Bisnis Kecil dan Mimpi "Pelanggan Setia"
Hampir setiap pemilik UMKM punya mimpi yang sama: punya pelanggan setia. Yang datang tiap minggu, yang selalu balik, yang nggak perlu diyakinkan lagi. Yang bahkan merekomendasikan ke temannya tanpa diminta.
Wajar sih. Rasanya menyenangkan kalau ada wajah yang dikenal datang ke warung atau toko kita. Ada rasa bangga: "Ternyata produk saya disukai orang."
Tapi di sinilah masalahnya mulai. Karena mimpi tentang "pelanggan setia" ini sering bikin pemilik bisnis kecil mengambil keputusan yang salah arah. Salah satunya: bikin program loyalitas.
Kenapa ini penting untuk UMKM?
Sebelum kita bahas data sainsnya, perlu dipahami: ini bukan tentang meremehkan pelanggan setia Anda. Pelanggan setia itu nyata dan berharga. Tapi masalahnya, banyak UMKM menghabiskan sumber daya terbatas untuk mengejar sesuatu yang secara statistik tidak akan pernah menjadi mayoritas penjualan mereka - dan melewatkan strategi yang justru bisa menggandakan bisnis.
Penulis sendiri pernah ngerasain ini. Dulu waktu awal kenal pemasaran, rasanya logis banget: "Kalau bisa bikin pelanggan beli 10 kali, kenapa cuma 3 kali?" Ternyata, jawabannya ada di data. Dan datanya cukup mengejutkan.
Byron Sharp, direktur Ehrenberg-Bass Institute di University of South Australia, sudah mengumpulkan data dari ribuan merek di seluruh dunia selama puluhan tahun. Dan temuan utamanya? Sebagian besar penjualan merek mana pun - termasuk yang terbesar - berasal dari pelanggan yang jarang beli.
Bukan pelanggan setia. Bukan pelanggan berat. Tapi pelanggan ringan: orang yang beli dua atau tiga kali setahun, bahkan sekali setahun.
Dan ini berlaku untuk semua merek. Coca-Cola. Nike. Starbucks. Juga warung kopi di pojokan, toko pakaian di Mall, dan penjual sambal di Shopee.