Target Seluruh Pasar: 7 Aturan Brand Growth ala Byron Sharp
Era digital membuat targeting terlihat seperti jawaban semua masalah marketing. Tapi Byron Sharp membuktikan sebaliknya: brand tumbuh dengan menjangkau seluruh pembeli kategori, bukan segmen sempit. Penetrasi tiga kali lebih mungkin mendorong pertumbuhan dibanding loyalitas. Inilah rahasia brand yang benar-benar tumbuh.
3x
Penetrasi Lebih Mungkin Dorong Tumbuh
22% vs 7%
Efek Besar: Penetrasi vs Loyalitas
7
Aturan Brand Growth
Disusun oleh Anjrah Ari Susanto, S.Psi.
Brand Builder & Learner
Ringkasan Cepat
Whitepaper thinktv & MediaCom menerapkan prinsip Byron Sharp: penetrasi pasar lebih penting dari loyalitas. Reach ke pembeli ringan dan non-pembeli adalah kunci tumbuh. Artikel mengurai kisah Quorn dari 7% ke 70% pasar, mental availability tiga elemen kunci, 7 aturan brand growth, 3 mitos yang dibantah, plus pelajaran actionable untuk UMKM Indonesia.
Konteks Riset
Asal Usul Whitepaper Ini
Byron Sharp menerbitkan How Brands Grow (2010) dan How Brands Grow: Part 2 (2016), dua buku yang mengguncang dunia marketing karena membantah keyakinan yang dipegang puluhan tahun. Salah satu keyakinan yang dibantah adalah: "kunci tumbuh adalah pelanggan setia."
Whitepaper "Target the (Whole) Market to Grow Your Brands" diproduksi oleh thinktv bersama MediaCom Business Science. Tujuannya: menerjemahkan prinsip Byron Sharp ke dalam bahasa perencanaan media. Karena kalau prinsipnya benar bahwa brand harus reach seluruh pasar, maka pilihan media sangat mempengaruhi.
Whitepaper ini penting untuk orang awam karena ia menjelaskan prinsip Sharp dengan bahasa praktis dan contoh nyata. Tidak perlu membaca 300 halaman buku. Cukup pahami empat prinsip kunci dan tujuh aturan brand growth yang akan kita bahas di artikel ini.
Navigasi
Daftar Isi Artikel Ini
8 bagian untuk memahami strategi penetrasi dan reach
Penetrasi vs Loyalitas: Mana yang Dorong Tumbuh?
Ini adalah pertanyaan paling mendasar dalam marketing: apa yang membuat brand tumbuh? Apakah menambah pelanggan baru (penetrasi), atau membuat pelanggan existing beli lebih sering (loyalitas)?
Byron Sharp memberikan jawaban tegas: penetrasi. Brand tumbuh terutama dengan menarik pembeli baru, bukan dengan membuat pelanggan setia beli lebih banyak. Alasannya ada tiga:
Alasan 1: Pelanggan Setia Jumlahnya Sedikit
Top 20% pembeli hanya sekitar 20% dari basis pelanggan. Sekelompok kecil orang, berapa pun Anda layani mereka, dampaknya terbatas pada total penjualan.
Alasan 2: Pelanggan Berat Sudah Beli Banyak
Seseorang yang sudah beli 20 kali setahun punya keterbatasan untuk beli lebih. Mereka sudah hampir maksimal. Ruang tumbuh dari kelompok ini sangat kecil.
Alasan 3: Pelanggan Seti Tidak Setia Selamanya
57% konsumen punya lebih dari satu kartu kredit. 49% pembeli permen karet konsumsi lebih dari satu brand. 40% pembeli pizza beli lebih dari satu brand. Pelanggan Anda juga beli kompetitor. Loyalitas tidak sekuat yang Anda kira.
Bukti terkuat datang dari IPA (Institute of Practitioners in Advertising) lewat riset Binet dan Field. Mereka menganalisis ratusan kampanye marketing dan menemukan: penetrasi tiga kali lebih mungkin menjadi pendorong utama pertumbuhan dan profit dibanding kampanye berbasis loyalitas.
Lebih spesifik: 22% kasus dengan fokus penetrasi melihat efek bisnis sangat besar, dibanding hanya 7% yang fokus loyalitas saja. Selisih tiga kali lipat. Ini bukan opini, ini data dari ratusan kampanye nyata.
"Most of the time when brands grow they grow through penetration, particularly through acquiring new customers and not through increasing the loyalty of existing customers."
- Binet & Field, IPA, Marketing in the Digital Age (2016)
Kenapa Target Seluruh Pasar?
