Kecil

Yang Dilupakan Bisnis Kecil Soal Pelanggan Ringan

Anjrah Ari Susanto
Anjrah Ari Susanto, S.Psi. Brand Builder & Learner
| 24 Juli 2026 | 12 menit baca

Ringkasan

Program loyalitas untuk UMKM lebih sering membakar uang daripada menguntungkan. Byron Sharp membuktikan lewat Hukum Double Jeopardy bahwa sebagian besar penjualan brand berasal dari pelanggan ringan (yang beli jarang), bukan pelanggan setia. Bisnis kecil sebaiknya fokus akuisisi pelanggan baru, bukan retensi pelanggan lama.

Double JeopardyByron SharpEhrenberg-Bass InstitutePelanggan RinganLoyalty ProgramsUMKM IndonesiaMental Availability

01

Bisnis Kecil dan Mimpi "Pelanggan Setia"

Hampir setiap pemilik UMKM punya mimpi yang sama: punya pelanggan setia. Yang datang tiap minggu, yang selalu balik, yang nggak perlu diyakinkan lagi. Yang bahkan merekomendasikan ke temannya tanpa diminta.

Wajar sih. Rasanya menyenangkan kalau ada wajah yang dikenal datang ke warung atau toko kita. Ada rasa bangga: "Ternyata produk saya disukai orang."

Tapi di sinilah masalahnya mulai. Karena mimpi tentang "pelanggan setia" ini sering bikin pemilik bisnis kecil mengambil keputusan yang salah arah. Salah satunya: bikin program loyalitas.

Kenapa ini penting untuk UMKM?

Sebelum kita bahas data sainsnya, perlu dipahami: ini bukan tentang meremehkan pelanggan setia Anda. Pelanggan setia itu nyata dan berharga. Tapi masalahnya, banyak UMKM menghabiskan sumber daya terbatas untuk mengejar sesuatu yang secara statistik tidak akan pernah menjadi mayoritas penjualan mereka - dan melewatkan strategi yang justru bisa menggandakan bisnis.

Penulis sendiri pernah ngerasain ini. Dulu waktu awal kenal pemasaran, rasanya logis banget: "Kalau bisa bikin pelanggan beli 10 kali, kenapa cuma 3 kali?" Ternyata, jawabannya ada di data. Dan datanya cukup mengejutkan.

Byron Sharp, direktur Ehrenberg-Bass Institute di University of South Australia, sudah mengumpulkan data dari ribuan merek di seluruh dunia selama puluhan tahun. Dan temuan utamanya? Sebagian besar penjualan merek mana pun - termasuk yang terbesar - berasal dari pelanggan yang jarang beli.

Bukan pelanggan setia. Bukan pelanggan berat. Tapi pelanggan ringan: orang yang beli dua atau tiga kali setahun, bahkan sekali setahun.

Dan ini berlaku untuk semua merek. Coca-Cola. Nike. Starbucks. Juga warung kopi di pojokan, toko pakaian di Mall, dan penjual sambal di Shopee.


02

Hukum Double Jeopardy - Penjelasan Sederhana

Oke, ini mungkin bagian yang paling counter-intuitive di seluruh artikel ini. Tapi data dari Ehrenberg-Bass Institute konsisten menunjukkan pola yang sama di hampir semua kategori produk:

Merek Besar

Lebih banyak pelanggan + sedikit lebih loyal

Merek Kecil

Lebih sedikit pelanggan + sedikit kurang loyal

Ini yang disebut Hukum Double Jeopardy. Namanya memang dramatis, tapi polanya sederhana:

  • Merek yang lebih besar punya lebih banyak pembeli.
  • Merek yang lebih besar juga punya tingkat pembelian ulang yang sedikit lebih tinggi.
  • Merek yang lebih kecil punya lebih sedikit pembeli.
  • Merek yang lebih kecil juga punya tingkat pembelian ulang yang sedikit lebih rendah.

MITOS "Merek kecil punya pelanggan yang lebih loyal daripada merek besar"

Banyak pemilik bisnis kecil percaya: "Pelanggan kami lebih setia karena kami lebih personal." Sayangnya, data menunjukkan pola sebaliknya. Tidak ada merek niche yang punya pelanggan super loyal dalam jumlah kecil. Ini belum pernah ditemukan di data pemasaran global. Jadi kalau Anda merasa pelanggan Anda "lebih setia" dari pelanggan merek besar, kemungkinan itu persepsi, bukan data.

