Lewati ke konten utama
SAINS PEMASARAN MITOS vs FAKTA

Brand Peduli Lingkungan Itu Omong Kosong: Apa Bikin Beli

Berdasarkan riset Byron Sharp & Ehrenberg-Bass Institute, bukan opini, bukan feeling, tapi data.

Anjrah Ari Susanto
Anjrah Ari Susanto, S.Psi. Brand Builder & Learner
24 Juli 2026 12 menit baca

Ringkasan

Brand purpose ("peduli lingkungan", "berkelanjutan") tidak membangun mental availability. Riset Byron Sharp & Ehrenberg-Bass Institute membuktikan konsumen tidak tahu brand mana yang lebih sustainable, dan purpose bukan pemicu pembelian. Yang sebenarnya bikin orang beli: mental availability (mudah diingat) dan physical availability (mudah dibeli).

Brand PurposeMental AvailabilityPhysical AvailabilityByron SharpEhrenberg-Bass InstituteUMKM IndonesiaDistinctive Assets

01

"Belinya Karena Peduli Lingkungan". Benarkah?

Hampir setiap pekan, kita lihat brand baru bermunculan dengan klaim serupa: "Kami peduli lingkungan." "Setiap pembelian, kami tanam pohon." "Zero waste untuk masa depan." Klaim-klaim ini begitu umum sampai terasa seperti syarat wajib untuk memulai bisnis.

Tapi pertanyaan sederhana yang jarang diajukan: Apakah itu benar-benar bikin orang beli?

Penulis sendiri sempat ragu waktu pertama kali baca data ini. Karena secara logika, tentu saja konsumen modern ingin mendukung brand yang baik, kan? Bukannya tren dunia sudah ke arah sana?

"People care about the world, but they don't even know which brands are the more sustainable ones."

Ungkapan Byron Sharp, How Brands Grow

Artinya: fokus pada purpose akan membuat Anda kehilangan fokus dari hal-hal yang sebenarnya membangun bisnis. Dan untuk bisnis kecil, ini sangat berbahaya. Karena bisnis kecil tidak punya "cadangan energi" seperti brand besar. Satu kesalahan alokasi sumber daya bisa berarti tutup permanen.

Misalnya, brand fashion internasional yang rajin kampanye recycled materials di TV dan media sosial. Mereka sudah melakukan ini selama bertahun-tahun. Tapi ketika konsumen ditanya, sebagian besar tidak bisa menyebutkan brand itu punya komitmen sustainability. Angkanya benar-benar mengejutkan, dan ini brand dengan budget iklan ratusan juta dolar.

Ini bukan pendapat penulis, melainkan temuan riset. Dan data ini datang dari lembaga riset paling serius di dunia tentang bagaimana brand tumbuh: Ehrenberg-Bass Institute for Marketing Science, yang berpusat di University of South Australia.

!

Catatan Penting

Artikel ini bukan mengatakan peduli lingkungan itu buruk. Peduli lingkungan itu bagus. Yang sedang dibahas adalah: apakah itu efektif sebagai strategi branding? Dua hal yang sangat berbeda.


02

Riset yang Mengejutkan dari Ehrenberg-Bass

Ehrenberg-Bass Institute bukan lembaga kecil. Mereka adalah pusat riset pemasaran ilmiah terbesar di dunia, didanai oleh brand-brand global seperti P&G, Nestlé, Unilever, dan Coca-Cola. Riset mereka jadi dasar buku How Brands Grow yang jadi rujukan pemasaran modern.

Dalam riset tentang brand purpose, mereka melakukan survei di beberapa negara: Amerika Serikat, Eropa, dan Australia. Mereka bertanya kepada ribuan konsumen tentang pengetahuan mereka terhadap brand-brand yang secara terang-terangan menggunakan pesan sustainability dan purpose.

10-20

Tahun brand-brand itu sudah berjalan dengan pesan purpose

Rendah

Tingkat awareness konsumen, disebut "astonishingly low"

Bayangkan: brand-brand yang sudah belasan hingga puluhan tahun menghabiskan budget besar untuk kampanye "kami peduli bumi", awareness konsumen tentang hal itu sangat rendah. Byron Sharp menyebut angkanya "astonishingly low", mengherankan rendahnya.

Tapi ada bagian yang lebih mengejutkan lagi. Tim riset Ehrenberg-Bass melakukan eksperimen yang brilian: mereka menambahkan pernyataan purpose palsu ke dalam survei. Artinya, mereka mengarang purpose untuk brand-brand yang sebenarnya tidak punya kampanye sustainability.

!?