Byron Sharp menulis kalimat yang harus diingat setiap pengusaha: "It is not possible to grow market share without reaching category buyers who never, or seldom buy your brand."
Artinya: tidak mungkin tumbuh market share tanpa menjangkau pembeli kategori yang tidak pernah atau jarang beli brand Anda. Ini bukan saran, ini hukum. Brand yang hanya fokus ke pelanggan existing tidak akan tumbuh market share-nya.
Era digital membuat targeting terlihat seperti jawaban: "Saya bisa target wanita 25-35 urban yang suka yoga dan minum kopi organik." Targeting seperti ini terlihat efisien, tapi justru membatasi. Karena orang yang tidak masuk kriteria itu juga beli kategori, dan mereka jumlahnya jauh lebih banyak.
Cara Lama (Salah)
Target segmen sempit yang "paling cocok" dengan brand. Iklan hanya ke orang yang sudah tertarik. Efisien di permukaan, tapi melewatkan mayoritas pembeli kategori.
Cara Sharp (Benar)
Target semua pembeli kategori. Reach seluas mungkin. Pesan yang mudah dipahami semua orang. Pertumbuhan datang dari pembeli ringan dan non-pembeli yang jumlahnya jauh lebih besar.
Banyak pengusaha takut: "Kalau saya target semua orang, budget saya habis." Tapi Sharp menunjukkan bahwa targeting sempit justru lebih mahal per hasil, karena Anda mengabaikan kelompok terbesar yang bisa beli. Reach luas dengan pesan sederhana sering kali lebih efisien daripada targeting sempit dengan pesan kompleks.
Kisah Quorn: Dari 7% ke 70% Pasar
Salah satu contoh paling jelas dari whitepaper ini adalah Quorn, produk pengganti daging dari UK. Awalnya, Quorn hanya menarget vegetarian. Pasar mereka terbatas: hanya 7% rumah tangga UK yang vegetarian. Wajar kalau pertumbuhan terbatas.
Lalu Quorn memperluas target: dari vegetarian ke orang yang tertarik makan sehat. Orang yang makan sehat mungkin beli Quorn lebih jarang dari vegetarian (mereka masih makan daging), tapi jumlah mereka jauh lebih besar: 70% rumah tangga UK.
Hasil Quorn
7% → 70%
Perluasan target pasar
+62%
Pertumbuhan kategori
Tambahan £6,8 juta dalam penjualan. Pembeli sehat beli lebih jarang, tapi karena jumlahnya 10x lipat, total penjualan jauh lebih besar.
Pelajaran dari Quorn: jangan batasi brand Anda ke segmen terkecil yang "paling cocok". Perluas ke orang yang mungkin beli lebih jarang tapi jumlahnya jauh lebih besar. Inilah cara brand tumbuh secara signifikan, bukan bertumbuh sedikit demi sedikit di segmen sempit.
Untuk UMKM Indonesia, contoh nyata: penjual kopi specialty yang awalnya hanya target "coffee enthusiast" bisa memperluas ke "orang yang butuh kopi untuk kerja". Coffee enthusiast beli lebih sering, tapi orang yang butuh kopi kerja jumlahnya 100x lebih banyak.
Mental Availability: Tiga Elemen Kunci
Sharp menemukan bahwa pembeli lebih cenderung membeli brand yang mereka ingat, baik sadar maupun tidak sadar. Ini disebut mental availability. Dan mental availability memainkan peran kritis dalam menumbuhkan penetrasi pasar.
Mental availability terdiri dari tiga elemen yang harus bekerja bersama:
1. Salience
Brand harus mudah diingat. Bukan sekadar dikenal, tapi mudah muncul di pikiran saat orang butuh kategori.
2. Banyak Situasi
Brand harus teringat di sebanyak mungkin situasi. Konsisten membangun dan menyegarkan struktur memori di berbagai momen.
3. Reach
Brand harus diingat oleh sebanyak mungkin orang. Bukan hanya pelanggan setia, tapi seluruh pembeli kategori.
Iklan adalah alat utama membangun mental availability. Cara kerjanya: membangun dan menyegarkan struktur memori yang berkaitan dengan brand. Setiap kali iklan Anda muncul, otak konsumen menyegarkan asosiasi antara brand dan situasi tertentu. Semakin sering disegarkan, semakin kuat asosiasinya, semakin tinggi mental availability.
Inilah mengapa konsistensi sangat penting. Ganti pesan, logo, atau aset brand terus-menerus justru merusak struktur memori yang sudah dibangun. Setiap perubahan adalah reset dari nol.
