Lewati ke konten utama
Riset 01 - Karya Macdonald & Sharp (2000)

Kenapa Konsumen Pilih Brand yang Dikenal, Bukan Terbaik

Banyak orang awam percaya konsumen memilih produk berdasarkan kualitas atau harga. Riset ini membuktikan sebaliknya: orang memilih brand yang mereka kenal, meski bukan yang terbaik dan bukan yang termurah. Inilah kekuatan brand awareness sebagai jalan pintas di otak konsumen.

86%

Pilih Brand Dikenal di Percobaan Pertama

462

Responden dalam Riset

2000

Tahun Publikasi

Anjrah Ari Susanto

Disusun oleh Anjrah Ari Susanto, S.Psi.

Brand Builder & Learner

Ringkasan Cepat

Riset Macdonald & Sharp (2000) dari Ehrenberg-Bass Institute membuktikan brand awareness adalah heuristik pilihan dominan: konsumen memilih brand yang dikenal meski bukan yang terbaik atau termurah. Artikel mengurai replikasi dari eksperimen Hoyer & Brown (1990), 5 temuan utama, pola U (orang kembali ke brand familiar), 3 mitos yang dibantah, dan pelajaran actionable untuk pemula branding dan UMKM Indonesia.

Brand AwarenessHeuristik PilihanMacdonald & SharpByron SharpEhrenberg-Bass InstituteHoyer & BrownPola UFamiliarityUMKM Indonesia

Konteks Riset

Asal Usul Riset Ini

Pada tahun 1990, dua peneliti bernama Hoyer dan Brown melakukan eksperimen perintis tentang efek brand awareness pada pilihan konsumen. Mereka ingin tahu: saat orang dihadapkan pada beberapa brand, apakah mereka benar-benar memilih yang terbaik, atau hanya memilih yang mereka kenal?

Sepuluh tahun kemudian, Emma Macdonald dan Byron Sharp dari Ehrenberg-Bass Institute melakukan replikasi (pengulangan riset) dengan sampel jauh lebih besar (462 orang vs 173 orang), produk berbeda (minuman cordial rasa jeruk vs selai kacang), dan menyertakan konsumen berpengalaman, bukan hanya pemula. Hasilnya memperkuat temuan asli.

Inilah salah satu riset paling penting untuk dipahami pengusaha pemula. Karena ia menjawab pertanyaan paling mendasar: kenapa orang beli brand tertentu? Jawabannya bukan "karena terbaik", tapi "karena dikenal".

01. Brand Awareness (ANDA DI SINI)
02. Mitos 80/20 Pareto
03. Target Seluruh Pasar
04. Mengukur Brand Health
01

Pertanyaan yang Dianggap Tabu

Coba Anda jujur pada diri sendiri. Saat berdiri di depan rak toko dengan 10 merek sabun mandi, apakah Anda benar-benar membandingkan kualitas satu per satu? Atau Anda langsung mengambil sabun yang namanya Anda kenal?

Kalau jawabannya yang kedua, Anda tidak sendirian. Hampir semua orang melakukan hal yang sama. Dan inilah pertanyaan tabu yang jarang diajukan guru marketing: apakah konsumen benar-benar rasional saat memilih brand?

Selama puluhan tahun, teori marketing klasik mengajarkan bahwa konsumen melewati proses problem-solving: mengenali kebutuhan, mencari informasi, mengevaluasi alternatif, lalu memilih yang terbaik. Tapi Hoyer pada 1984 sudah menemukan bahwa di banyak situasi pembelian, konsumen adalah pihak pasif yang menghabiskan sedikit waktu dan tenaga mental untuk memilih brand. Evaluasi rinci, kalau terjadi, baru muncul setelah pembelian, bukan sebelumnya.

Inilah celah yang diteliti Macdonald dan Sharp. Mereka ingin tahu: jika orang tidak mengevaluasi secara mendalam, apa sebenarnya yang mereka pakai untuk memutuskan?

Inti Pertanyaan Riset

"Saat konsumen dihadapkan pada beberapa brand dengan kualitas dan harga berbeda, apakah kesadaran terhadap nama brand (brand awareness) cukup kuat untuk mengalahkan pertimbangan kualitas dan harga?"

02

Bagaimana Eksperimen Dilakukan

Riset ini dirancang sebagai eksperimen terkontrol, bukan sekadar survei. Ini penting karena eksperimen bisa membuktikan sebab-akibat, bukan sekadar hubungan.

Langkah 1: Pilih Produk yang Familiar

Produk uji adalah minuman cordial rasa jeruk, produk repeat purchase umum di Australia. Mirip dengan teh botol atau sirup di Indonesia: dibeli berulang, tidak mahal, bukan produk prestise.