Hasilnya?

Beberapa brand dengan purpose palsu mendapat skor awareness yang hampir sama dengan brand yang benar-benar sudah berinvestasi besar dalam kampanye sustainability. Artinya? Orang-orang hanya menebak. Mereka tidak benar-benar tahu.

Penulis sendiri terus terang kaget waktu pertama kali membaca temuan ini. Karena selama ini narasi di media sosial dan seminar marketing seolah-olah purpose adalah "the new competitive advantage." Tapi data bilang lain.


03

Kenapa Purpose Tidak Membangun Mental Availability?

Untuk memahami kenapa purpose tidak bekerja, kita perlu memahami konsep mental availability, salah satu konsep paling penting dalam buku How Brands Grow.

Konsep ini mungkin terdengar teknis, tapi idenya sangat sederhana. Dan begitu Anda memahaminya, Anda akan melihat mengapa banyak strategi branding yang selama ini dianggap "pasti berhasil" ternyata tidak efektif.

Mental Availability = Daya Ingat saat Butuh

Mental availability adalah kemampuan brand untuk terpikir di benak konsumen pada momen pembelian. Ketika seseorang butuh sepatu baru, brand mana yang pertama muncul di pikirannya? Itulah mental availability.

Byron Sharp secara eksplisit menyatakan: "Purpose certainly does not build mental availability." Kenapa? Karena purpose tidak menciptakan trigger yang kuat di benak konsumen.

"No one goes into a shoe store and says, 'I want to buy the shoes that help Africa.'"

Ungkapan Byron Sharp

Coba pikirkan dalam konteks Indonesia. Saat Anda butuh asuransi mobil, apakah Anda berpikir: "Saya mau yang peduli lingkungan"? Atau lebih mungkin: "Saya mau yang iklannya sering muncul, yang gampang dihubungi"?

Di Amerika, ada contoh klasik: GEICO. Mereka punya maskot kadal hijau yang ikonik. Byron Sharp pernah berkata, "I need car insurance. The one with the lizard." Kadal itu bukan purpose, itu distinctive brand asset yang membuat GEICO gampang diingat. Orang membeli GEICO bukan karena kadal itu peduli lingkungan, tapi karena kadal itu membuat GEICO mudah diingat.

Dalam konteks yang lebih dekat: ketika Anda lapar di jalanan dan memikirkan "nasi goreng," apakah pikiran pertama Anda adalah nasi goreng dari restoran yang menanam pohon untuk setiap porsi yang terjual? Atau nasi goreng gerobak langganan yang tiap lewat selalu ramai? Jawaban jujurnya cukup menyakitkan bagi para penganut brand purpose.

Analogi Sederhana

Bayangkan dua toko sembako di kampung Anda:

  • Toko A: Papan bertuliskan "Kami peduli lingkungan, kemasan ramah alam" tapi tokonya agak tersembunyi di gang.
  • Toko B: Toko di pinggir jalan utama, tulisan besar "MURAH!", parkir luas, dan penjualnya hafal nama Anda.

Siapa yang lebih sering didatangi? Purpose tidak membangun mental availability. Yang membangunnya adalah ketersediaan fisik dan daya ingat.


04

"Tapi Kok Nike dan Patagonia Berhasil?"

Ini pasti pertanyaan pertama yang muncul di benak banyak orang. Dan penulis sendiri sempat berpikir begitu sebelum melihat datanya lebih dalam.

Nike punya kampanye "Just Do It" yang seringkali bermuatan pesan sosial. Patagonia secara terang-terangan bilang "Don't Buy This Jacket." Keduanya sering dijadikan bukti bahwa "purpose works."

1

Survivorship Bias

Kita melihat Nike dan Patagonia karena mereka berhasil. Kita tidak melihat ribuan brand lain yang mencoba pendekatan serupa dan gagal total. Ini namanya survivorship bias, yaitu melihat pemenang dan mengabaikan yang kalah.

2

Berhasil DESPITE Purpose, Bukan KARENA Purpose

Nike punya mental availability yang masif, nama mereka terpikir kapan pun seseorang memikirkan sepatu olahraga. Mereka punya physical availability yang luar biasa, toko di mana-mana dan mudah ditemukan di e-commerce. Purpose hanyalah lapisan tambahan, bukan fondasi pertumbuhan mereka.

3

Budget Ratusan Juta Dolar

Nike menghabiskan sekitar $3.8 miliar per tahun untuk iklan. Patagonia, meskipun lebih kecil, punya brand awareness yang sudah terbangun selama puluhan tahun. UMKM mana yang punya anggaran seperti itu? Membandingkan diri dengan Nike dalam konteks purpose adalah seperti membandingkan warung dengan hotel bintang lima.