Reach: Mengapa Jangkauan Seluas Mungkin
Penetrasi pasar, menarik pembeli ringan dan non-pembeli, serta membangun mental availability, semuanya membutuhkan satu hal: reach. Jangkauan ke sebanyak mungkin orang.
Whitepaper ini menunjukkan bahwa TV memiliki reach harian tertinggi (88%) dibanding radio (76%), internet (80%), dan koran (41%). Lebih penting lagi, efek iklan TV (adstock) bertahan 2,5 kali lebih lama dari channel lain. Artinya satu iklan TV terus memberi dampak berminggu-minggu setelah ditayangkan.
Catatan untuk Konteks Indonesia
Whitepaper ini menggunakan data Kanada, di mana TV masih dominan. Di Indonesia, pola reach mungkin berbeda: TV juga kuat, tapi kombinasi TV + digital + OOH sering lebih efektif. Prinsipnya tetap sama: reach seluas mungkin ke seluruh pembeli kategori, bukan target sempit. Untuk UMKM dengan budget terbatas, reach bisa lewat Instagram, TikTok, WhatsApp Business, atau partisipasi bazaar. Yang penting luas, bukan dalam.
Yang juga penting: TV (dan media reach tinggi) meningkatkan performa channel lain. Saat iklan TV tayang, search query naik 17%, kunjungan website naik 25%, sentimen sosial naik 18%. Artinya reach tidak bekerja sendiri, ia mengangkat semua aktivitas marketing lainnya. Inilah mengapa Sharp menekankan: mulai dengan media reach terbesar dulu, baru tambahkan yang lain.
3 Mitos yang Dibantah Riset Ini
Mitos 1: "Kunci Tumbuh adalah Pelanggan Setia"
Salah. Penetrasi tiga kali lebih mungkin mendorong pertumbuhan dibanding loyalitas. Pelanggan setia penting untuk dipertahankan, tapi mereka bukan sumber pertumbuhan. Mereka jumlahnya sedikit dan sudah beli maksimal. Pertumbuhan datang dari pembeli baru.
Mitos 2: "Targeting Sempit = Efisien"
Salah. Targeting sempit terlihat efisien karena biaya per orang murah, tapi ia melewatkan mayoritas pembeli kategori. Brand yang tumbuh justru menarget seluruh pasar. Quorn membuktikan: perluasan dari 7% ke 70% pasar menghasilkan pertumbuhan 62% dan tambahan jutaan pound.
Mitos 3: "Loyalitas = Pertumbuhan"
Salah. Loyalitas penting, tapi bukan strategi tumbuh. Pelanggan setia Anda juga beli kompetitor (57% punya multiple kartu kredit, 40% beli multiple brand pizza). Fokus hanya ke loyalitas membuat brand stagnan. Strategi tumbuh harus menjangkau pembeli ringan dan non-pembeli.
Tujuh Aturan Brand Growth
Whitepaper ini diakhiri dengan Seven Rules for Brand Growth dari Byron Sharp. Ini adalah rangkuman prinsip yang harus dipegang setiap pengusaha yang ingin brand-nya tumbuh:
Aturan 1: Terus Jangkau Semua Pembeli Kategori
Komunikasi dan distribusi harus menjangkau semua pembeli kategori. Hindari menjadi senyap (silent). Brand yang menghilang dari mata konsumen akan dilupakan.
Aturan 2: Pastikan Brand Mudah Dibeli
Komunikasikan bagaimana brand cocok dengan kehidupan pengguna. Jangan buat orang bingung "untuk siapa" produk Anda. Semua orang harus merasa bisa membeli.
Aturan 3: Pastikan Brand Diperhatikan
Tangkap perhatian dan fokus pada brand salience untuk mempriming pikiran pengguna. Brand yang tidak diperhatikan tidak akan diingat.
Aturan 4: Segarkan dan Bangun Struktur Memori
Hormati asosiasi yang sudah ada yang membuat brand mudah diperhatikan dan mudah dibeli. Jangan rusak apa yang sudah berjalan.
Aturan 5: Ciptakan dan Gunakan Aset Brand Distinctif
Gunakan isyarat sensoris (warna, bentuk, suara, slogan) untuk diperhatikan dan tetap top of mind. Aset distinctif adalah jembatan neural dari touchpoint ke pembelian.
Aturan 6: Konsisten
Hindari perubahan yang tidak perlu, sambil tetap membuat brand segar dan menarik. Konsistensi bukan berarti bosan, tapi berarti tidak merusak aset yang sudah dibangun.