Langkah 2: Susun Dua Kondisi

Kondisi awareness: peserta melihat 3 brand, satu sangat dikenal (Cottees, 97% kenal), dua tidak dikenal. Kondisi no-awareness: peserta melihat 3 brand yang sama sekali tidak dikenal.

Langkah 3: Lima Percobaan Berturut-turut

Setiap peserta melakukan 5 kali pemilihan. Setelah memilih, mereka boleh mencicipi dan ditanya "kenapa pilih brand ini?". Ini untuk melihat apakah pola pilihan berubah setelah mereka mencicipi kualitas.

Langkah 4: Manipulasi Harga dan Kualitas

Brand diberi label harga tinggi dan rendah. Kualitas diuji lewat taste test buta sebelumnya. Jadi peneliti tahu mana brand terbaik dan termurah, lalu melihat apakah peserta juga tahu.

Total peserta 462 orang, jauh lebih banyak dari riset asli Hoyer dan Brown (173 orang). Setengah peserta berpengalaman membeli cordial, setengah pemula. Ini membuat hasil lebih realistis untuk dunia nyata.

03

5 Temuan Utama yang Mengejutkan

Hasil eksperimen ini sangat konsisten dengan riset asli Hoyer dan Brown, bahkan memperkuatnya. Berikut lima temuan kunci yang harus diketahui setiap pengusaha:

Temuan 1: 86% Memilih Brand Dikenal di Percobaan Pertama

Saat ada satu brand dikenal di antara tiga pilihan, 86% peserta langsung memilih brand yang dikenal itu di percobaan pertama. Bukan karena terbaik, bukan karena termurah. Hanya karena dikenal.

Temuan 2: Memutuskan Lebih Cepat dan Mencicipi Lebih Sedikit Brand

Peserta di kondisi awareness memutuskan lebih cepat dan mencicipi lebih sedikit brand (rata-rata 1,58 brand) dibanding peserta di kondisi no-awareness (1,86 brand). Artinya awareness membuat orang "puas" lebih cepat dan tidak tergoda mencari alternatif.

Temuan 3: Awareness Lebih Kuat dari Harga

Ketika brand dikenal diberi harga lebih tinggi dari dua kompetitor, sebagian besar peserta tetap memilihnya. Hanya ketika harga brand dikenal benar-benar jauh lebih mahal, jumlah pilihan menurun, tapi tetap lebih banyak dipilih daripada brand tidak dikenal.

Temuan 4: Pola U, Orang Kembali ke Brand Dikenal

Setelah memilih brand dikenal di awal, beberapa peserta mencoba brand lain di percobaan tengah. Tapi di percobaan terakhir, 75% kembali ke brand yang dikenal. Awareness bukan sekadar "pilihan pertama", tapi juga "pilihan akhir".

Temuan 5: Kualitas Tidak Dapat Mengalahkan Awareness

Hipotesis bahwa "konsumen akan menemukan brand berkualitas terbaik setelah mencicipi" mendapat dukungan paling lemah. Tanpa brand awareness, orang memilih brand berkualitas terbaik hanya sekitar 36% dari waktu, hampir sama dengan tebakan acak.

04

Apa Itu Heuristik Pilihan?

Kata heuristik terdengar rumit, tapi idenya sederhana. Heuristik adalah jalan pintas mental yang dipakai otak untuk memutuskan sesuatu dengan cepat, tanpa harus berpikir panjang.

Bayangkan Anda di tol, lapar, dan melihat plang restoran. Anda tidak akan berhenti, baca menu satu per satu, bandingkan harga, lalu putuskan. Anda akan langsung masuk ke restoran yang logonya Anda kenal. Itu heuristik.

Riset ini membuktikan bahwa brand awareness adalah heuristik pilihan yang paling dominan untuk produk repeat purchase. Saat seseorang melihat brand yang dikenal, otak mereka langsung bilang: "Saya pernah dengar brand ini, jadi pasti aman, saya pilih ini saja."

Heuristik Awareness

"Saya pilih brand yang saya kenal."

Dipakai 48,3% peserta di percobaan pertama. Alasan paling sering disebutkan.

Heuristik Lainnya

"Saya pilih yang kemasannya menarik" atau "yang harganya termurah".

Dipakai jauh lebih sedikit. Kemasan 8,1% (dengan awareness), harga 2,7% (dengan awareness).

Yang menarik: di kondisi tanpa awareness (semua brand tidak dikenal), alasan "kemasan" melonjak jadi 34,3% dan "harga" jadi 10,8%. Artinya saat orang tidak kenal brand mana pun, mereka cari jalan pintas lain. Tapi begitu ada satu brand yang dikenal, heuristik awareness langsung mendominasi.