"Why brands stay big is about their marketing."

Ungkapan Byron Sharp

Patagonia tetap besar bukan karena "Don't Buy This Jacket." Patagonia tetap besar karena mereka sudah menjadi kategori yang dominan di benak konsumen yang mencari outdoor gear premium. Purpose mereka adalah bonus, bukan mesin penjualan.

Analogi untuk UMKM:

Mengikuti strategi Nike atau Patagonia untuk UMKM ibarat meniru gaya hidup Bill Gates untuk memulai usaha warung kopi. Yang perlu dicatat dari mereka bukan apa yang mereka lakukan (purpose), tapi kondisi yang mereka miliki (dominasi mental dan fisik yang sudah puluhan tahun terbangun). UMKM perlu membangun fondasi itu dulu, baru kemudian bisa bermain di level purpose. Dan bahkan saat itu terjadi, purpose tetap bukan pendorong utama penjualan.


05

Bahaya Purpose untuk Bisnis Kecil

Jika purpose tidak bekerja untuk brand besar sekalipun, bagaimana dengan UMKM? Inilah bagian yang paling penting untuk dibaca oleh para pelaku usaha kecil dan menengah di Indonesia.

Byron Sharp secara eksplisit memperingatkan:

"It's probably going to lose your business, because it's going to take your eye off the ball."

Ungkapan Byron Sharp

Artinya: fokus pada purpose akan membuat Anda kehilangan fokus dari hal-hal yang sebenarnya membangun bisnis. Dan untuk bisnis kecil, ini sangat berbahaya.

Rincian Bahaya untuk UMKM:

  • 1.
    Budget Terbatas jadi Terpecah

    Uang yang seharusnya untuk iklan, expand toko, atau improve produk, malah dialokasikan untuk "messaging sustainability" yang tidak meningkatkan awareness.

  • 2.
    Mengorbankan Reach

    Setiap rupiah yang dihabiskan untuk cerita "purpose" adalah rupiah yang tidak dihabiskan untuk membuat lebih banyak orang tahu produk Anda ada.

  • 3.
    Menciptakan Ekspektasi yang Tidak Realistis

    Anda berharap orang membeli karena purpose. Tapi mereka tidak. Lalu Anda bingung kenapa penjualan tidak naik.

  • 4.
    Survival First

    UMKM yang baru jalan, survival-nya saja sudah sulit. Fokus pada purpose ibarat mempercantik interior rumah saat atap masih bocor.

!

Bukan Berarti UMKM Tidak Boleh Peduli Lingkungan

Ini hanya soal efektivitasnya sebagai strategi branding. Anda boleh, dan memang sebaiknya, peduli lingkungan. Tapi jangan jadikan itu alasan utama orang harus membeli dari Anda. Jadikan itu tindakan, bukan slogan.

Pertimbangkan skenario sederhana ini. Seorang pengusaha kopi kecil di Yogyakarta punya dua pilihan alokasi budget Rp 5 juta per bulan:

Opsi A: Fokus Purpose

  • Rp 2 juta untuk kemasan "eco-friendly"
  • Rp 1.5 juta untuk konten Instagram tentang sustainability
  • Rp 1 juta untuk sertifikasi organik
  • Rp 500 ribu untuk iklan (sisa budget)

Reach: Terbatas. Awareness: Rendah. Penjualan: Stagnan.

Opsi B: Fokus Availability

  • Rp 2.5 juta untuk iklan di GoFood & marketplace
  • Rp 1.5 juta untuk promosi diskon & sampling
  • Rp 1 juta untuk billboard kecil di depan toko

Reach: Luas. Awareness: Naik. Penjualan: Bertumbuh.

Opsi A terdengar lebih "keren" dan "sejalan dengan tren." Tapi Opsi B yang benar-benar menggerakkan bisnis. Dan yang paling penting: ketika bisnis sudah besar dari Opsi B, barulah Anda punya resource untuk berbuat lebih bagi lingkungan. Dan itu akan jauh lebih berdampak.


06

Kasus: Toko Fashion "Sustainable" vs Toko yang Gampang Ditemukan

Mari kita lihat kasus nyata dalam format perbandingan sederhana. Bayangkan dua toko fashion di kota Bandung.