Yang menarik dari penemuan ini: Double Jeopardy itu ubiquitous - artinya terjadi di mana-mana. Di kategori FMCG, di jasa, di retail, di online. Di Australia, di Eropa, di Asia Tenggara. Polanya sama.

Jadi kalau bisnis kecil Anda punya 100 pelanggan yang masing-masing beli 3 kali setahun, dan bisnis besar punya 10.000 pelanggan yang masing-masing beli 3,2 kali setahun - jangan terkejut. Itu bukan kegagalan strategi Anda. Itu pola alami pasar.

Dan ini membawa kita ke pertanyaan besar: kalau pelanggan ringan itu yang paling banyak, apakah masuk akal menghabiskan uang untuk program yang tujuannya bikin pelanggan lama beli lebih sering?


03

Coca-Cola dan Pelanggan yang Beli Sebulan Sekali

Kalau ada satu merek yang pasti punya "pelanggan super loyal", kan Coca-Cola. Orang-orang minum Coke tiap hari, tiap minggu. Betul?

E... tidak juga.

Menurut data yang dibahas Byron Sharp, sekitar 30-40% penjualan Coca-Cola berasal dari orang yang membeli hanya 1-3 kali per tahun. Bukan per bulan. Per tahun.

30-40%

Penjualan dari pembeli 1-3x/tahun

Terbesar

Kelompok pembeli terbesar = beli 1x/tahun

100jt+

Jumlah pelanggan Coca-Cola global

Universal

Pola ini ada di semua merek & kategori

"Tapi tunggu," mungkin Anda berpikir, "itu Coca-Cola. Produk murah. Beda dong sama produk saya yang lebih mahal."

Penulis juga sempat mikir gitu dulu. Tapi ternyata, pola ini juga berlaku untuk produk dengan harga lebih tinggi. Kopi, pakaian, elektronik. Bedanya hanya di proporsi, bukan di polanya. Kelompok pembeli terbesar untuk hampir semua merek adalah mereka yang beli paling jarang.

Apa artinya ini untuk UMKM?

Kalau Coca-Cola - dengan semua sumber daya, distribusi, dan brand awareness-nya - bergantung pada pelanggan yang beli jarang, apalagi bisnis kecil. Artinya, sumber pertumbuhan terbesar Anda bukan dari membuat pelanggan lama beli lebih sering, tapi dari membuat lebih banyak orang baru mencoba produk Anda. Minimal sekali.

Ini bukan opini penulis, tapi hasil riset Ehrenberg-Bass Institute yang sudah diuji di ribuan merek. Dan ini membawa kita ke pertanyaan: kalau pelanggan ringan itu yang paling banyak, lalu apa gunanya program loyalitas?


04

Loyalty Program - Siapa yang Ikut?

Byron Sharp cukup blak-blakan soal ini. Dalam diskusinya, dia bilang sesuatu yang mungkin terdengar menyakitkan bagi pemilik bisnis kecil:

"Loyalty programs don't do a lot."

Ungkapan Byron Sharp, Ehrenberg-Bass Institute

Kenapa? Karena ada masalah mendasar yang sering dilupakan: siapa yang sebenarnya bergabung dengan program loyalitas Anda?

Coba pikirkan. Ketika Anda bikin kartu member atau program stamp, siapa yang daftar? Bukan orang asing yang belum pernah beli dari Anda. Bukan pelanggan berat dari kompetitor. Yang daftar adalah orang yang sudah membeli dari Anda.

Orang yang sudah beli dari kompetitor? Mereka nggak akan gabung. Kenapa mereka mau gabung program loyalitas merek yang bahkan belum pernah mereka coba?

Contoh yang Menohok

Byron Sharp memberi analogi sederhana: "Saya belum pernah terbang dengan China Southern Airlines. Tentu saja saya nggak jadi anggota program loyalitas mereka." Logikanya sama. Orang yang belum pernah beli dari toko Anda nggak akan daftar member Anda. Jadi program loyalitas cuma mengumpulkan data dari orang yang sudah membeli - tanpa menambah pelanggan baru.

Ini masalah besar untuk UMKM. Karena sumber daya yang Anda punya terbatas. Waktu, uang, tenaga. Kalau program loyalitas cuma "menghargai" pelanggan yang sudah ada tanpa membawa yang baru, maka ROI-nya sangat meragukan.

Yang lebih parah: program loyalitas bisa memperlambat pengalaman pelanggan. Penulis akan bahas ini lebih detail di kasus kopi nanti.

Sebelum itu, mari kita bongkar mitos lain yang sering dipakai pembenaran bikin program loyalitas.