05

Awareness Lebih Kuat dari Harga

Bagian ini adalah pelajaran paling mahal untuk pengusaha yang tergoda "bersaing dengan harga". Riset ini membagi peserta menjadi dua kelompok: yang melihat brand dikenal dengan harga rendah, dan yang melihat brand dikenal dengan harga tinggi.

Brand Dikenal, Harga Rendah

93% memilih di percobaan pertama, 82% di percobaan terakhir. Hampir semua orang memilih brand yang dikenal dan murah.

Brand Dikenal, Harga Tinggi

72% memilih di percobaan pertama, 60% di percobaan terakhir. Turun, tapi tetap mayoritas. Bahkan mahal, brand dikenal masih lebih sering dipilih.

Perhatikan: meski brand dikenal dijual lebih mahal dari kompetitor, 60% orang tetap memilihnya di akhir percobaan. Ini bukan 60% dari total, tapi 60% dari orang yang sengaja diberi situasi "brand dikenal lebih mahal". Harga memang mengurangi pilihan, tapi tidak mengalahkan awareness.

Pelajaran untuk UMKM: menjual produk lebih murah dari kompetitor yang sudah dikenal tidak akan otomatis membuat orang pindah. Selama kompetitor lebih dikenal, harga murah Anda hanya menarik sebagian kecil pembeli. Lebih baik alokasikan energi untuk membangun awareness daripada terus menekan harga.

06

Pola U: Orang Kembali ke Brand Dikenal

Salah satu temuan paling tidak terduga adalah pola U dalam lima percobaan. Peneliti awalnya mengira penggunaan awareness sebagai heuristik akan menurun seiring waktu, karena peserta sudah mencicipi kualitas brand lain. Ternyata tidak.

Persentase Pilih Brand Dikenal per Percobaan

86%

Percobaan 1

77%

Percobaan 2

69%

Percobaan 3

73%

Percobaan 4

75%

Percobaan 5

Turun di tengah, naik lagi di akhir. Bentuk huruf U.

Artinya: beberapa orang memang mencoba brand lain di tengah, tapi kebanyakan kembali ke brand yang dikenal. Ini bukan karena brand dikenal lebih enak (kualitas sudah diuji dan tidak selalu yang terbaik). Ini karena otak lebih nyaman dengan yang familiar.

Fenomena ini cocok dengan teori habitual choice (pilihan kebiasaan). Konsumen tidak benar-benar "mengevaluasi ulang" setiap kali beli. Mereka punya brand repertoar (kumpulan brand yang biasa dibeli), dan dari repertoar itu, brand yang paling dikenal paling sering dipilih.

07

3 Mitos yang Dibantah Riset Ini

Mitos 1: "Konsumen Memilih Berdasarkan Kualitas"

Banyak orang awam percaya kalau produk mereka benar-benar bagus, konsumen akan tahu dan membeli. Riset ini membuktikan sebaliknya: tanpa awareness, orang hanya memilih brand berkualitas terbaik sekitar 36% dari waktu, hampir sama dengan tebakan acak. Kualitas saja tidak cukup. Orang harus tahu dulu brand Anda ada, baru mereka bisa memilih.

Mitos 2: "Harga Lebih Penting dari Brand"

Pengusaha UMKM sering tergoda bersaing dengan harga, mengira "kalau lebih murah, orang pasti pindah". Riset ini menunjukkan efek harga hanya moderat, sementara efek awareness dominan. Brand dikenal yang dijual lebih mahal tetap dipilih 60% peserta. Mengejar harga termurah adalah perang yang sulit dimenangkan jika kompetitor lebih dikenal.

Mitos 3: "Konsumen Rasional Mengevaluasi Semua Opsi"

Teori marketing lama mengajarkan konsumen melewati proses problem-solving: kenali kebutuhan, cari info, evaluasi alternatif, pilih. Riset ini mendukung temuan Hoyer (1984) bahwa konsumen adalah pihak pasif yang menghabiskan sedikit tenaga mental. Mereka pakai jalan pintas, dan jalan pintas utamanya adalah "pilih yang saya kenal".

08

Kesimpulan & Pelajaran untuk UMKM

Riset Macdonald dan Sharp (2000) memberikan bukti kuat bahwa brand awareness bukan sekadar metrik vanity (angka yang bagus dipajang tapi tidak berguna). Awareness adalah mesin pengambilan keputusan di otak konsumen. Orang memilih yang dikenal, lebih cepat, lebih sedikit mencari alternatif, dan kembali lagi meski sudah mencoba yang lain.