Toko A

GreenWear Bandung

"Fashion sustainable untuk masa depan"

  • Bahan dari recycled cotton
  • Kemasan ramah lingkungan
  • 10% keuntungan untuk penanaman pohon
  • Toko di gang sempit, sulit parkir
  • Harga 30% lebih mahal
  • Minim iklan, hanya social media organik
  • Stock terbatas, sering kosong

Kondisi: Sepi pembeli. Pengunjung toko 15-20/hari.

Toko B

Toko Fashol

"Murah, lengkap, dekat rumah"

  • Toko di jalan utama, parkir luas
  • Harga terjangkau untuk semua kalangan
  • Stok lengkap, variasi banyak
  • Iklan di marketplace, Google, dan billboard kecil
  • Pelayanan ramah, penjual hafal nama pelanggan
  • Tidak ada klaim sustainability
  • Kemasan plastik biasa

Kondisi: Ramai setiap hari. Pengunjung 150-200/hari.

Mana yang lebih banyak menjual? Toko B, tanpa diskusi. Bukan karena Toke Fashol lebih baik secara moral, tapi karena Toko Fashol punya mental availability (orang ingat mereka saat butuh baju) dan physical availability (mudah ditemukan, mudah dibeli).

GreenWear punya pesan yang lebih mulia? Mungkin. Tapi kemuliaan tidak membayar sewa toko. Dan yang paling penting: pelanggan GreenWear sendiri pun mungkin tidak tahu 10% keuntungan itu ke mana, karena mereka beli di sana karena desainnya bagus, bukan karena pohon yang ditanam.

?

Pertanyaan Jujur untuk GreenWear

Jika GreenWear menghapus semua pesan sustainability dari tokonya, menghapus kata "sustainable" dari papan nama, mengganti kemasan plastik biasa, dan berhenti iklan soal pohon, apakah penjualan mereka akan turun signifikan?

Kemungkinan besar: tidak. Karena sebagian besar pelanggan mereka beli karena desain dan kualitas, bukan karena pesan lingkungan. Purpose mereka mungkin memberikan rasa puas secara internal, tapi bukan mesin penjualan.


07

Kasus: Restoran "Organik" yang Sepi vs Warung Nasi yang Ramah

Contoh lain, kali ini dari dunia F&B. Bandingkan restoran organik di area kelas menengah atas dengan warung nasi padang di pinggir jalan raya.

Restoran "Rasa Bumi"

  • Semua bahan dari petani lokal organik
  • Tidak pakai plastik, kemasan daun pisang
  • Tagline: "Makan sehat, selamatkan bumi"
  • Menu terbatas, harga premium
  • Tersedia di satu lokasi saja
  • Promosi: Instagram only

Pengunjung rata-rata: 20-30 orang/hari

Warung Nasi Padang "Selera Minang"

  • Lokasi di tiga titik strategis dekat kantor dan terminal
  • Harga terjangkau, porsi besar
  • Rasa konsisten sudah 15 tahun
  • Buka dari pagi sampai malam
  • Gampang ditemukan di GoFood dan GrabFood
  • Pelayan ramah, pelanggan tetap banyak

Pengunjung rata-rata: 150-200 orang/hari

"Rasa Bumi" mungkin punya misi yang lebih mulia. Tapi warung "Selera Minang" punya sesuatu yang jauh lebih berharga dari sudut pandang bisnis: ketersediaan. Mereka ada di mana-mana, mudah diingat, dan gampang dipesan.

Dan ini bukan soal siapa yang lebih "baik." Ini soal fakta pasar. Konsumen membeli dari tempat yang mudah diingat dan mudah dijangkau. Bukan dari tempat yang punya cerita paling menyentuh hati.

Mental

Selera Minang terpikir duluan saat seseorang bilang "mau makan enak"

Fisik

Selera Minang ada di tiga lokasi + GoFood + GrabFood = gampang dibeli kapan saja

?

Refleksi Jujur

Jika "Rasa Bumi" menutup besok, berapa banyak orang yang akan merasa kehilangan dibandingkan jika "Selera Minang" menutup? Jawaban jujurnya mungkin menyakitkan. Tapi data tidak berbohong.


08

Jadi, Harusnya Bagaimana?

Setelah membaca semua data di atas, pertanyaannya jadi: kalau purpose bukan strategi branding yang efektif, lalu apa yang harus dilakukan UMKM?

Penulis ingin menegaskan sekali lagi: peduli lingkungan itu bagus. Itu benar. Itu harus. Tapi jadikan itu tindakan nyata yang Anda lakukan karena itu hal yang benar, bukan karena Anda pikir itu akan menarik lebih banyak pembeli.