05

Mitos "Retensi Pelanggan Lebih Murah dari Akuisisi"

Kalau ada satu kalimat paling berbahaya dalam dunia pemasaran untuk bisnis kecil, mungkin ini:

"Retensi pelanggan 5x lebih murah dari akuisisi."

Kalimat ini sudah jadi semacam dogma. Dipakai di seminar, di buku bisnis, di webinar. Tapi Byron Sharp dan timnya di Ehrenberg-Bass Institute punya pandangan yang sangat berbeda.

"It's really hard to get more out of existing customers."

Ungkapan Byron Sharp, Ehrenberg-Bass Institute

Kenapa? Karena frekuensi beli pelanggan itu sudah ditentukan oleh kebiasaan dan konteks mereka, bukan oleh usaha Anda. Seseorang yang beli kopi dua minggu sekali, ya dua minggu sekali. Program loyalitas tidak akan mengubah dia jadi beli tiap hari.

Yang bisa Anda lakukan? Membuat lebih banyak orang beli dari Anda. Dan ketika lebih banyak orang beli dari Anda, secara otomatis beberapa dari mereka akan beli lebih sering dari rata-rata - itu Double Jeopardy bekerja.

Analogi Sederhana: Toko Pakaian

Misalnya Anda punya toko pakaian di Yogyakarta. Sekarang Anda buka cabang baru di Semarang. Yang terjadi? Anda mendapat pelanggan baru dari Semarang DAN pelanggan di Yogyakarta jadi sedikit lebih sering beli (karena brand awareness meningkat, kepercayaan naik). Anda tidak perlu program loyalitas untuk ini. Yang Anda perlu: buka di tempat baru. Physical availability.

MITOS "Fokus pada pelanggan yang sudah ada lebih menguntungkan"

Yang menarik, mitos ini bertahan karena ada bias kognitif: pelanggan lama itu wajahnya dikenal, namanya diingat. Kita merasa sudah "punya" mereka. Tapi data menunjukkan: cara terbaik untuk meningkatkan loyalitas pelanggan lama adalah dengan mendapat lebih banyak pelanggan baru. Kedengarannya paradoks, tapi itulah yang terjadi di data.

Jadi bukan "retensi lebih murah dari akuisisi" yang salah secara literal. Tapi cara yang paling efektif untuk "mempertahankan" pelanggan adalah dengan terus mendapat yang baru. Dan program loyalitas justru mengalihkan fokus dari hal itu.


06

Kasus Kopi - Stamp Card yang Memperlambat

Byron Sharp punya cerita menarik tentang kedai kopi. Dan cerita ini sangat relevan untuk UMKM Indonesia yang banyak bergerak di F&B.

Bayangkan: Anda punya kedai kopi kecil. Ramai di pagi hari, jam 7-9. Antrian panjang, semua buru-buru ke kantor. Lalu ada pelanggan yang harus ngoprek dompet cari kartu stamp. Atau minta kasir cari datanya di sistem. Atau nunggu verifikasi point.

"You don't want people fumbling for their loyalty card."

Ungkapan Byron Sharp, Ehrenberg-Bass Institute

Di jam sibuk, yang terpenting adalah kecepatan layanan. Pelanggan mau kopi cepat, tanpa drama. Dan program loyalitas justru menambah langkah yang tidak perlu.

Simulasi: Dampak Stamp Card di Jam Sibuk

Aspek Tanpa Program Dengan Program
Waktu per transaksi ~45 detik ~90 detik (cari kartu, verifikasi)
Kapasitas/jam ~80 pelanggan ~60 pelanggan
Pengalaman pelanggan Cepat, memuaskan Lambat, kadang frustrasi
Biaya operasional Rendah Tinggi (sistem, kartu, admin)

Penulis sendiri pernah ngerasain ini di warung kopi favorit di Malang. Mereka pakai kartu stamp: beli 10, gratis 1. Awalnya senang. Tapi lama-lama malah ribet. Harus inget bawa kartu. Kalau ketinggalan, nggak dapat stamp. Bikin jengkel.

Dan ironisnya: yang bikin penulis balik ke warung itu bukan stamp card-nya. Tapi rasanya enak, tempatnya nyaman, dan dekat dari rumah. Faktor-faktor yang seharusnya jadi fokus utama, bukan program loyalitas.

Jadi kalau Anda pemilik kedai kopi atau warung makan, pertimbangkan dua kali sebelum bikin stamp card. Apalagi kalau jam sibuk Anda sudah padat. Mungkin lebih baik investasikan waktu untuk bikin kopi lebih cepat dan konsisten, daripada bikin sistem loyalitas yang bikin antrian makin panjang.