Untuk pemula dan UMKM, pelajaran praktisnya:

1. Bangun awareness sebelum bicara kualitas. Orang tidak akan mencicipi kualitas Anda kalau mereka tidak kenal Anda. Investasi pertama adalah membuat nama brand Anda dikenal, bukan menyempurnakan produk.

2. Jangan terjebak perang harga. Harga murah tidak mengalahkan awareness. Lebih baik alokasikan budget ke hal yang membuat orang ingat nama Anda: konten rutin, distribusi luas, aset brand yang konsisten.

3. Konsistensi mengalahkan variasi. Pola U membuktikan orang kembali ke yang familiar. Ganti nama, logo, atau pesan terus-menerus justru merusak familiarity. Pertahankan aset brand yang sama selama bertahun-tahun.

4. Reach lebih banyak orang. Awareness dibangun dengan muncul di mata banyak orang, bukan mengulang pesan yang sama ke sedikit orang. Ini akan dibahas lebih dalam di artikel berikutnya tentang target seluruh pasar.

"Brand awareness seems to play an important part in explaining habitual choice patterns. The research results fit with the observed empirical regularity that consumers tend to maintain brand repertoires from which choice is made."

- Macdonald & Sharp, Journal of Business Research, 2000

Apa Selanjutnya?

Sekarang Anda sudah tahu bahwa awareness adalah kunci. Tapi pertanyaan berikutnya: ke siapa Anda harus membangun awareness? Apakah ke pelanggan setia Anda, atau ke orang yang belum pernah beli? Artikel berikutnya akan membantah mitos 80/20 dan menunjukkan bahwa pertumbuhan justru datang dari pembeli ringan dan non-pembeli.

Lanjut ke Riset 02: Mitos 80/20 Pareto →
Anjrah Ari Susanto

Disusun Oleh

Anjrah Ari Susanto, S.Psi.

Brand Builder & Learner yang fokus pada penerapan sains marketing berbasis bukti. Menyusun rangkaian artikel riset Byron Sharp untuk membantu pengusaha pemula dan UMKM Indonesia memahami temuan ilmiah tentang cara konsumen memilih brand.

Brand Awareness Heuristik Pilihan Consumer Psychology Byron Sharp Method

Baca Juga

Artikel Terkait

Susun pemahaman Anda dari dasar hingga lanjut

Riset 02

Riset 02: Mitos 80/20 Hukum Pareto 60/20

Sharp, Romaniuk & Graham (2019): pembeli ringan dorong tumbuh

Riset 03

Riset 03: Target Seluruh Pasar Tumbuh

Whitepaper thinktv & MediaCom: 7 aturan brand growth

Riset 04

Riset 04: Mengukur Kesehatan Brand

6 modul brand tracking ala Byron Sharp

Panduan

Panduan Brand Byron Sharp: 18 Prinsip Sains Marketing

Ringkasan padat How Brands Grow untuk pasar Indonesia

Tutorial

Tutorial Brand Byron Sharp (18 Bab)

Tutorial lengkap dari teori hingga praktik brand di Indonesia

Purpose

Brand "Peduli Lingkungan" Itu Omong Kosong

Mitos brand purpose vs fakta mental availability

Availability

Bukan Salah Produk, Salah Jual

Physical availability: kenapa produk enak tapi sepi pembeli

Loyalty

Program Loyalitas Itu Pemborosan

Double jeopardy: pelanggan ringan lebih penting dari setia

01

Psikografis 01: Pintu Masuk Pikiran (CEP)

Category Entry Points & 7W framework

02

Psikografis 02: Emosi sebagai Pemicu Ingatan

Spreading activation & memory cues

03

Psikografis 03: Tiga Keinginan Dasar

Self-Determination Theory (Deci & Ryan)

04

Psikografis 04: Nilai sebagai Momen Beli

Schwartz Value Survey & nilai Indonesia

05

Psikografis 05: Karakter Brand yang Diingat

Jennifer Aaker & distinctive brand assets

Strategist

Brand Bukan Cuma Logo: Cara Berpikir Brand Strategist Holistik

Holistic loop, psychographics, strategic communication, 5 fase brand

Komunikasi

Komunikasi Brand yang Bekerja untuk UMKM

Psikografis, semiotika, framing, sampai trust

Komparasi

Sanny Freudian vs Byron Sharp: 8 Titik Tegang

Psychographics vs mental availability, plus jalan tengah UMKM

Disclaimer: Disusun oleh Anjrah Ari Susanto, S.Psi. dari hasil secara personal belajar ilmu brand Byron Sharp tim riset Ehrenberg-Bass Institute