Yang harus jadi fokus utama:

1

Bikin Orang Ingat Anda (Mental Availability)

Apa yang membuat brand Anda terpikir saat seseorang butuh produk seperti yang Anda jual? Fokus pada hal itu. Mungkin nama yang unik, mungkin warna yang mencolok, mungkin slogan yang gampang diingat. Bukan purpose.

2

Bikin Orang Gampang Beli dari Anda (Physical Availability)

Produk Anda harus mudah ditemukan dan mudah dibeli. Toko di lokasi strategis. Hadir di marketplace. Bisa dipesan lewat WhatsApp. Stok selalu ada. Harga jelas. Tanpa hal ini, purpose sehebat apa pun tidak ada gunanya.

3

Bangun Penetrasi, Bukan Loyalty

Lebih penting punya 1000 orang yang beli sekali dari Anda daripada 10 orang yang beli berulang tapi tidak bertambah. Fokus menjangkau lebih banyak orang, bukan memperdalam hubungan dengan sedikit orang. Ini prinsip dasar dari How Brands Grow.

Tentu saja, purpose bisa menjadi distinctive brand asset jika dilakukan secara konsisten selama puluhan tahun dengan budget besar, seperti kadal GEICO. Tapi itu butuh waktu puluhan tahun dan investasi masif. Jangan berharap itu terjadi dalam 2-3 tahun.

!

Kesimpulan Praktis

Lakukan aksi lingkungan karena itu benar. Tapi jangan jadikan itu strategi penjualan. Gunakan uang dan waktu Anda untuk hal-hal yang benar-benar membangun brand: ketersediaan mental dan fisik. Survival dulu, kemudian baru bisa berbuat baik untuk lingkungan secara konsisten.


09

Ringkasan untuk Renungan

Kita sudah menempuh perjalanan panjang dari data Byron Sharp dan Ehrenberg-Bass Institute. Mari tutup dengan beberapa hal untuk direnungkan.

"Purpose certainly does not build mental availability."

Ungkapan Byron Sharp, How Brands Grow

Data dari Ehrenberg-Bass Institute menunjukkan dengan sangat jelas bahwa purpose, seberapa mulia pun tujuannya, bukan pendorong pembelian. Konsumen membeli karena mereka mengingat brand Anda dan karena brand Anda mudah ditemukan. Titik.

3 Pertanyaan untuk Direnungkan oleh Pemilik UMKM:

1

Ketika seseorang butuh produk seperti yang saya jual, apakah nama saya yang pertama terpikir?

Jika tidak, purpose tidak akan menyelesaikan masalah ini. Yang dibutuhkan adalah strategi brand building yang nyata.

2

Apakah produk saya mudah ditemukan dan dibeli oleh target pasar saya?

Kalau orang harus mencari keras untuk menemukan Anda, tidak ada pesan purpose yang bisa menutupi itu.

3

Apakah saya berinvestasi di reach (jangkauan) atau di cerita (purpose)?

Budget terbatas. Setiap rupiah untuk cerita purpose adalah rupiah yang tidak dihabiskan untuk membuat lebih banyak orang tahu produk Anda ada.

Penulis sendiri berharap artikel ini tidak disalahartikan sebagai serangan terhadap gerakan lingkungan. Menyelamatkan lingkungan adalah urusan nyata yang mendesak. Tapi menggunakan isu lingkungan sebagai tameng marketing, dengan harapan itu akan menarik pembeli, adalah strategi yang tidak didukung oleh data.

Pola Pikir yang Perlu Diubah:

"Kami peduli lingkungan, jadi orang harus beli dari kami."

"Kami peduli lingkungan, DAN kami juga memastikan orang gampang menemukan produk kami."

"Purpose kami adalah diferensiasi kami."

"Ketersediaan mental dan fisik kami adalah diferensiasi kami. Purpose itu sesuatu yang kami lakukan, tapi bukan untuk dijual."

Jadilah brand yang peduli lingkungan karena itu hal yang benar. Tapi jangan berharap itu jadi alasan orang beli dari Anda. Jadikan itu tindakan, bukan slogan. Dan sambil melakukan itu, bangunlah mental availability dan physical availability, dua hal yang benar-benar bikin brand bertumbuh.

Referensi:

  • Sharp, B. (2010). How Brands Grow: What Marketers Don't Know. Oxford University Press.
  • Sharp, B. (2020). How Brands Grow Part 2. Byron Sharp / Ehrenberg-Bass Institute.
  • Ehrenberg-Bass Institute for Marketing Science, University of South Australia.
  • Browaeys, W. & Sharp, B. (2019). "Can Brand Purpose Pay Off?" Research paper, Ehrenberg-Bass Institute.