07

Kasus Supermarket - Member Card yang Sia-sia

Byron Sharp juga membahas kasus nyata yang sangat relevan untuk UMKM Indonesia. Coba bayangkan ini:

Sebuah supermarket di daerah yang tidak punya kompetitor dalam radius tertentu. Mereka memutuskan bikin member card. Alasannya klasik: biar pelanggan setia, biar data, biar bisa promo khusus.

Hasilnya? Nihil.

Penjualan tidak naik secara signifikan. Yang terjadi? Mereka cuma memberikan diskon kepada orang yang sudah beli di sana. Orang yang sudah beli di situ ya tetap beli di situ. Bukan karena member card, tapi karena memang tidak ada pilihan lain di sekitar.

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

1
Supermarket bikin member card dengan poin dan diskon khusus.
2
Yang daftar? Pelanggan yang sudah ada. Karena memang yang datang ke situ ya pelanggan yang sudah beli.
3
Pelanggan baru dari kompetitor? Nggak bergabung. Karena mereka sudah punya kebiasaan beli di tempat lain.
4
Yang terjadi: diskon jadi hadiah untuk pelanggan lama yang sudah pasti beli di situ.
5
Akhirnya? Nilai poin dikurangi secara diam-diam. Karena ternyata cuma bikin biaya naik tanpa pendapatan naik.

Ini cerita yang sering terjadi di Indonesia juga. Banyak minimarket, supermarket, bahkan toko kelontong yang bikin member card tapi ujung-ujungnya cuma "ngasih diskon ke orang yang udah beli." ROI-nya dipertanyakan.

MITOS "Member Card bikin pelanggan lebih setia"

Yang menarik, supermarket tadi akhirnya diam-diam mengurangi nilai poin member mereka. Artinya mereka sendiri menyadari bahwa program itu tidak bekerja seperti yang diharapkan. Tapi mereka tidak bisa menghapusnya begitu saja, karena sudah banyak pelanggan yang bergabung. Jadi mereka memilih cara halus: mengurangi manfaatnya perlahan. Ini bukan strategi. Ini menutup kesalahan investasi.

Pelajaran untuk UMKM: sebelum bikin member card atau program poin, tanyakan pada diri sendiri: "Siapa yang sebenarnya akan bergabung?" Kalau jawabannya "orang yang sudah beli dari saya," maka Anda sedang menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak akan menambah pelanggan baru. Dan itu, menurut sains pemasaran, adalah pemborosan.


08

Apa yang Seharusnya Dilakukan Bisnis Kecil?

Oke, kita sudah bahas kenapa program loyalitas sering tidak efektif untuk UMKM. Tapi pertanyaan besarnya: lalu harus bagaimana?

Byron Sharp dan Ehrenberg-Bass Institute punya jawaban yang berulang-ulang ditekankan: fokus pada dua hal utama.

Mental Availability

Biar orang ingat produk Anda saat butuh. Brand yang mudah diingat = lebih sering dipilih. Bukan karena promosi, tapi karena sudah terpatri di pikiran.

Physical Availability

Biar orang gampang beli produk Anda. Di mana saja, kapan saja, dengan langkah sesedikit mungkin. Kalau produk susah ditemukan, orang akan beli yang lain.

Berdasarkan dua konsep ini, berikut adalah lima strategi yang bisa dicoba UMKM, yang menurut riset lebih efektif dari program loyalitas:

1

Investasikan di Mental Availability

Pastikan orang mengingat nama dan produk Anda saat dibutuhkan. Ini bisa lewat visual yang konsisten, nama yang mudah diingat, dan kehadiran di tempat-tempat yang relevan. Bukan cuma iklan besar, tapi juga kehadiran di media sosial yang konsisten.

2

Perluas Physical Availability

Buat produk Anda gampang ditemukan dan dibeli. Lebih banyak titik penjualan, lebih banyak marketplace, lebih banyak variasi kemasan. Kalau Anda jual sambal, jangan cuma di satu warung. Pasarkan di Shopee, Tokopedia, pasar, dan warung tetangga.

3

Jangkau Lebih Banyak Orang Baru

Ini kunci dari Double Jeopardy. Semakin banyak orang yang beli dari Anda, semakin banyak yang akan beli lebih sering secara natural. Fokus di awareness dan trial, bukan di "memeras" pelanggan lama.

4

Buat Barrier Join Semurah Mungkin

Kalau memang harus ada program apapun, buat yang gampang diikuti. Tanpa kartu, tanpa registrasi ribet, tanpa syarat belanja minimum. Yang penting: bikin pengalaman beli jadi lebih mudah, bukan lebih rumit.