Aturan 7: Tetap Kompetitif
Pastikan brand tetap mudah dibeli dan jangan beri alasan untuk tidak dibeli (misalnya dengan menarget kelompok tertentu saja). Targeting sempit adalah alasan orang tidak membeli.
Kesimpulan & Pelajaran untuk UMKM
Whitepaper thinktv dan MediaCom menerjemahkan prinsip Byron Sharp ke dalam empat strategi praktis:
1. Fokus tingkatkan penetrasi pasar dengan menarik pembeli baru. Jangan habiskan semua budget untuk mempertahankan pelanggan existing. Sediakan ruang untuk menjangkau orang yang belum pernah beli.
2. Target semua pembeli kategori. Bukan hanya pelanggan setia. Pembeli ringan dan non-pembeli adalah sumber pertumbuhan terbesar.
3. Hubungkan dengan calon konsumen secara frequent. Ciptakan struktur memori yang mendorong mental availability dan brand consideration. Konsistensi pesan adalah kunci.
4. Implementasikan strategi media reach luas. Mulai dengan channel yang menjangkau paling banyak orang, baru tambahkan channel lain. Untuk UMKM, ini bisa berarti Instagram + TikTok + WhatsApp + bazaar, bukan satu channel saja.
"It is not possible to grow market share without reaching category buyers who never, or seldom buy your brand."
- Byron Sharp, How Brands Grow: Part 2 (2016)
Apa Selanjutnya?
Sekarang Anda sudah tahu bahwa brand tumbuh dengan reach luas ke seluruh pasar. Tapi pertanyaan berikutnya: bagaimana Anda tahu apakah strategi Anda berhasil? Bagaimana mengukur kesehatan brand dengan cara yang benar, bukan metrik vanity? Artikel terakhir akan membahas 6 modul mengukur brand health ala Byron Sharp.
Lanjut ke Riset 04: Mengukur Brand Health →
Disusun Oleh
Anjrah Ari Susanto, S.Psi.
Brand Builder & Learner yang fokus pada penerapan sains marketing berbasis bukti. Menyusun rangkaian artikel riset Byron Sharp untuk membantu pengusaha pemula dan UMKM Indonesia memahami strategi penetrasi dan reach yang sebenarnya.
Baca Juga
Artikel Terkait
Susun pemahaman Anda dari dasar hingga lanjut
Riset 01: Kenapa Konsumen Pilih Brand yang Dikenal
Riset Macdonald & Sharp (2000): brand awareness sebagai heuristik pilihan
Riset 02Riset 02: Mitos 80/20 Hukum Pareto 60/20
Sharp, Romaniuk & Graham (2019): pembeli ringan dorong tumbuh
Riset 04Riset 04: Mengukur Kesehatan Brand
6 modul brand tracking ala Byron Sharp
PanduanPanduan Brand Byron Sharp: 18 Prinsip Sains Marketing
Ringkasan padat How Brands Grow untuk pasar Indonesia
TutorialTutorial Brand Byron Sharp (18 Bab)
Tutorial lengkap dari teori hingga praktik brand di Indonesia
PurposeBrand "Peduli Lingkungan" Itu Omong Kosong
Mitos brand purpose vs fakta mental availability
AvailabilityBukan Salah Produk, Salah Jual
Physical availability: kenapa produk enak tapi sepi pembeli
LoyaltyProgram Loyalitas Itu Pemborosan
Double jeopardy: pelanggan ringan lebih penting dari setia
01Psikografis 01: Pintu Masuk Pikiran (CEP)
Category Entry Points & 7W framework
02Psikografis 02: Emosi sebagai Pemicu Ingatan
Spreading activation & memory cues
03Psikografis 03: Tiga Keinginan Dasar
Self-Determination Theory (Deci & Ryan)
04Psikografis 04: Nilai sebagai Momen Beli
Schwartz Value Survey & nilai Indonesia
05Psikografis 05: Karakter Brand yang Diingat
Jennifer Aaker & distinctive brand assets
StrategistBrand Bukan Cuma Logo: Cara Berpikir Brand Strategist Holistik
Holistic loop, psychographics, strategic communication, 5 fase brand
KomunikasiKomunikasi Brand yang Bekerja untuk UMKM
Psikografis, semiotika, framing, sampai trust
KomparasiSanny Freudian vs Byron Sharp: 8 Titik Tegang
Psychographics vs mental availability, plus jalan tengah UMKM
Disclaimer: Disusun oleh Anjrah Ari Susanto, S.Psi. dari hasil secara personal belajar ilmu brand Byron Sharp tim riset Ehrenberg-Bass Institute