5

Kalau Harus Ada Program, yang Simpel

Misal: "Beli 5 kali, gratis 1." Itu lebih mudah daripada sistem poin yang rumit. Tapi tetap pertimbangkan: apakah ini benar-benar perlu? Kalau bisa dihindari, lebih baik investasikan uangnya ke promosi yang menjangkau orang baru.

Contoh Penerapan: Toko Pakaian di Bandung

Daripada bikin member card, toko pakaian Bandung ini lebih baik: (1) bikin kemasan belanja yang eye-catching supaya orang ingat, (2) jual di Shopee dan TikShop untuk jangkau lebih banyak orang, (3) bikin "hari gajian sale" bulanan yang menarik orang baru coba, (4) kalau ada diskon, kasih ke semua pembeli baru tanpa syarat. Hasilnya? Lebih banyak pelanggan baru = otomatis beberapa jadi pelanggan berat = penjualan naik.


09

Ringkasan dan Renungan

Mari kita tutup dengan kalimat kunci dari Byron Sharp yang menurut penulis sangat powerful untuk pemilik bisnis kecil:

"Your problem is not that you don't get enough loyalty. Your problem is that you don't have enough customers."

Ungkapan Byron Sharp, Ehrenberg-Bass Institute

Kalimat itu sederhana, tapi mungkin mengubah cara Anda melihat bisnis. Selama ini mungkin Anda berpikir: "Gimana caranya bikin pelanggan beli lebih sering?" Tapi pertanyaan yang lebih produktif adalah: "Gimana caranya lebih banyak orang baru mencoba produk saya?"

Lima hal untuk direnungkan:

1

Program loyalitas untuk bisnis kecil umumnya tidak efektif. Yang bergabung sudah jadi pelanggan Anda. Orang dari kompetitor tidak akan daftar. Uang yang dihabiskan untuk program ini bisa lebih baik digunakan untuk hal lain.

2

Double Jeopardy itu nyata. Semakin besar merek, semakin banyak pelanggan DAN sedikit lebih loyal. Tidak ada "merek kecil dengan pelanggan super loyal." Ini pola alami pasar, bukan kegagalan strategi Anda.

3

Pelanggan ringan itu justru sumber pertumbuhan terbesar. Mereka yang beli dua atau tiga kali setahun, bukan yang beli setiap hari. Dan cara mendapat lebih banyak dari mereka adalah dengan menjangkau lebih banyak orang baru.

4

"Retensi lebih murah dari akuisisi" itu mitos yang menyesatkan. Cara terbaik meningkatkan loyalitas pelanggan lama adalah dengan mendapat pelanggan baru. Pelanggan baru yang banyak = beberapa jadi heavy buyer secara natural.

5

Fokus di mental dan physical availability. Bikin orang ingat Anda. Bikin orang gampang beli dari Anda. Itu investasi yang jauh lebih berharga daripada kartu member atau program poin yang ribet.

Penulis sendiri sempat kaget waktu pertama kali baca data ini. Karena rasanya berlawanan dengan intuisi. Kita semua terbiasa dengan narasi "pelanggan setia adalah segalanya." Tapi ternyata, sains pemasaran punya cerita yang berbeda.

Dan yang menarik: ini bukan berarti pelanggan setia itu tidak penting. Mereka penting. Tapi cara terbaik mendapat lebih banyak pelanggan setia bukan dengan bikin program loyalitas. Melainkan dengan mendapat lebih banyak pelanggan secara umum - dan biarkan Double Jeopardy bekerja.

Mungkin worth dicoba untuk UMKM: alih-alih alokasi budget untuk program loyalitas, coba dialihkan untuk promosi yang menjangkau pelanggan baru. Bikin konten yang bikin orang penasaran. Kasih sampling gratis. Buka di lokasi baru. Bikin produk dalam kemasan yang gampang dicoba tanpa komitmen besar.

Karena pada akhirnya, seperti kata Byron Sharp: masalah Anda bukan kurang loyalitas. Masalah Anda adalah kurang pelanggan. Dan solusinya jauh lebih sederhana (dan murah) dari yang Anda bayangkan.

Anjrah Ari Susanto

Anjrah Ari Susanto, S.Psi.

Brand Builder & Learner

Penulis dan pengamat pemasaran berlatar belakang psikologi. Fokus membantu UMKM Indonesia memahami sains pemasaran berbasis data, bukan opini.

Sains Pemasaran UMKM Byron Sharp